Ditulis oleh: Mak Lusi Tris – www.beyourselfwoman.com

**

Senang sekali Kumpulan Emak Blogger (KEB) sebagai media partner Aksi untuk Borobudur diundang menghadiri Kelas Heritage dengan tema #ForBorobudur, yang merupakan salah satu rangkaian kegiatannya, pada tanggal 29 Mei 2016 lalu. Kelas Heritage ini dikemas dalam bentuk wisata edukasi yang didukung penuh oleh Balai Konservasi Borobudur dan diorganisir dengan baik oleh Yogyakarta Night at The Museum (@malamuseum).

Jika selama ini emak dan keluarga ke Borobudur sekedar untuk tahu seperti apa yang ditulis dalam buku sekolah dan foto-foto, sebenarnya masih banyak yang bisa kita lakukan dan pahami lebih mendalam. Dengan pengetahuan ini, pengunjung diajak lebih menghargai dan ikut merawat Borobudur yang merupakan warisan bagi peradaban dunia. Borobudur bukan hanya milik bangsa Indonesia atau cuma warga Magelang, tapi juga ikut mewarnai perkembangan budaya dunia. Melihat skalanya yang sedemikian besar dan penuh perhitungan, tak mungkin Borobudur hanya dibuat oleh kerajaan biasa. Fakta tersebut sampai sekarang masih terus dipelajari. Lebih membanggakan lagi, metode restorasi Borobudur dijadikan model bagi restorasi candi-candi terkenal lain di Asia Tenggara seperti Angkor Wat.

Umumnya wisatawan datang ke Borobudur sebagai rangkaian wisata ke Yogyakarta. Setelah booming AADC2, mungkin ditambah sekalian ke Gereja Ayam dan Punthuk Setumbu. Dengan demikian, waktu untuk menjelajahi Borobudur menjadi terbatas. Apalagi jika datang siang hari dan kepanasan, pengunjung buru-buru ingin menyudahinya. Tahu nggak, waktu terbaik untuk datang ke Borobudur menurut mas Bambang dari Balai Konservasi Borobudur yang mendampingi kami adalah jam 15.00, dimana matahari sudah condong dan hawa lebih sejuk.

For Borobudur 4

Jika emak dan keluarga punya waktu luang lebih banyak atau sekolah anak-anak ingin suasana yang lebih edukatif selama berwisata, bisa menghubungi Balai Konservasi Borobudur terlebih dahulu untuk mengkonfirmasi kehadiran dan apa saja yang dibutuhkan. Kantornya terletak disebelah Manohara. Jika dari pertigaan depan pintu gerbang Borobudur, belok kiri. Alamat lengkapnya:

Balai Konservasi Borobudur

Jl.Badrawati Borobudur Magelang 56553

Telp. (0293) 788175,788225

Fax. (0293) 788367

www.konservasiborobudur.org

[email protected]

[email protected]

Ketika tiba, rombongan kami langsung diajak masuk ke kawasan candi untuk diajak mengetahui cara merawat candi. Kami diberi sapu kecil, sikat dan serok sampah mini untuk simulasi cara membersihkan candi yang paling mudah. Tentu kami yang hanya 50 orang ini tak bisa memberikan hasil bersih-bersih yang signifikan pada Borobudur. Apalagi ini hanya simulasi singkat saja. Tapi kami mempunyai tanggung jawab untuk menyebarkannya agar pengunjung memahami sulitnya merawat Borobudur.

Ada dua cara utama membersihkan Borobudur, yaitu cara kering seperti yang kami lakukan dan cara basah. Cara menyikat batu candi tidak boleh terlalu bersemangat, ikuti alurnya. Sedangkan cara basah menggunakan semprotan air yang tekanannya telah diatur agar tidak mengikis struktur batu.  Pembersihan tersebut tidak dilakukan pada reliefnya agar bentuknya awet. Sedangkan menggunakan angin tidak dilakukan karena debunya menempel diantara batu dan melekat.

For Borobudur 3

Gangguan utama candi adalah lumut karena lumut dapat melunakkan batu dan merusak bentuknya. Karena itu, jika teman-teman naik Borobudur lalu keringetan, jangan sekali-kali menyentuh relief karena kondisi lembab bisa menyebabkan pertumbuhan lumut. Memang, setelah kecapekan naik Borobudur penginnya pegangan, usahakan untuk memegang bagian candi yang lain.

Yang pasti jangan memanjat relief. Ini dari saya kecil sampai sekarang tetap saja kebandelan tidak berkurang, bahkan bapak-bapak juga melakukannya. Lebih takjub lagi kemarin ada sekelompok ibu-ibu yang mengenakan dress code dan berdandan cantik khusus datang untuk foto-foto. Mereka dengan antusiasnya naik ke sisi yang dilarang demi foto. Jangan ditiru ya, mak. Selama itu pula, ada teman rombongan yang sekalian memungut sampah. Meski sedikit, tapi kok ya tetap ada saja bekas kemasan minuman dan tisu. Padahal meski sebuah candi, petugas tetap meletakkan tempat sampah yang bentuknya disesuaikan dengan nuansa candi agar tidak merusak suasana.

Saluran air juga menjadi masalah serius karena Borobudur terletak di bukit. Drainase harus lancar. Pada masa pembuatannya, hebatnya itu sudah dipikirkan sehingga ada lubang-lubang saluran pembuangannya. Terlebih penampang irisan Borobudur menunjukkan bahwa sebagian besar material yang dijadikan penyangga agar Borobudur bisa menjulang tinggi itu berupa tanah urug, yang berarti tidak sesolid tanah biasa. Itu juga menimbulkan pertanyaan lanjutan, darimana tanah sebanyak bukit kecil itu diperoleh dan bagaimana mengangkutnya?

Setelah itu, kami diajak mengenal bagian-bagian dari Borobudur, yaitu Kamadhatu (hawa nafsu) Rupadhatu (ranah berwujud) dan Arupadhatu (ranah tak berwujud).  Mungkin ini sudah didapat emak dan anak-anak dari bangku sekolah. Tapi yang menarik di sini adalah usaha Balai Konservasi untuk mempopulerkan kisah-kisah dalam relief agar masyarakat lebih punya rasa memiliki. Contohnya kisah fabel  tentang pengorbanan seekor kelinci yang dijadikan buku untuk anak-anak dengan judul Jataka. Mas Bambang juga secara khusus menunjukkan relief Karmawibhangga dimana melambangkan hukum sebab akibat. Jadi kalau emak-emak pengin cantik, mas Bambang berpesan agar menjauhi hobi bergunjing.

For Borobudur 7

Dari Borobudur, barulah kami diajak ke Kantor Balai Konservasi Borobudur. Kantor ini bersih dan nyaman. Ternyata di dalamnya ada museum yang merekam semua yang telah dilakukan untuk merestorasi Borobudur. Banyak kisah seru di sana. Indiana Jones lewat deh. Antara lain adalah kisah tentang penggaliannya untuk pertama kali, sempat ditinggalkan dan terbengkalai karena masalah politik, pernah diambil berbagai bagiannya untuk hadiah negara lain dan tak lupa jadi ladang para pemburu artefak ilegal. Arca yang berhasil ditemukan tak otomatis bisa dipasang tapi harus dipastikan kembali ke tempat yang benar. Pernah hanya berhasil memasang satu arca saja dalam setahun.

Dari barang-barang peninggalan berupa peralatan penelitian dan lapangan, tampaklah bahwa restorasi Borobudur melibatkan berbagai disiplin ilmu, tidak hanya dari ahli sejarah atau arkelog saja, tapi juga arsitektur, kimia dan geologi. Kalau mas Bambang sendiri adalah lulusan sastra UNS. Saya sempat mencoba peralatan lucu bernama stetoskop saku yang membuat kita bisa melihat obyek foto yang sangat kecil.

For Borobudur 6

Tak semua peninggalan yang dipamerkan boleh dipegang. Ada beberapa kita buatan Belanda yang dikurung dalam kotak kaca karena sudah rapuh. Jika ingin membacanya, pihak pengelola sudah membuat versi digitalnya.

Selesai kelas heritage kami merasa betapa beruntungnya bangsa Indonesia memiliki warisan berupa Borobudur ini. Namun jika kita tidak punya kesadaran untuk bersama-sama menjaga, maka warisan tersebut akan cepat rusak dan musnah.