Penulis: Kinzi Hana

Hai emak.. dipenjuru dunia, *senyum tiga jari* saya datang memang tak diundang, tapi bukan berarti saya jelangkung ya mak. 😀
Saya datang, untuk berbagi tentang dunia anak. Empat tahun yang lalu mak, saat saya pertama kali datang ke Abu dhabi. Saya sangat tercengang dengan situasi yang ada, saya fikir abu dhabi itu kota yang gersang. Ternyata kota yang indah berumput hijau dan tentu saja banyak pohon korma. Ciri khas Negara gurun.

Saya juga sempat berfikir bahwa abu dhabi hanya punya satu musim yaitu musim panas. Dan ternyata dugaan-dugaan saya itu salah semua. Abu dhabi memiliki musim panas, sedang dan musim dingin . Dan jika musim dingin tiba suhunya bisa mencapai 6-10 ‘ Celcius. Sedangkan jika musim panas suhu bisa drastic berubah menjadi 45-47’Celcius pada puncak musim panas.
Tidak hanya cuaca dan alamnya yang membuat saya tercengang. Saat anak sulung saya pertama sekolah, saya sudah diwanti-wanti oleh teman agar anak saya berhati-hati.

“Loh , di sekolah kok harus hati-hati” ya begitulah . Anak- anak biasanya mendapat perlakuan yang tidak mengenakan saat pertama sekolah disini. Mungkin karena sebagian dari penduduk asli berperangai keras.  Biasanya anak-anak yang baru masuk sekolah akan ada saja yang menjahili. Lunch box yang dimasuki pasir, pencil yang diambil tanpa permisi. Dan lain-lain. Dan teman saya menyarankan, Lawan saja jika ada yang jahilin, terus laporkan kepada guru.

Karena sekolah mengerti akan kenakalan anak didiknya , sekolah pun sudah memberi peringatan tertulis dan tidak tertulis. Bahwa setiap anak yang merasa di jahili silahkan melapor pada sekolah.

Anak sulung saya Zidan, Alhamdulillah anak yang penurut dan suka bergaul. Dia santai saja walau belum ada orang yang dia kenal. Zidan juga belum fasih berkomunikasi dalam bahasa inggris. Tetapi anak-anak itu cepat sekali belajar hanya dalam hitungan beberapa bulan zidan sudah bisa ngobrol memakai bahasa inggris.
Kendala bullying yang saya takutkan pun tidak berlangsung lama. Zidan memang pernah cerita dia sering sekali diambil pinsilnya, didorong sampai jatuh disiram air tanpa alasan dan lain-lain. Karena belum lancar bahasa maka dia diam saja. Saya pun sedih mendengar nya, saya tahu sebenarnya zidan ingin melapor tapi kendala bahasa. Lalu saya minta Zidan untuk sabar dan rajin belajar agar pintar bahasa inggrisnya.

Saat bahasa sudah dia kuasai, akhirnya dia menghentikan bullying yang terjadi pada dirinya sendiri. Dengan melapor dan memberi penjelasan yang dimengerti oleh gurunya. Dia juga sudah bisa menjawab dan melawan saat anak-anak jahil itu menggangunya.

Zidan  tak lagi mendapat perlakuan jahil. Apalagi dia memantapkan dirinya karena terpilih menjadi prefect. Mendengarnya saya agak sedikit tidak percaya, tetapi setelah mendapat surat dan setiap hari sabtu dia diminta diantar kesekolah untuk rapat kelas baru saya yakin.

Benar adanya bahwa komunikasi yang baik dengan bahasa yang baik, adalah cara baik untuk meyelesaikan masalah. Kadang kekerasan tidak harus dibalas dengan kekerasan.