Emak-emak bicara politik? Aih, seru. Tahun ini hingga tahun depan, adalah tahun hingar bingar. Pilkabe, eh, Pilkada dihelat di mana-mana. Umbul-umbul, banner, baliho, berisi gambar paslon bupati, walikota, gubernur, mejeng semarak. Yang laki-laki ganteng, atau tampak ganteng, atau tiba-tiba ganteng. Yang perempuan senyum manis, kulit mulus, dan (sebagiannya berpose) intelek.

Foto-foto itu tampak istimewa. Berwibawa. Ssst, hati-hati. Jangan tertipu. Nanti menyesal seperti saya. Sebab kalau bertemu dengan orangnya langsung, bisa saja jauh panggang dari api. Yang tampak kencang dan kinyis-kinyis, ternyata  sudah tua dan keriput. Yang berkulit terang dan kinclong, ternyata gelap dan kasar.

No, saya tidak sedang mengomentari kelemahan fisik mereka. Yang digarisbawahi adalah, betapa tampilan seseorang dalam ‘membranding’ diri di kancah politik rawan dengan polesan dan tipuan.

Sebenarnya tidak hanya di dunia politik saja, sih. Di media sosial (medsos), urusan pose berpose seringkali menipu. Seorang teman pernah menulis status yang kurang lebih isinya begini: “Temanku (dalam foto) kenapa tampak  cantik, ya?”  Hmm. Kalau saya dikomentari demikian, pasti malu banget. Ingat era kamera jadul yang tidak bisa diedit  bebas macam sekarang. Orang-orang yang berwajah fotogenik akan senang dipotret, sebab tampak ayu. Kalau sekarang, semua punya peluang ganteng dan cantik maksimal!

Lho, kok malah membahas urusan berpose. Mari kembali ke Pilkada.

Masa pilihan langsung membuat banyak perubahan. Rakyat yang semula hanya memilih lambang partai, sekarang memilih orang.

“Tidak ada yang kenal,” demikian kata tetangga saya. Maka dipilihlah yang dikenal, artis, misalnya.

“Susah aku dapatkan informasi mengenai dia, Mi. Aku cari-cari tulisannya, atau apa pun yang menggambarkan siapa dirinya dan apa pemikirannya,” itu kata teman lainnya  tentang para caleg di kotanya. Saat itu penggunaan sosial media belum sebooming sekarang.

Urusan memilih memang pelik. Kegiatan lima tahun sekali ini menjadi aktivitas seru-seru sedaaaaap. Kadang juga menguras energi, dan  memancing emosi. Tiga menit di bilik suara akan menentukan nasib ratusan juta rakyat negeri ini. Ini tentu bukan urusan main-main. Bukan urusan sepele. Serius pakai bingits.  Masalahnya adalah, bagaimana menyikapi pusara gonjang ganjing politik ini?

Saya dan anak-anak pernah mendiskusikan ini dengan serius. Tentu bukan diskusi serius a la professor, atau ILC. Ini diskusi  model emak-emak (lupa, saat itu berdaster atau tidak, ya?) dan anak  usia SMP dan SD. Emak-emak bicara politik, intinya.

Beberapa panduan samar-samar saya sampaikan. Mereka, yang unyu-unyu dan lucu itu, suatu waktu akan memilih. Dan saya mau, mereka memilih dengan  sadar. Sadar sesadar-sadarnya atas resiko dan tanggungjawabnya. Bukan sekedar karena euphoria kekaguman, ngefans, kebencian, ketidaksukaan yang tidak beralasan kuat dan benar.

Sebab, pertama, tidak ada aktivitas hidup yang tidak dipertanggungjawabkan. Every single part, yang besar hingga sangat kuwecil, akan ditanya dan diberi konsekwensinya di akhirat kelak. Bagus amalan, bagus pahala. Buruk amalan, buruk balasan. Poin ini, adalah poin besar yang ditanamkan pada anak-anak. Dengan harapan mereka memikirkan secara dalam apa yang dilakukan. Jika terlanjur berbuat kesalahan, segeralah berbenah.

Bukankah hidup itu adalah perlombaan? Perlombaan antara kesempatan beramal dengan kematian. Ha, seram nian. Ya kudu begitu, supaya nggak cengengesan dan merasa aman dari maut. Apakah dia presiden atau pemulung, mati itu pasti. Hidup berakhir itu niscaya.

Kedua, pilihan politik itu adalah bagian dari hidup. Tak ada yang terpisah sepenuhnya dari politik. Para penjual di pasar itu beraktivitas dengan berlandaskan  hasil  kesepakatan- kesepakatan politik. Mekanisme pasar adalah system, yang muncul dari kebijakan penguasa. Proses pendidikan itu juga buah dari proses politik. Sistem yang terbangun adalah ijtihad para pemangku kekuasaan yang juga merupakan produk politik.

Undang-undang yang berlaku adalah produk politik. Seluruh regulasi yang berjalan di sebuah negeri, langsung atau tidak langsung, adalah produk politik. Maka saya termasuk yang tidak sepakat dengan pernyataan begini: “Pelajar jangan mengurusi politik.” Wah, tidak bisa begitu. Mereka perlu dipahamkan tentang situasi politk yang berkembang agar tidak cupu, lugu, sehingga mudah dibohongi. Lagi pula, walau ‘hanya pelajar’, jika mereka sudah baligh, maka mereka mukallaf; punya beban pertanggungjawaban yang setara dengan orang dewasa lainnya.

Dipahamkan, lho ya. Minimal paham. Mau nyemplung , silahkan. Nggak nyemplung, boleh-boleh saja. Yang penting dia dapat informasi yang memadai tentang bagaimana situasi politik di sekelilingnya. Terlalu berat? Ah, nggak juga. Latih mereka berpikir serius. Supaya gak jadi cemen. Kembali lagi ke poin awal, hidup  itu serius. Jadi seriuslah menjaga kualitas hidup ini.

Dua hal besar itu cukuplah (menurut saya) sebagai basis berpikir mengapa harus hati-hati memilih.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana menentukan pilihan? Ini juga susah-susah gampang. Banyak susah daripada gampang. Pilihan didasarkan pada kecendrungan. Kecenderungan bergantung pada pemahaman, wawasan, dan pengalaman. Saya memberikan beberapa tips (samar-samar dulu) pada anak-anak. Tipsnya kapan-kapan saja.  Bukan itu fokus masalah sambel politik. Ini emak-emak bicara politik.

Menyikapi Perbedaan

Tentang Perbedaan Pilihan

 

Perbedaan  pilihan itu normal, manusiawi, natural. Beda kepala, beda ekspektasi. Beda pengalaman, beda persepsi. Walau sama-sama makan nasi. Walau sekelas, satu kost, satu geng. Walau satu rahim.

Ada pengalaman group  WA  yang saya yakin pasti banyak orang mengalami. Yaitu, berantem dan adu argumen mengenai pilihan politiknya. Kalau diskusinya sehat, tenang dan dewasa sih gak papa. Asyik dan tambah wawasan. Yang repot jika diskusinya jadi panas, emosi, dan ngawur. Biasanya begini ini sebab salah satu pihak kebablasan dan pihak lain terpancing. Repot.

Repot juga, jika diskusi tidak berimbang. Yang satu cool, membahas poin-poin argumen, yang satunya emosi dan menyerang personal. Nggak banget deh. Model begini nih jadi seperti kucing-kucingan. Yang satu bilang apa, yang lain menanggapi apa. Yang satu fokus ke utara, satunya ngibrit ke timur.

Budayakan diskusi yang sehat dan bermartabat. Hampir lima tahun melatih debat Bahasa Inggris, saya jadi belajar apa esensi berdebat yang elegan. Terutama saat menulis tentang emak-emak bicara politik ini.

Pertama, dari sisi argumen. Susunlah dengan urutan yang sistematis dan logis. Paparkan fakta dan data dengan baik. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti lawan.

Kedua,  dari sisi rebuttal alias sanggahan. Tanggapi poin-poin penting dari  argument lawan. Pahami issu besar  yang mereka angkat. Debat akan dianggap debat yang buruk ketika tidak bisa menanggapi paparan lawan dengan argumen dan data yang seimbang. Jadi, jangan lagi diskusi hanya bermodalkan kekaguman, fakta-fakta yang itu-itu saja alias tidak berkembang.

Ketiga, jangan menyerang personal. Serangan terhadap personal hanya menunjukkan ketidakmampuan dan kelemahan argumen.  Fokus pada ide dan gagasan.

Apa pun, sebenarnya asyik jika hiruk pikuk lima tahunan ini dijadikan sarana uji nyali. Nyali persaudaraan, maksudnya. Seberapa besar elastisitas pertemanan hingga dia tahan dengan berbagai benturan, dorongan, dan tarikan? Seberapa besar kelapangan dada ini menoleransi perbedaan pilihan? Menoleransinya dengan ciri-ciri ini: tidak  mengeluarkan sikap bermusuhan. Tidak sampai ngambek. Gak pakai memutuskan hubungan silaturahim.

Perbedaan dan benturan sejatinya adalah alat untuk lebih saling mengenal. Saling memahami. Kemudian berlatih saling menghormati. Paling keren, jika semakin saling menyayangi. Tetap mengulurkan bantuan pada orang-orang beda pilihan ketika mereka terkena musibah. Tetap mendoakan dengan tulus, diam-diam. Bukankah doa diam-diam itu akan mengundang malaikat mendoakan yang sama?

Jadi, hiruk pikuk politik itu, hadapi dengan gembira. Anggap si fulan pilih tomat, si fulanah pilih cabe merah, si fulan lain ambil cabe rawit. Tambah saja dengan terasi, bawang merah. Lalu uleg, dan sajikan dengan tempe atau tahu goreng hangat. Plus lalapan.

Sambel politik di depan mata, mari nikmati dengan bahagia! Mari emak-emak bicara politik tanpa tendensius.

***

Sambel Politik! Emak-emak Bicara Politik merupakan post trigger #KEBloggingCollab dari kelompok Nila F. Moeloek yang ditulis oleh Umi Kulsum.

Umi Kulsum, emak blogger yang berprofesi sebagai guru dan pengelola blog  www.ibuguruumi.com