5 Modal Menjadi Seorang Penulis Konten Profesional

By Carolina Ratri on January 24, 2017

Berawal dari sebuah email, seseorang menawari saya menjadi penulis konten artikel seputar pariwisata Indonesia. Beliau minta saya untuk mengisi webnya minimal dua kali sehari dengan artikel orisinil, panjang, dan SEO friendly. Fee-nya? Lumayanlah. Per artikelnya dihargai dolar, meski dia orang Indonesia. Bayarnya pakai paypal, yang sampai sekarang masih saya diemin aja di sana. *Sambil komat kamit, seandainya ada bunga diberlakukan untuk setiap simpanan di Paypal*

Pada kesempatan lain, seseorang juga pernah mengirimkan email pada saya, mengajak kerja sama. Beliau merupakan seorang webmaster untuk sebuah grup penerbitan buku yang cukup besar, meski bukan yang terbesar. Kerja samanya lebih banyak, karena selain saya diminta menjadi penulis konten untuk 3 web lini penerbitannya, saya juga dikirimi buku-buku secara teratur tiap bulan untuk saya review di blog khusus buku saya. Konten yang saya tulis topiknya seputar dunia pendidikan, dan dunia anak. Fee-nya? Meski lebih sedikit dari yang dolar, tapi saya senang-senang saja menerimanya. Lumayan. Buat tambah beli jajan. Toh, masih masuk dalam time frame kerja saya.

Lalu, berbagai kesempatan lain juga datang. Yang terbesar, adalah ketika seorang entrepreneur startup mengirimkan inbox facebook pada saya. Lagi-lagi untuk urusan mengisi konten, dan sekaligus mengelola konten-konten tersebut.

Menjadi penulis konten jangan dibayangkan yang enak-enak saja. Yang saya sebutkan di atas, memang adalah hasil yang didapat. Tapi saat menjalaninya, nggak ada yang tahu betapa saya jumpalitan untuk memenuhi target. Apa saja yang sih yang dikerjakan?

Saya akan share dengan Emaks. Kita buka-bukaan aja deh. Eh, bukan baju yang dibuka, Maks! *tutup mata* tapi soal usaha untuk menjadi seorang penulis konten profesional.

 

Bahwa, untuk menjadi seorang penulis konten, Emaks perlu mempunyai modal sebagai berikut

5 Tool untuk Mengukur Performa Media Sosial Kita

1. Harus rajin membaca

Nggak ada orang yang benar-benar menguasai semua topik. Betul nggak, Maks?

Emaks barangkali jagoan soal nulis hal-hal seputar parenting. Emaks menuliskan semua yang Emaks tahu di blog Emaks.

Tapi, ketika Emaks memutuskan untuk menjadi seorang penulis konten komersial dan profesional, semua yang tadinya keahlian Emaks itu bisa jadi nggak ada yang terpakai. Para penyewa jasa penulis konten yang menyewa jasa Emaks nggak akan pilih-pilih konten yang sesuai dengan keahlian kita, Mak. Mereka akan kasih topik dan kerjaan yang sesuai dengan yang mereka butuhkan.

Dan, masalah pun datang, ketika yang mereka butuhkan ternyata adalah hal yang sama sekali kita nggak tahu.

So, mau menjadi seorang penulis konten yang sukses? Maka harus rajin membaca. Harus rajin memperluas wawasan. Harus serba tahu. Mungkin harus tahu dari mulai gosip artis sampai soal politik.

Percayalah, jika kita memilih-milih topik yang ingin kita tulis, maka kita akan kalah bersaing dengan yang lain.

2. Harus paham berbagai gaya penulisan

Ada beberapa gaya penulisan yang minimal harus kita pahami, jika ingin menjadi seorang penulis konten profesional dan komersial:

  • News writing: gaya menulis untuk berita aktual
  • Copywriting: gaya menulis untuk iklan atau advertorial
  • Personal writing: yang ini kayak di blog kurang lebih, Maks, jadi ada rasa personal si penulis. Mungkin ada pengalaman atau opini pribadi penulis yang juga diungkapkan.
  • In-depth writing: biasanya ini untuk menganalisis suatu masalah atau topik secara mendalam, ada data, ada penjabaran masalah, penyebab, sampai solusi.

Bagaimana caranya mempelajari semua gaya menulis itu? Ya, praktik, Maks. Saat sedang membaca sesuatu, amati gaya penulisannya. Catat hal-hal yang berkaitan dengan teknik menulisnya. Lalu, praktikkan di blog. Kebetulan, blog saya yang terdahulu saya jadikan ajang untuk belajar berbagai gaya penulisan. Jadi ya, memang punya blog gado-gado itu memang harus dimanfaatin. Betul? 😀

3. Harus mau susah payah riset

Untuk menulis satu topik, hanya bereferensikan satu artikel saja nggak cukup, Maks. Kita harus banget mencari referensi lain untuk bisa mendukung tulisan kita.

Saya sendiri biasanya akan mencari 4 – 5 artikel lain yang sejenis untuk meyakinkan bahwa yang saya tulis itu benar dan nggak menyesatkan pembaca. Kadang juga ngalamin, sudah baca 3 artikel, tiba-tiba saja angle penulisan saya berubah, gara-gara ada hal yang saya temukan saat riset tersebut. Saya juga sering bertanya pada orang-orang yang sekiranya saya anggap tahu, untuk bisa menambah bahan tulisan.

Sering juga sih, udah niat nulis, riset sana sini, bingung, pusing. Terus mandek. Writer’s block. Hahahaha. Aduh, jangan ditiru. Tapi yah, kayaknya kondisi demikian ya lumrah saja sih terjadi pada penulis mana pun ya. Jangan tanya deh gimana cara saya mengatasinya. Karena tergantung penyebab writer’s block-nya juga.

Kayak yang saya diminta untuk menulis artikel mengenai dunia pendidikan itu, walah … mana saya ngerti. Tiap hari pan saya cuma antar anak sekolah, pulang jemput. Di rumah saya tungguin belajar ini itu. Mana ngerti saya mengefisiensikan waktu mengajar di kelas, serba-serbi menyusun soal ulangan. Hahahaha *ketawa setres* Artikel pendidikan yang benar-benar bisa memuaskan di internet juga ternyata kurang banget. Untung ada teman guru yang mau ditanyai.

Fyuh!

4. Harus fleksibel

Saat kita menulis di blog, bisa saja kita suka-suka. Mau nulis alay juga terserah saja.

Tapi, ketika kita menulis untuk orang lain, kita harus bisa menulis sesuai dengan pesanan. Mau pakai bahasa gaulkah? Atau bahasa formal? Harus sesuai EBI-kah? Bahasa SEO friendly pun beda lagi. Karena kadang kita sudah pakai istilah yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, eh ternyata, nggak ada yang nyari kata tersebut di search engine.

Misal nih, Maks, kata “utang” adalah kata yang baku sesuai dengan KBBI. Tapi, ternyata, kalau Emaks diminta untuk menulis artikel SEO friendly, kata yang lebih populer adalah “hutang”, bukan “utang”. Kata “utang” tingkat popularitasnya di search engine sangat rendah!

Huhuhu. Pusing pala Emak Barbie. *lalu curcol*

Jadi, kita memang harus bisa fleksibel, menyesuaikan diri dengan pesanan klien. Harus mau berubah-ubah “kepribadian” dalam menulis.

 

5. Harus paham, bahwa menulis itu nggak cuma menulis doang

Menulis konten itu banyak yang harus dipikirkan, Maks. Misalnya saja nih, kita harus pinter-pinter menyisipkan kata kunci seperti yang diminta oleh klien. Atau harus bisa mewakili “suara” si brand-nya, jika kita diminta untuk copywriting produk brand tersebut. Atau harus tahu ke mana mencari data, jika kita diminta menulis in-depth article mengenai satu masalah.

 

Iya, gitu deh, Maks, artikel semi curcol saya di web Kumpulan Emak Blogger kali ini. Meski masih saja sering ditanyain, “Kok di rumah saja? Enak banget!” yang kadang bikin hati gondok, tapi ya, saya tetap hepi menjalaninya. Hahaha.

Apakah Emaks ada yang berprofesi sebagai penulis konten seperti saya?

Yuk, Maks, ikutan curcol di kolom komen. Biar saya ada temennya. #eh

 

Comments (27)

January 25, 2017

Waaa…pingin bangeeett… Rmang bener sih maks, saya sering ajdi bunglon kalau lagi nulis


January 25, 2017

Iya Mak. Part timer, sih. Berkat ngeblog juga.
Saya ditawari sebuah NGO utk menulis di majalah dan website mereka, khusus kalau ada kegiatan kerja sama NGO itu dengan Unicef. Sangat menantang dan menarik. Awalnya, saya dibuat pusing (betulan pusing) dalam menyusun kata-katanya. Alhamdulillah, lama-kelamaan terbiasa. Seperti yang Mak Carra bilang, saya harus tahu ke mana mencari data dan sumber rujukan lain. 🙂


January 25, 2017

Wah, repot juga yaa kalau harus berubah “kepribadian” demi tuntutan klien. Ada gak yaa klien yg “menerima kita apa adanya” ? Hihi..

Terima kasih sudah curcol mak, nambah ilmu buat bekal jd content writer, insha allah.


Ah… ternyata menjadi content writer itu gak mudah ya.
Harus menyesuaikan diri dengan keinginan klien dan juga target pembacanya si klien ya. Makasih sharingnya mbak Carra


January 26, 2017

emak2blogger. aku mau dunk jd content writer kyk emak, udah baca2 buku, riset, boleh dunk kerja sama dengan emak. silahkan lihat blog saya di pipitfebri.blogspot.com


January 26, 2017

Inspiratif.. blog saya kayaknya udah jadi sarang laba2 deh saking lamanya dianggurin hehe.. tq mbak carra untuk share ilmunya tambah semangat buat nulis2 lagi di blog *kalo ga rempong ma urusam baby..xixi..


January 26, 2017

Nah ini, belajar beragam gaya kepenulisan ya. Saya lagi butuh ini nih. Meski belum kunjung praktek


January 27, 2017

Modal jadi content writer itu berarti kudu punya skill ‘kepribadian ganda gitu ya mbak….. ^^

Betewe….. Matursuwon artikelnya. Nambah ilmu (lagi).


January 27, 2017

I feel you, mbak….apalagi kalau tiba2 diminta nulis artikel di luar rutinitas…hihi. langsung spanneng. enaknya ya waktunya fleksibel. banyakan ngalongnya sih kalau aq. bisa lancar banget kalau nulis tengah malam atau pagi2 buta *matapanda*. kalau siang2, statusnya bisa draft terus. hihi.

makasi ya dah nulis ini mbak…ngebantu banget…apalagi dalam hal nulis konten di luar bidang yang kita kuasai…hiks… kelamaan risetnya…. btw, soal pendidikan boleh share2 nanti kita mbak… gini2 aq masih nyambi ngajar juga…hihi *lah curcol*


January 27, 2017

Memang harus sering baca ya mbak…sukses ya mak


January 27, 2017
Amerinny

Ternyata content writer memang ga gampang berarti harus banyak baca berita dan refensi buku ya mba


January 27, 2017

suka sama tulisan mak cara yang selalu keren, inspiratif dan komporable banget 🙂
sejak nganggur ga jaga toko, banyak yg nyangka aku pengangguran ga ada kerjaan, jadi suka disuruh ini itu. padahal aku pas lagi ada kerjaan job review atau buzzer. tapi mereka ga bisa ngerti… *curcol detected*


January 30, 2017

Wah, ini timingnya pas banget.

2 hari lalu dapat email yang sama. Kudu jadi bunglon ya,mak.

Etapi aku suka banget sense of humournya, mak. Emak-emak banget, getto. (^_^).


February 7, 2017

Sangat bermanfaat sharingnya maks..jujur baru tau hal2 ginian..


May 4, 2017

thankyou ilmunya mak,
Banyak baca itu kunci utama untuk merah point2 lainnya diatas


May 5, 2017

Thanks for sharing Mak. Wah pusing juga ya… Tapi biarpun pusing kalau suka sama pekerjaannya ya tetep hepi kaaan? Aku jg mau belajar banyak ah biar.. Kali aja kan someday jd content writer juga hahaaaa.


May 11, 2017

Untuk informasinya saya ucapakan terima kasih ya Mak. Smoga bisa di praktekan di blog blog yg saya buat ke depannya. Yang penting enjoy aja ya ngerjain contentnya. Thanks


July 25, 2017

lagi berproses mak… pengen banget jadi content writer, bisa update ilmu, dapet tantangan baru disetiap pekerjaannya. Doakan saya ya mak.. Hehehe


August 1, 2017

Mak Carra ini emang hebat banget. Di setiap postingannya pasti saya tersentil… ternyata jadi content writer ga gampang ya, yang pasti sy pelajari dr artikel ini adalah belajar gaya penulisan. ganbate ganbate…


February 16, 2018

Selalu brlajar dari seriap tulisan mbak carra..

Makasih mbak.


February 18, 2018

Makasih banyak kak atas ilmunya dan sangat bermanfaat banget. Saya blogger baru nih yang lagi belajar banyak menulis hehe.


February 20, 2018

TUlisan keknyah semi style In-depth Writing. Bener gak? 🙂


April 3, 2018

saya sangat ingin jadi content writer mbak, dari ulasan ini berarti langkah awal jadi content writer dimulai dari banyak membaca, memahami gaya2 kepenulisan, dan mampu melakukan riset ya mbak,

saat ini saya bekerja dengan penghasilan lumayan tapi saya masih tidak nyamann, beuhhh,,, saya ingin hobi nulis saya tersalurkan yaitu content writer


October 8, 2018
Rahma

Maks, mo nanya jadi Penulis Konten itu juga modal suara juga? Gak sekadar nulis? Musti pinter editing voice kah?

Aku mau melangkah tapi ragu.


October 15, 2018

Ruwet ya mak. Hiks ..


October 16, 2018

Harus belajar berbagai gaya penulisan sepertinya. Makasih infonya mak


January 10, 2019

Banyak modal yg harus dimiliki ya mak untuk jd seorang penulis konten. Dan kerjaannya pun nggak semudah membalikkan telapak tangan. *pyuh. Makasih sudah berbagi ya, mak.


    Leave your comment :

  • Name:
  • Email:
  • URL:
  • Comment: