3 Tempat Nongkrong Seru di Rangkasbitung yang Tak Lepas dari Sosok Multatuli – Pada tahu dong ya Rangkasbitung ada di mana? Ya. Rangkasbitung merupakan kecamatan, yang juga sebagai ibukotanya Kabupten Lebak Banten.

Berdasarkan sejarah, Rangkasbitung yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda merupakan kota yang cukup maju. Disebut juga sebagai Kota Satelit. Kota satelit sendiri merupakan kota penunjang kebutuhan masyarakat yang tinggal di kota besar. Biasanya ditandai dengan adanya fasilitas transportasi yang memadai. Seperti di Rangkasbitung ini, stasiun kereta dan terminal bus lintas provinsi tersedia.

Saat penjajahan, Alun-alun Rangkasbitung, pendopo dan masjid menjadi pusat kota. Karena pada masa itu, Rangkasbitung menjadi salah satu daerah keresidenan. Dan Eduard Douwes Dekker diutus ke Lebak sebagai asisten residen. Eduard juga dikenal sebagai penulis dengan nama pena Multatuli.

Salah satu bukunya yang difilmkan pada tahun 1988 berjudul Max Havelaar, berisi tentang kritikan terhadap kepemimpian yang kejam dan penuh derita bagi rakyat Lebak. Multatuli juga memiliki andil terhadap pertumbuhan sastra Hindia Belanda dan Indonesia.

Hingga saat ini, Rangkasbitung tetap menjadi pusatnya kabupaten Lebak. Dan sebagai wajah baru pihak kabupaten telah mendirikan perpustakaan dan museum. Letaknya bersebrangan dengan alun-alun. Ketiga tempat tersebut rekomen buat tempat nongkrong seru di Rangkasbitung.

  • Alun-alun

Tempat Nongkrong Seru di Rangkasbitung

 

Di sore hari dan weekend, Alun-alun akan ramai sekali. Ada yang berolahraga atau nongkrong santai bersama keluarga. Untuk anak-anak, banyak pilihan mainan seperti odong-odong, mobil electric, mandi bola dan lainnya. Bisa juga keliling Alun-alun dengan sewa sepeda atau andong.

Berbagai komunitas, menjadikan Alun-alun sebagai tempat berkumpul, berlatih dan kegiatan lainnya tergantung kebutuhan komunitas. Buat hunting foto juga bisa. Memotret kehidupan warga Rangkasbitung yang penuh kekeluargaan dan keakraban pasti bakalan keren. Foto yang berhubungan dengan ekspresi gak kalah kerennya dengan pemandangan puncak gunung. Yang penting foto memiliki cerita yang berkesan.

Selain permainan, kalau ke Alun-alun Rangkasbitung, ya berburu jajanan. Selalu tak terlewatkan. Hampir semua jajanan dilahap, seperti cireng, kentang goreng, telur gulung, cilok. Jajanan yang mengingatkan pada kenangan waktu masa SD dulu. *uhuy*

  • Perpustakaan Saidjah Adinda

Tempat Nongkrong Seru di Rangkasbitung

 

Di sebelah timur Alun-alun, ada satu perpustakaan yang bangunannya unik dan asyik buat nongkrong, sambil membaca koleksi bukunya.  Yang suka selfie bisa juga. Tapi yah, namanya juga perpustakan jangan sampai gaduh saja. Namun saat weekend, perpustakaan daerah yang beri nama Saidjah Adinda ini tutup. Buka hanya dari Senin hingga Jum’at dari pukul 07.00 s/d 16.30 WIB.

Nama Saidjah dan Adinda diambil dari tokoh karya Multatuli, yang memiliki pengaruh besar terhadap Kabupaten Lebak. Multatuli berani menentang kolonialisme dan prihatin menyaksikan masyarakat Lebak menderita atas kesewenang-wenangan dalam kerja rodi.

Saidjah dan Adinda berkisah tentang kasih tak sampai. Ceritanya bikin baper. Saidjah dan Adinda menjalani kehidupan yang pahit akibat dari ketidakadilan pemerintahan Belanda. Saidjah harus kehilangan kerbau hasil menjual barang peninggalan kakeknya, karena diambil Belanda. Hingga ayah Saidjah di bui. Saidjah memutuskan bekerja di Batavia dan terpaksa berpisah jauh dengan Adinda. Sayang, Adinda yang menanti pun harus hijrah ke Sumatera karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan bisa bertahan hidup jika terus berada di Lebak.

Kisah romance saat penjajahan selalu menarik. Karena sejarah menjadi salah satu alasan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Sekalipun sejarah itu fiktif. Karena tidak ada salahnya mengambil sesuatu yang baik dari sebuah kisah, bukan? Perpustakaan Saidjah Adinda ini menjadi tempat nongkrong seru di Rangkasbitung yang favorit.

  • Museum Multatuli

Tempat Nongkrong Seru di Multatuli

Masih berhubungan dengan Multatuli, yang pernah menjabat sebagai asisten residen di Lebak. Bangunan dinas  yang terletak di samping Museum Saidjah Adinda ini, dijadikan museum. Karena tidak ada panggar pembatas, ke Museum Multatuli bisa masuk dari pintu masuk perpustakaan, begitu pun sebaliknya. Sedangkan, dari pintu masuk museum ada sebuah pendopo yang bisa digunakan untuk kegiatan umum, misalnya workshop. Di sebelah kanan, terdapat patung dan rak buatan yang bagus untuk tempat narsis. Bangunan bernuansa jadu, yang tak kalah keren buat dijadikan latar foto.

Gedung bekas peninggalan zaman dahulu menyuguhkan keindahan tersendiri. Terkesan etnik, walau mistisnya juga muncul. Kalau Roy Kiyoshi ke sana pasti tahu penghuni di sana ada apa saja. *Kikiki* Abaikan.

Di museum ini terdapat novel Max Havelaar edisi pertama yang masih berbahasa Perancis. Memegang buku yang berusia puluhan tahun pasti luar biasa senangnya. Apalagi sang pencipta orang yang menentang kolonialisme. Walaupun Multatuli bukan asli orang Indonesia, menyaksikan ketidakadilan di depan matanya langsung, dia berani unjuk gigi. Surat-surat yang disampaikan ke atasannya mengenai kesewenang-wenangan pemimpin Lebak masih ada di museum. Keren ya.

Jangan menilai buku dari sampulnya saja. Jangan menilai seseorang dari luarnya. Tapi kenali dulu semuanya baru bisa menilai.

Berkunjung ke museum Multatuli mendekatkan pada kisah-kisah zaman Hindia-Belanda. Menyaksikan langsung bagaimana beratnya hidup di masa penjajahan. Bersyukur kita hidup di zaman yang sudah damai. Semua itu berkat kerja keras para pahlawan yang rela menumpahkan darahnya di tanah pertiwi. Jangan lupa untuk menghargai jasa-jasa mereka ya.

Alun-alun, Perpustakaan dan Museum, memang satu kesatuan yang tidak terpisahkan di Kabupaten Lebak. Tempat bermain dan berkumpul dengan orang terkasih yang menjadi tempat nongkrong yang seru di Rangkasbitung. Tempat yang tidak sekedar melepas penat atau menebar kasih sayang, sekaligus tempat untuk mengedukasi buah hati.

So, saat berkunjung ke Rangkasbitung, jangan segan untuk nongkrong di tiga tempat di atas, ya.

***

3 Tempat Nongkrong Seru di Rangkasbitung yang Tak Lepas dari Sosok Multatuli merupakan post trigger #KEBloggingCollab kelompok Dian Sastro, yang ditulis oleh Erin Friyana.

Erin adalah Emak Blogger, pengelola blog www.tomojikan.com

Media sosial Erin:

IG : @tomoyo.rin

FB : Erin Friyana

Twitter : @RiienJ