“Jaman sekarang persaingan blogger, dunia blogging, ketat banget. Delapan tahun yang lalu mah enak, sekali datang ke event dibayarnya gede,” kata seorang blogger dalam satu obrolan sepulang dari event.

Saya pun membayangkan delapan tahun yang lalu. Tepatnya sih sepuluh tahun yang lalu, ketika pertama kali saya membuat blog di wordpress. Gara-garanya, tulisan saya berjudul “Mengenal Blog dan Blogger” dimuat menjadi artikel utama di Harian Kompas Anak -sekarang sudah tidak terbit lagi. Masa nulis tentang blog tapi enggak punya blog ? Apalagi untuk membuat tulisan tersebut, saya mencari data dan mewawancarai blogger cilik terkenal bernama Iyo.

Pada saat itu lagi happening bikin blog di multiply dan di geocities milik Yahoo. Saya sempat lho punya blog di geocities. Untuk update halaman kudu bikin satu-satu pakai bahasa pemrograman HTML. Agak ribet sih. Setelah googling, ternyata ada platform blog berbasis CMS yang user friendly yaitu wordpress. Mau masukkin foto, tinggal klik sana sini. Mau ngatur font, tinggal diatur aja mau pakai yang mana. Jadi, nge-blog ya cukup mikirin mau nulis apa.

Nge-blog di jaman itu belum seperti sekarang. Masih berbau tsyurhat dan tujuannya hanya untuk posting lalu lupakan. Tiap kali ada yang komen di blog, enggak langsung dibalas. Bisa sebulan atau dua bulan kemudian. Setelah menikah di tahun 2012, saya berganti alamat blog. Dari yang embel-embelnya ‘nona’ menjadi ‘bojo’. Alasannya, karena ‘sudah berganti status’. Tujuan blogging masih tetap tsyurhat terutama pada masa-masa kehamilan.

Blogging, Terapi Jiwa

Dari facebook, saya tahu ternyata blogging itu ada komunitasnya. Saya pun bergabung dengan Kumpulan Emak Blogger (KEB) di Facebook. Bergabung dengan KEB, saya lebih banyak menjadi silent reader karena belum tahu manfaat lebih dalam dunia blogging. Hiks.

Tahun 2016, gara-gara ikutan workshop blogging yang diadakan Tabloid Nova -dengan narasumbernya Mak Annisa Steviani- di Birdcage Restaurant, saya pun tercerahkan.

Selama setahun ini saya aktif di berbagai komunitas blogger termasuk KEB, entah mengikuti kegiatan online maupun offline. Blog terus menerus diperbaiki, mulai dari gaya penulisan hingga tampilan blog yang setidaknya enggak bikin sakit mata tiap dikunjungi orang. Gara-gara nge-blog juga, saya bikin akun twitter. Bahkan, saya yang enggak doyan berkompetisi pun tertarik mengikuti lomba blog. Jadi, jangan tanya apa saja manfaatnya aktif mengikuti komunitas blogger. Banyak. Buktinya, semakin banyak orang tertarik pada profesi ini.

Semakin banyak jumlah blogger artinya persaingan semakin ketat. Begitu ucapan seorang blogger. Bersaing yang dimaksud tentu urusan job. Benarkah ? Bisa ya, bisa tidak. Memang pada saat-saat tertentu harus bersaing, misalnya saat ikutan lomba blog. Bersaing dalam arti persaingan sehat ya. Di luar itu, harusnya sih saling support sesama rekan seprofesi. Apalagi syarat nge-blog kan kudu menulis dengan hati.

Nah, trus gimana cara menghadapi persaingan antar blogger ? Dari beberapa tulisan blogger-blogger senior yang saya pernah baca, berikut saya tuliskan di bawah ini :

  • Jangan biarkan blog-mu berdebu, Mak

Kapan terakhir kali update blog ? November 2017 ? Juni 2017 ?? Kalau niatnya ingin monetize blog sebaiknya sih selalu ada tulisan baru setiap minggunya di blog. Syukur-syukur bisa nulis 3x seminggu. Karena, mesin pencari menyukai blog yang selalu di-update oleh pemiliknya.

Untuk ide menulis bisa didapatkan dari pengalaman sehari-hari atau mengikuti event blogger. Karena, banyak jalan menuju Roma. Banyak cara juga supaya blog tetap terupdate dengan baik. Bisa ikutan program ODOP (One Day One Post) di komunitas sebelah atau ikutan Collaborative Blogging seperti yang dilakukan oleh KEB tahun kemarin

  • Upgrade pengetahuan seputar blog dan dunia blogging

Sepanjang tahun 2017, banyak blog yang beralih menjadi blog geser-geser. Ini sebutan saya untuk blog yang banyak menggunakan animasi bergerak. Dari mulai masuk ke halaman depan hingga pindah-pindah ke halaman lain ya pakai animasi. Enggak statis. Untuk membuat blog animasi seperti itu tentu perlu belajar.

Ah, mumet Mak liat blog kayak gitu, aku yess sama blog pribadiku yang masih statis aja. Gak mau ikut Mas Anang.

It’s okay, Mak. Dunia blog kan bukan hanya soal desain dan animasi. Ada banyak ilmu yang kudu dipelajari seputar blog. Misalnya, membuat artikel yang ramah mesin pencari, mempelajari teknik SEO dan sebagainya. Untuk men-upgrade ilmu blognya bisa melalui workshop atau tips-tips yang ditulis oleh blogger-blogger senior seperti Mak Carolina Ratri di blog pribadinya.

  • Menjaga nama baik komunitas

Saat saya masih ngantor, Kepala HRD selalu mengingatkan seluruh pegawai kantor harus selalu menjaga nama baik perusahaan dimanapun berada. Mau itu Office Boy atau sekelas Direktur ya enggak boleh neko-neko terutama di luar kantor.

Ini berlaku juga dalam berkomunitas. Ketika menerima job mengikuti event, ikuti rules-nya dengan baik. Jangan datang lima belas menit menjelang acara selesai. Enggak pernah dapat job event dari komunitas ? Jangan memaksakan diri datang ke event tanpa diundang. Kalau enggak pernah terpilih, bisa jadi ada yang kudu diperbaiki dari blog atau sosial media-mu, Mak. Atau, bisa jadi kamu kurang sesuai dengan kriteria klien. Misalnya, yang diminta ikut event itu followernya minimal 5000. Sementara, follower-mu 5500 tetapi follower beli. Kan gimana deh.

Urusan rezeki nge-blog sudah diatur sama Yang Maha Pemberi Rezeki. Think positive aja. Selain 3 hal di atas, gimana cara kamu menghadapi persaingan di dunia blogging, Mak ?

***

Persaingan di Dunia Blogger ditulis oleh Maria Soraya, dalam menyambut ulang tahun Kumpulan Emak Blogger (KEB) yang ke 6 tanggal 18 Januari 2018.

Happy birthday KEB. Semakin bijak, sukses dan menginspirasi para blogger di manapun berada.