Alhamdulillah, orang tuaku berumur 76 dan 70 tahun. Seperti yang lumrah terjadi pada orang-orang seusia mereka, kesehatannya sudah tidak seperti ketika mereka seusia denganku walau keinginannya masih seperti dulu. Mereka masih ingin pergi ke sana kemari dan makan ini-itu.

Bisa dibilang mereka, terutama ibuku, penggemar pengobatan alternatif. Macam-macam sudah dijalani dari mulai pijat, totok, terapi setrum, homeopathy, Ceragem, reiki, dan lain-lain. Tidak hanya di dalam kota, di luar kota juga dilakukan, bahkan lebih dari sekali mereka sampai tinggal beberapa minggu di kota lain untuk terapi. Mungkin sekalian ingin tetirah. Beberapa minggu ini mereka menggandrungi terapi dari Korea, katanya, Nuga Best. Seperti biasa, aku tidak antusias saat mendengar betapa ibuku merasa cocok dengan terapi itu. Terapinya tiap hari, katanya. Gratis. Banyak orang-orang tua seperti dirinya terapi di sana. Badan jadi enak. Baguslah, pikirku, bersosialisasi dengan orang-orang sebaya juga bisa menumbuhkan semangat.

Suatu hari, ayahku menghimbau kami, kelima anaknya, untuk patungan membelikan kalung, gelang dan cincin terapi untuk ibuku yang harganya tidak murah. Apa?! Ternyata, tempat terapi itu menjual produk-produk kesehatan. Ibuku yang berhasil mengajak orang lain diterapi mendapat hadiah sebutir batu berkhasiat Turmanium. (Kok pikiranku malah membayangkan Batu Bertuah-nya Harry Potter, ya? gegegegegeggg). Konon, jika dipakai terus-menerus efeknya baik untuk kesehatan. Semakin banyak batu yang dipakai, semakin baik. Eeey? Di antara orang-orang yang diterapi, ada orang tua yang (katanya) tadinya sulit berjalan sampai harus dibantu tongkat tapi setelah tiga tahun diterapi, setiap hari, bisa berjalan tanpa tongkat. (Apa Anda teringat iklan tertentu?) Konon, memakai batu Turmanium atau Germanium setiap hari sama manfaatnya dengan diterapi di tempat itu. Nah, penyelenggara tempat terapi itu menjual batu berkhasiat yang sudah dirangkai menjadi kalung, gelang dan cincin. Eng-ing-eng. Oooo itu toh tujuannya. Pantas, baik betul mereka membuka terapi gratis, ternyata ada maunya (ya iyalaaah, memangnya ada yang gratis di dunia ini *tepok jidat*).

Ibuku yang mungkin mulai lelah (dan bosan juga) mendatangi tempat yang sama setiap hari, kontan jadi tertarik ingin memiliki perhiasan norak berkhasiat itu. “Daripada harus mondar-mandir setiap hari selama tiga tahun,” kilahnya.

Ibuku punya banyak barang-barang yang konon berkhasiat meningkatkan kebugaran bahkan sampai menyembuhkan penyakit. Kebanyakan benda-benda itu hanya bertahan sebentar di tubuh ibuku sebelum akhirnya tergeletak di sembarang tempat. Alasannya bikin aliran darah jadi terhambatlah, kalau dipakai mandi atau cuci piring harus dilepas lalu lupalah… kreatif sekali deh. Jelas aku keberatan meluluskan keinginan ibuku. Harganya mahal. Ibuku pembosan. Kalau punya pakai benda itu nanti jadi teledor tidak menjaga makanan dan kurang istirahat karena merasa punya penangkal malah jadi sakit.

Aku jadi penasaran, apa sih Nuga Best ini. Ternyata, di Filipina produk Nugabest dinyatakan “menyesatkan” oleh Departemen Kesehatan. Coba baca di sini. Seorang teman berbagi pengalamannya:

Kalau nyokap dulu setiap hari, Mbak, pergi ke ruko yg ada nuga best gratis. Katanya emang jadi enak badannya. Dan emang ditawarin alatnya yang kalau ga salah dulu harganya 20 jutaan. Tapi berhubung nyokap sealiran sama aku yg penyuka gratisan hehehe… cuma keluar ongkos angkot aja deh..lumayan lebih dari 2 bulan ikut terapi setiap hari. Malah ada bapak2 yang tadinya ga bisa jalan sekarag bisa jalan sendiri walaupun masih pakai tongkat. Bukan promosi, tapi kalau masih ada yg gratisan, diajak aja ibunya tiap hari hehe..

Hmmmm kayaknya pernah dengar deh kisah seperti itu. Teman lain berkomentar:

Suamiku selalu pakai gelang batu hitam dari Cina….katanya buat terapi penyakit apa aja…. tapi kok ya tensi sama asam uratnya tinggi…ceetttaarrrrr

Setelah kusampaikan sebaiknya tidak usah membeli produk-produk semacam itu beserta alasanku, bapakku kaget, “Apa maksudnya orang Korea itu kasih-kasih terapi dan batu gratis? Apa benar batu itu berkhasiat?”

Dari informasi yang kudapat di internet, aku menarik kesimpulan: mengenai khasiat batu itu wallahu a’lam. Tapi, banyak orang menjual benda-benda yang mengandung batu berkhasiat itu dalam kondisi bekas. Di samping itu, banyak juga yang menjual benda-benda baru dengan imbauan berhati-hati agar jangan tertipu dengan barang palsu atau barang bekas. Nah, artinya banyak orang di luar sana yang sudah tertipu membeli tapi menjualnya lagi. Kenapa? Silakan disimpulkan sendiri.

Bapakku urung membelikan seperangkat perhiasan norak berkhasiat itu untuk ibuku. Sebagai anak, tentu aku bahagia jika orang tua bahagia dan ingin orang tuanya sesehat yang bisa dicapai oleh orang seusia mereka. Ada perasaan mengganjal juga, untuk orang tua kok pelit, apa tidak ingat dulu mereka juga berusaha memenuhi keinginanku betapa pun sepelenya. Tapi, zaman sekarang banyak orang yang mencari nafkah dengan menipu, tanpa pandang bulu siapa korbannya. Aku memilih waspada.

Dina Begum
Penerjemah, anggota Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI). Bagi Dina, menerjemahkan adalah impian, kebanggaan dan hobi, sementara membaca sudah merupakan bagian dari kehidupannya.