Sekarang ini, penggunaan gadget kadang susah untuk dikendalikan. Di satu sisi, menjadi kebutuhan karena segala informasi bisa dengan mudah didapat. Di sisi lain, gadget juga menyediakan dampak negatif yang menuntut perhatian, seperti penggunaan gadget pada anak. Bagaimana mencegah anak kecanduan gadget?

Memainkan gadget dalam waktu yang relatif lama, dengan jarak yang dekat membuat mata anak rentan sakit. Tidak hanya iritasi, tapi bisa membuat rabun dekat dalam umur yang masih dini. Belum lagi anak-anak menjadi malas bergerak dan beraktivitas karena permainan yang ditawarkan oleh gadget bersifat statis.

Kadang, kita secara tidak sadar turut membuat anak-anak menjadi kecanduan memainkan gadget. Dengan alasan supaya tidak mengganggu pekerjaan rumah tangga, anak-anak diberikan gadget. Atau supaya orangtua bisa beristirahat sebentar setelah pulang dari kantor, dan berbagai alasan lainnya.

Saya sendiri merasa kewalahan dalam mengontrol penggunaan gadget anak-anak, setelah saya memasang internet di rumah untuk keperluan studi lanjut saya. Mulai dari mengingatkan kalau mereka sudah lama bermain, tapi ini jarang digubris. Akhirnya harus diambil langsung HP yang dimainkan dari tangan anak-anak, supaya mereka berhenti bermain. Tak ayal anak-anak langsung marah dan mengamuk. Menangis tidak karuan.

Buat Kesepakatan 

Saya pikir problem disiplin memainkan gadget untuk anak-anak merupakan sesuatu yang perlu untuk dicari jalan keluarnya. Memutus penggunaan internet bukan opsi terbaik, karena saya membutuhkan koneksi yang stabil dengan kuota tidak terbatas. Di sisi lain, anak-anak mesti terkontrol dan tidak bisa diandalkan dengan jalan memarahi mereka saja kalau mereka tidak patuh.

Nah, disiplin positif adalah kunci mencegah anak kecanduan gadget. Apa itu disiplin yang positif? Disiplin positif adalah konsep lama dari Alfred Adler dan Rudolf Dreikurs yang mulai digunakan dan dikaji kembali karena munculnya banyak kekeresan yang terjadi di rumah dan sekolah. Disiplin positif merupakan sistem disiplin yang menfokuskan pada tingkah laku positif anak. Melalui disiplin positif anak diajarkan untuk berperilaku sesuai dengan aturan dan nilai keluarga.

  1. Kesepakatan dibuat dengan keterlibatan semua anggota keluarga.

Dari hasil diskusi dan negosiasi antara saya, suami dan anak-anak akhirnya tercapai kesepakatan, bahwa anak-anak diperbolehkan main gadget maksimal 90 menit sehari. Mungkin waktu 90 menit ini sudah relatif lama untuk durasi penggunaan gadget pada anak. Tapi saya dan suami berpendapat, bahwa sesuatu perubahan tidak bisa secara drastis. Perlahan-lahan nanti durasi ini akan dipersingkat.

  1. Fokus hanya pada hal yang dianggap penting oleh semua anggota keluarga.

Jadi kesepakatan yang dibuat, tidak mungkin bisa menjangkau semua aturan yang ingin diterapkan oleh orangtua. Untuk itu orangtua mesti fokus untuk beberapa hal yang dianggap penting saja. Misalkan disiplin sholat tepat waktu.

  1. Hanya sedikit.

Usahakan aturan atau kesepakatan yang dibuat berupa poin –poin yang junlahnya tidak banyak sehingga anak mampu mengingat dan melaksanakan kesepakatan tersebut dengan konsisten.

Kesepakatan pertama saya dan anak-anak adalah soal durasi penggunaan gadget. Di samping itu kami juga membuat aturan bahwa penggunaan hp tidak diperbolehkan di malam hari. Dengan hanya berupa dua poin kesepakatan tersebut, terlihat anak-anak mampu untuk melaksanakannya.

  1. Menyebutkan nilai yang dijunjung keluarga. Anak memahami tanggung jawab sebagai anggota kelompok dalam keluarga dan senantiasa melaksanakan nilai-nilai kejujuran dalam keluarga. Dan tak dinyana si kembar Dhila Thiya menjadi pawang untuk penggunaan gadget untuk kakaknya. Dan sebaliknya juga demikian.
  2. Menjelaskan konsekuensi

Bila kesepakatan dilanggar, maka konsekuensinya harus ada. Saya juga menerapkan kesepakatan dalam merumuskan konsekuensi tersebut. Misalkan tadinya saya menawarkan tidak boleh belanja pada esok hari, kalau anak-anak tidak mematuhi kesepakatan penggunaan hp. Sikembar setuju, namun si kakak meminta ganti. Dia menawarkan untuk mencuci semua piring yang kotor nila melanggar kesepatan.

  1. Dibuat Tertulis.

Kesepakatan bersama dibuat tertulis di area yang mudah dijangkau anak-anak. Saya juga membuatkan tabel penggunaan hp pada setiap harinya. Dengan begitu, anak-anak bisa mengontrol diri akan durasi memainkan gadget.

Isi tabelnya sederhana. Terdiri atas kolom nama, keterangan waktu pagi dan sore hari yang berisi durasi setiap anak dalam penggunaan hp.

Setelah beberapa lama, kesepakatan yang dijalankan perlu ditinjau ulang. Misalkan ada masalah yang muncul dan sebagai refleksi yang baik pada anak. Hingga hari ini, durasi penggunaan yang tadinya 90 menit sudah saya kurangi menjadi 60 menit sehari. Dan itu merupakan contoh sebuah refleksi yang baik bagi anak, bahwa mereka bisa melakukan aktifitas lain yang lebih menarik dibandingkan hanya memainkan jari mereka saja.  Mudah-mudahan kesepakatan dalam mencegah anak kecanduan gadget ini bisa emak-emak terapkan dalam hal lain lain.

PS: Bahan diskusi diambil dari Kelas Rangkul Keluarga Kita

***

Mencegah anak kecanduan gadget dengan disiplin positif merupakan post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Khofifah Indar yang tulis oleh Yervi Hesna.

Yervi, pengelola blog  www.yervihesna.com