Penulis: Astha

Judulnya seperti sebuah cerpen atau novel roman picisan yang sedang dibaca para gadis usia belasan menjelang dua puluh tahun yang dilanda perasaan cinta. Uhuy, terbayang jadi dah kenangan saat berada dalan kamar yang remang mendengarkan musik yang mengalun sendu, mengoreskan pena dalam sebuah kertas dan menuliskan sebuah nama yang hafal diluar kepala. Hm… sayangnya tulisan ini bukan mengarah kesuatu masa itu….*kapan ya bisa menuliskan kembali kisah lalu ups….*takut ketahuan.

Bersama seseorang yang begitu berarti dalam hidup saya, ya banyak…dalam setiap episode kehidupan saya pasti ada yang menjadi sosok yang mampu membuat hidup seperti iklan lampu *bersinar terang menerangi jiwa yang sedang berbahagia. Bapak, Ibu dan saudaraku serta teman-teman sd, smp, smu, kuliah, kerja, tetangga, suami dan anak. Yups….kali ini yang ingin sekali saya ceritakan adalah anak.

Seorang anak yang diberikan oleh Allah menjadi anugerah dan pelita di kehidupan saya dimasa 28 tahun, Alhamdulillah sampai sekarang. Sejak berusia imut dan gemesin, belajar berjalan, belajar bicara sampai saat ini sedang mengeksplorasi kelebihan serta mengikuti/ meniru yang sedang diterima, dilihiat, didengar dan itu semua butuh kesabaran dan keunikan seorang yang bernama saya.

Memaksa saya untuk hidup lebih sehat, lebih produktif dan selalu kreatif dalam hal apapun. Saya remaja sampai menikah adalah seorang yang pendiam sedikit pemalu, bersama seorang bayi mungil yang beranjak kanak-kanak rasa malu itu sedikit berkurang, pendiampun hanya bila sendang diomelin atasan, heheee….

Hidup sehat yang tercipta karena anak bagi saya adalah sesuatu yang begitu berharga, tanpa kesehatan saya kebutuhan makanan dirumah bisa berantakan walaupun ada si mbak yang membantu, kecerewetan dirumah pasti akan berkurang, oleh karena itu, doa teristimewa saya adalah mohon diberikan kesehatan yang barokah kepada Allah SWT, aamiin.

Lebih produktif bersama anak yang memaksa saya untuk berlatih menulis, kapanpun, dimanapun dan dalam situasi apapun diharapkan mampu memberikan sebuah cerita baik dongeng maupun jawaban dari pertanyaan si anak ini. Faiz namanya… Alhamdulillah dongeng yang menceritakan kancil dan monyet, shaun the sheep  serta beberapa dongeng yang diceritakan sebelum faiz bobo adalah hasil imaginasi saya sendiri. Boleh sedikit bangga? Karena faiz saya memaksa diri sendiri untuk melakukan ini. Selalu dan selalu meng-upgrade diri untuk bertambah wawasan.

Mengeksplorasi kelebihan dan kemauan agar keterampilan ini terasah dan menjadi seorang yang kreatif itu juga karena faiz. Banyangkan bila faiz sedang ngambek tidak mau makan, sedang malas mandi dan lebih dahsyatnya lagi sedang menginginkan sesuatu yang tidak mungkin saya beri saat itu juga. Jujur disini betapa rasa terima kasih kepada faiz sungguh masih kurang. Berikut gambar dimana saya dituntut harus kreatif, ada yang merasa menyesal karena masih belum bisa memberikan yang terbaik, ada yang puas karena melihat faiz senang, semua adalah warna-warni terindah dalam kehidupan saya bersama faiz.

*

Saat Faiz ngambek ga mau makan

 

*

Topi Ulang Tahun karena melihat temennya pake, made by me

 

*

Menyusun Puzzel made by me

Tidak ada alasan untuk tidak mau melakukan sesuatu hal bersamamu karena bersamamu memaksaku untuk hidup.