Penulis : Lusiana Trisnasari

Kok bisa? Lha kemarin-kemarinnya belum hidup ya? Tentunya ini hanya kiasan, bahwa di umur 40 biasanya kita sudah berada dalam tahap menikmati hasil perjuangan di masa sebelumnya. Di usia 40, teman-teman saya ada yang sudah menjadi manajer kantor, kepala cabang bank bahkan ada yang sudah bergelar professor. Meski tak semua secemerlang itu, tapi paling tidak kita sudah punya benda-benda yang dulu masih kita impikan, pinjam atau cicil kreditnya. Sekarang kita sudah punya TV, mobil, sepeda motor atau rumah.
Tidak hanya soal materi, soal rohanipun kita sudah pada tahap “semeleh” atau ikhlas. Kita sudah pada tahap tidak membesar-besarkan hal-hal yang tidak terlalu penting sehingga kita bisa hidup lebih nyaman, tidak kemrungsung. Ibarat air yang dulunya selalu bergolak karena perahu sibuk didayung, sekarang sudah agak tenang karena kita memilih untuk lebih mensyukuri yang ada disekitar.
Dihari ketika saya memulai hitungan usia saya dengan angka 4 (tanggalnya rahasia), ada rasa takut yang menyergap. Bukan takut ubanan atau keriput karena rambut saya sudah mulai ubanan sejak usia 37 dan keriput juga sudah banyak karena tidak pernah ke salon dan jarang perawatan dirumah, tapi lebih kepada takut tidak bisa mengemban tanggung jawab sebagai orang yang sudah matang (belum tua ya, ingat itu). Sebagai orang dewasa, kita punya tanggung jawab untuk menjadi contoh baik bagi siapapun disekitar kita dan memiliki tanggung jawab untuk melindungi siapapun dikeluarga kita yang lebih muda dan yang sudah manula.
Kekhawatiran saya itu saya bagi dengan teman-teman KEB di BBM. Yang ikut sharing ada yang lebih muda dan ada yang lebih matang dari saya. Tapi ada satu yang membuat saya berpikir bahwa semakin bertambah usia, sebenarnya kita semakin dikejar waktu untuk berbuat baik. Meski kita tidak tahu kapan waktu kita habis, tapi di usia 40, rasanya tak banyak pula waktu tersisa.
Jadi daripada memikirkan jatah waktu, lebih baik kita berkejaran dengan sang waktu itu sendiri. Kita berlomba untuk berbuat kebaikan karena kebaikanlah yang akan membuat jalan damai kita mulus sampai berapapun angka yang mengawali usia kita, dan setelah itu kebaikan pula yang akan memudahkan jalan bagi keluarga yang kita cintai.