Tren dunia digital saat ini nyaris tak terbendung lagi. Di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya, keberadaan gadget, komputer dan tablet dalam keluarga seperti sudah menjadi kebutuhan penting—bila tak mau dibilang sebagai kebutuhan primer. Apalagi sekarang, ketika anak-anak “dipaksa” untuk pembelajaran jarak jauh. Makin dekatlah anak-anak dengan gadget, sekolah pakai gadget, main gadget juga.

Tak sedikit orang tua yang kemudian melihat perkembangan perilaku ini menuju pada kerugian, terlebih pada tumbuh kembang si kecil. Komputer tablet lalu didudukkan di atas ‘kursi terdakwa’ ketika balita berkembang menjadi individu yang anti sosial.

Benarkah demikian, Mak, bahwa gadget adalah sumber masalah pertumbuhan anak? Ataukah sebenarnya tuduhan itu terlalu berlebihan? Kalau betul gadget memiliki manfaat untuk tumbuh kembang si kecil, lalu bagaimana seharusnya kita memperlakukannya? Jenis aplikasi mana saja yang baik? Yuk, kita simak artikel ini sampai selesai, Mak.

Manfaat Anak Main Gadget

Emak harus ingat, bahwa dunia sekarang sudah berbeda dengan zaman kita dulu, Mak. Selain itu, selalu ada dua sisi dalam setiap hal, termasuk perkara anak hobi main gadget ini.

Berikut ini adalah beberapa sisi positif yang bisa kita dapatkan jika anak sudah akrab dengan gadget sejak dini.

  • Menjadi lebih berwawasan, melalui beberapa aplikasi digital yang ada tersebut, ia akan lebih banyak mengenal banyak hal yang secara kasatmata jauh dari jangkauan.
  • Si kecil lebih melek teknologi. Sebuah bekal dalam menghadapi masa depan yang pastinya semakin banjir teknologi.
  • Banyak terdapat konten yang memudahkan anak belajar mengenal angka dan huruf, bahasa asing hingga seni. Dengan pendampingan orang tua, proses bermain bisa diarahkan menjadi proses belajar yang menyenangkan.

Nah, Emak mau menambahkan lagi, kira-kira sisi positif apa yang bisa didapatkan dari main gagdet ini? Jadi, main gadget itu harus dilarang? Sepertinya nggak gitu juga sih. Tetapi, harus dengan pendampingan kita, Mak.

Jadi, boleh saja sih main gadget, asalkan:

Tentukan batas waktu

Di usia bayi dan balita, mata tidak dirancang untuk melihat dalam jarak dekat dan memandang layar dua dimensi untuk waktu yang lama.

Izinkan anak bermain dengan tablet atau smartphone tak lebih dari 2 jam saja dalam sehari. Selebihnya, berikan kegiatan yang lebih banyak melatih motorik kasar dan eksplorasi benda sesuai bentuk aslinya.

Pilih aplikasi yang sesuai

Unduh aplikasi dan permainan yang memberi keuntungan pada tumbuh kembang si kecil. Misalnya, buku cerita digital yang tentunya bisa menambah kosakata, terutama dalam bahasa asing di luar bahasa ibu.

Aplikasi menggambar, mewarnai dan puzzle juga bisa menjadi pilihan yang baik untuk diunduh.

Bermainlah bersamanya

Berperanaktiflah saat Emak menemani si kecil main gadget. Ajarkan untuk mengenal ragam warna, kosakata, nama-nama binatang, juga bentuk.

Bahkan saat kita memainkan angry birds dengan si kecil pun, kita bisa kok mengajarkan banyak hal padanya. Perlakukan sama seperti ketika Emak mendongeng ataupun membacakan buku untuknya. Misalnya, dengan meminta anak untuk menyebutkan warna-warna yang ia lihat dalam aplikasi yang dimainkannya.

Nah, seperti yang sudah disebutkan, ada dua sisi dalam setiap hal. Demikian juga dengan main gadget.

Yang harus diwaspadai:

Konten negatif

Jika Emak suka menyaksikan video-video pendek dari Youtube, unduhlah fitur child lock yang tersedia khusus untuk tablet ataupun smartphone Emak. Hal ini demi menghindari si kecil secara tak sengaja menyentuh dan terhubung pada konten-konten yang belum layak dilihat olehnya.

Gelombang wifi

Pada dasarnya semua peranti yang menggunakan tenaga listrik memiliki gelombang elektromagnetik. Selain yang terdapat pada tablet dan ponsel Emak, gelombang elektromagnetik pada koneksi wifi juga dianggap sangat besar, dan bisa menghambat perkembangan sel-sel syaraf pada anak.

Jadi, jika si kecil sedang main gadget, matikan dulu koneksi wifinya, Mak. Kalau memang nggak perlu banget, coba pakai saja kuota biasa.

Gejala kecanduan

Tampilan yang menarik pada layar tablet bisa menyedot minat anak. Pengendalian diri yang kurang di usia balita dapat memicu kecanduan terhadap gadget.

Akibatnya, perkembangan si kecil di beberapa aspek, terutama aspek sosial, jadi tidak terasah. Segera atasi dengan mengurangi waktu, atau bahkan menghentikannya main gadget untuk beberapa waktu jika gejala ini mulai tampak.

Nah, Mak. Anak-anak kita memang lahir di era teknologi. Akan kurang bijaksana rasanya, jika melarang mereka sama sekali untuk mengenal berbagai teknologi yang dapat memudahkan hidup, asalkan dimanfaatkan secara bijak ini.

Kuncinya sebenarnya bukan menjauhkan, tetapi mengajarkan pada anak bagaimana menggunakan gadget dengan baik dan benar. Setuju nggak, Mak?