Setiap manusia memang unik adanya. Tak hanya terlihat saat dewasa. Bahkan mulai dari kecil, keunikan manusia itu bisa dilihat. Ini yang semakin saya sadari sekarang. Menjadi ibu dari 4 anak membuat saya terus menerus belajar hal-hal yang baru. Untuk masalah yang hampir mirip, apa yang saya lakukan kepada anak pertama, ternyata tak bisa saya terapkan pada anak kedua. Begitu juga kepada anak ketiga dan keempat. Anak ketiga saya, usianya terpaut 7 tahun dari usia kakak keduanya. Perbedaan usia yang menurut saya lumayan jauh, membuat saya seperti orang tua yang baru memiliki anak saja.

Iya, untuk beberapa hal ada yang membuat saya kaget. Ada yang membuat saya lupa. Dan ada pula yang membuat saya bingung. Padahal menurut saya, anak kedua dan ketiga yang kebetulan sama-sama laki-laki sifatnya mirip. Jago kandang: sangat aktif di rumah, tetapi relatif pasif dan pemalu di luar rumah.

Perbedaan Semakin Terlihat

Begitu masuk sekolah, perbedaan usia anak kedua dan ketiga semakin terlihat. Jika dulu anak kedua bisa langsung bergaul dengan teman-teman sekolahnya, maka beda halnya dengan anak ketiga. Perlu waktu dan usaha yang lebih buat saya agar dia bisa ‘nyaman’ di lingkungan sekolahnya. Bahkan sampai detik ini, selama di sekolah, dia tak bisa bebas seperti teman-temannya. Kecanggungan itu masih bisa terlihat di wajah dan tingkah lakunya.

Sebagai orang tua, saya tetap bersyukur. Meski masih canggung dan tak seperti anak pertama dan kedua, atau pun teman-temannya, selama hampir setahun ini, ada lumayan banyak kemajuan yang patut diapresiasi. Dari mulai kecerdasan otak, kemandirian, motorik halus, keberanian, bahkan untuk masalah yang membuat saya khawatir itu. Kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan dan teman-temannya.

Sepertinya, Ini Penyebabnya

Melihat kenyataan yang terjadi antara anak kedua dan ketiga membuat saya banyak berpikir. Apa sih sebenernya yang menjadikan mereka berdua berbeda? Padahal kan sifatnya cukup mirip. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menyadarinya. Dan penyebabnya itu ternyata ada pada TEKNOLOGI.

Anak kedua saya lahir di tahun 2005. Meski sudah ada internet, tapi gadget, aplikasi, dan game, belumlah selumrah sekarang. Kegiatan anak masih didominasi bermain mainan fisik seperti mobil-mobilan dan juga aktivitas di luar rumah. Main game hanya sesekali saja. Mungkin karena ribet juga harus selalu di depan komputer. Laptop baru punya 1. Itu pun cuma dipakai bapaknya buat kerja. Berbeda dengan anak ketiga yang lahir di saat internet dan gadget sudah sangat umum. Jadinya, setiap hari pasti ada jam main dengan gadget. Baik itu main game online, game offline, atau pun nonton Youtube.

Mencegah Anak Kecanduan Gadget

Ini ternyata kemudian yang menjadi ‘sumber masalah’. Keasyikan bermain gadget membawa dampak yang sekarang cukup menyita perhatian. Dia ‘sedikit’ insecure dengan lingkungan yang baru dikenalnya. Apalagi saat melihat ada sesuatu yang tak bisa dikontrolnya seperti di dalam game. Temannya yang nakal, misalnya. Padahal selama ini, yang ditonton dan dimainkannya selalu aman, sesuai umurnya, dalam selalu dalam pengawasan saya. Dan lamanya juga sudah dibatasi. Tapi ya begitu, mungkin ini kelalaian saya. Sekarang, sebelum semuanya terlambat, dan selagi masih bisa diarahkan, saya kudu memperbaikinya.

Sebenarnya, untuk orang lain, apa yang terjadi pada anak saya tidak terlalu kelihatan. Misalnya saja di mata neneknya. Rayi, anak kedua saya, tidak terlihat beda dari anak seusianya. Ya, bedanya baru kelihatan ketika berada di lingkungan baru yang intens. Hanya saya, bapaknya, dan gurunya saja mungkin yang tahu. Kalau hanya berada di lingkungan baru yang satu sama lain cuek, dia tak menunjukkan rasa insecure-nya itu.

Jadi kalau di sekolah, Rayi sangat penurut. Menurut apa yang disuruh atau pun dilarang gurunya. Dia hanya bermain dengan teman yang dianggapnya baik, yaitu teman yang lebih dulu mengakrabkan diri kepadanya. Yang mungkin hanya 5-6 anak saja. Selain anak-anak itu, dia tidak mau bermain. Dan cenderung menutup diri. Jadinya, maunya sama saya terus saat istirahat. Saking diemnya, ibu gurunya cukup heran saat Rayi begitu bawel curhat ke saya saat jam sekolah usai. Kebetulan, ibu gurunya tepat berada di belakang saya. Di dalam kelas, Rayi bicara sangat pelan. Nyaris tak terdengar. Begitu kata gurunya.

Ini Yang Saya Lakukan

 

Perbedaan Usia

Beberapa bulan ini ada kemajuan yang berarti. Rayi yang dulu sering malas sekolah dan pundung saat dilarang atau dikurangi lama main gadget-nya, mulai menampakkan reaksi yang menggembirakan. Ya, tentu saja setelah saya melakukan banyak hal. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Lebih persuasif di dalam mengajak, meminta, dan melarang.

Sebelumnya, karena saya menganggap Rayi sudah bukan balita seperti adiknya, saya memperlakukan dia sama dengan kakak-kakaknya. Tegas dan sesekali dengan omelan atau bentakan. Nah buat Rayi, ini ternyata salah besar. Kakak-kakaknya sih udah kuat dengan itu. Buat Rayi, ini membuat down.

  • Selalu mengapresiasi sekecil apa pun prestasinya.

Ini yang paling Rayi suka dan membuatnya semangat. Jadinya dia ingin selalu menunjukkan kemampuan terbaiknya. Iya, kadang ketika gagal dia kecewa. Tapi dengan apresiasi akan usaha yang sudah dilakukannya, dia kembali semangat.

  • Mendukung hobinya.

Rayi sangat suka menggambar. Imajinasinya luar biasa. Mungkin pengaruh visual game yang selama ini dimainkannya. Sudah belasan buku gambar tebal yang saya berikan, dipenuhi coretan tangan mungilnya. Dan semakin hari, gambarnya semakin bagus. Semakin halus. Mengalihkan keinginannya bermain gadget dengan menggambar cukup sukses mengurangi kuantitas dia bersama gadget itu.

  • Bermain membuat bangunan.

Saat main game Minecraft, Rayi paling suka membuat bangunan, terutama benteng dan kastil. Membuat benteng-bentengan dengan menggunakan benda apa pun yang ada di rumah. Dari kardus, bantal, kursi, meja, hingga panci. Jika dulu saya melarangnya memakai alat-alat dapur untuk bermain ini, sekarang tidak. Asal tidak membahayakan, seperti barang pecah belah, saya memperbolehkannya. Selain mengalihkan keinginan bermain dengan gadget, bermain yang satu ini juga meningkatkan daya imajinasinya.

  • Bermain air dan perahu-perahuan.

Yang satu ini juga asalnya sering saya larang. Sebabnya sih karena baju yang jadi sering ganti karena basah. Dan juga pernah demam setelah main air dan panas-panasan. Tapi ketika ini bisa banyak mengalihkan keinginan main gadget, saya jadi sering memperbolehkannya. Tentu saja dengan pengawasan saya supaya gak terlalu di tempat panas.

  • Menanamkan rasa percaya diri karena kelebihan yang dimilikinya.

Salah satu hal yang membuat Rayi merasa insecure di sekolahnya adalah karena dia kurang percaya diri. Dari apa yang pernah dikeluhkannya, Rayi minder dengan tulisan tangannya yang belum rapi, kecepatan dia menulis, dan hal lain yang tidak seperti teman sekelasnya. Menanamkan rasa percaya dirinya karena memiliki kelebihan yang dimilikinya dan tidak dimiliki temannya yang lain lumayan berhasil membuat Rayi percaya diri.  Dia yang biasanya duduk diam di kelas, kini berani mengobrol dan ke sana ke mari. Keluhan mindernya pun sudah tidak ada.

  • Melakukan hal yang sama seperti temannya.

Ini yang baru saya sadari setelah beberapa bulan sekolah berjalan. Melihat teman-temannya menabung di ibu gurunya membuat dia merasa beda. Saya awalnya memang tidak berniat menabung di ibu gurunya. Karena sudah punya tabungan di tempat lain. Tapi ternyata itu salah. Akhirnya, Rayi pun menabung. Di luar dugaan, meski cuma menabung 10 ribu rupiah per hari di gurunya, Rayi merasa sama dengan teman-temannya. Dia pun jadi percaya diri.

  • Lebih banyak melakukan aktivitas bersama-sama.

Ini juga yang sangat disukai Rayi. Melakukan berbagai aktivitas bersama-sama. Menonton, masak, makan, main di luar rumah, dan masih banyak kegiatan lain yang dilakukan bersama-sama, membuat keinginan dia bermain gadget banyak berkurang. Semakin banyak dan sering berinteraksi dengan orang, terutama orang lain, dan semakin berkurang interaksinya dengan gadget, semakin menjadikan Rayi pribadi yang lebih terbuka. Percaya diri pula.

Ya, Semoga Saja.

Berbagai hal sudah saya lakukan. Dan akan selalu saya lakukan. Seperti halnya orang tua lain demi anak-anaknya. Apa pun itu. Agar mereka tak hanya cerdas otak dan fisik saja. Tetapi juga cerdas sosial. Bisa bergaul di lapisan masyarakat mana pun. Di lingkungan sekolah, lingkungan rumah, di lingkungan kerja, dan lingkungan apa pun nantinya.

Yuk jadi orang tua yang lebih baik lagi untuk anak-anak kita. Zaman sudah banyak berubah. Tantangan juga semakin besar. Cara mendidik anak-anak tak bisa disamakan. Meskipun sifat mereka mirip. Perbedaan usia beberapa tahun saja bisa membuat berbeda cara mendidik.

Teknologi juga memiliki dua sisi. Kita harus lebih peka akan semua dampaknya. Semoga saja, apa yang kita lakukan untuk anak-anak kita mampu menyiapkan mereka menjadi orang yang baik, mandiri, berani, pintar, dan mampu bersaing. Semoga saja.

****

Beda Usia, Beda Cara Mendidik merupakan post trigger #KEBloggingCollab dari kelompok Yohana yang ditulis oleh Nia Haryanto.

Nia Haryanto, emak blogger yang tinggal di Bandung, pengelola blog https://www.niaharyanto.com/