Penulis: Lusiana Trisnasari

Senewen sampai ubun-ubun itu bisa karena hal sepele, antara lain ketika sedang masak, anak-anak pulang dan bercerita tentang enaknya bakwan tetangga. Bakwan itu camilan sederhana, emak-emak pasti bisa membuatnya dengan variasi masing-masing. Tapi sekarang anak-anak sudah agak kenyang dan tidak perlu menunggu masakan kita. Ditambah mendengar pujian terhadap masakan tetangga itu, rasa-rasanya malas melanjutkan masak. Rasa kesal berubah terkejut karena ternyata bakwan itu tidak gratis alias tetangga diam-diam jualan bakwan. What? Kita bisa membuat bakwan yang lebih banyak jika mereka minta, tapi mereka memilih membeli dan masih memuji pula.

Sebagai emaknya, saya merasa tertantang. Maka yang saya lakukan kemudian adalah membuat bakwan yang spektakular dan banyak. Menu yang sudah dirancang hendak dimasakpun berubah. Geser semua untuk membuat bakwan lebih dulu. Setelah bakwan matang, anak-anak melongok. Mereka mengambil dan memakannya. Tanpa komentar. Seperti sebuah kewajiban bahwa jika emak memasak, maka anak-anak harus memakannya. Terpukul sih, enggak karena ini cuma masalah bakwan. Bikin sedih, iya. Bikin penasaran, banget.

Pertanyaannya, setelah sekian lama menjadi sebuah keluarga, mengapa kita tidak bisa memenangkan selera anak-anak atas bakwan? Bukankah seharusnya kita yang paling tahu selera anak-anak? Apa hebatnya bakwan tetangga?
Semua yang kita lakukan pastilah demi kebaikan anak-anak. Tapi apakah mereka menyukainya juga? Ketika kita membuat bakwan pastilah kita pilih sayuran paling segar, udang terbaik, tepung yang masih putih dan minyak yang masih jernih. Tapi nyatanya bakwan tetangga yang kualitas bahannya pasti dibawah kualitas bahan bakwan kita karena untuk dijual murah meriah, malah dipuji-puji. Apa yang keunggulan bakwan tetangga itu? Jawabnya, perisa atau pemantap rasa seperti bumbu masak (msg) atau segala macam kaldu instan yang kita hindari pemakaiannya. Rasa bakwan pasti jadi sangat gurih.

Kadang hal-hal baik memang kalah menyenangkan dengan yang sifatnya fun. Contohnya bakwan rumah dan bakwan jajan ini. Percuma saja kita senewen tapi anak-anak tidak mengerti maksud baik kita secara keseluruhan, bukan hanya soal bakwan ini saja. Sebagai emak, tantangan kita adalah kreatifitas agar tidak kalah dengan hal-hal yang bersifat fun tapi tidak membawa kebaikan. Tapi harus disadari pula, seperti percakapan antara Sandy dan Spongebob bahwa seseorang pasti punya kehebatan tapi tidak mungkin hebat dalam segala hal. Ketika bakwan tetangga ternyata lebih enak, maka saatnya bagi kita untuk mengakuinya, lalu berjuang mencari resep sehat yang bisa mengungguli enaknya bakwan tetangga itu.