“Kenapa sih Bunda harus bekerja?” Mana nih, suaranya para ibu bekerja? Pernah dihadapkan pada pertanyaan seperti itu enggak dari si kecil yang “terpaksa” ditinggal di rumah?

Hayo, gimana terusan perasaannya? Galau? Merasa bersalah? Kebelet resign?

Kalau merasa salah satu dari perasaan di atas–atau malah ketiga-tiganya–coba deh, baca buku Kenapa Bunda Harus Bekerja, tulisan Bunda Santy Dwi Kristina ini.

Blurb Kenapa Bunda Harus Bekerja?

“Kenapa sih Bunda harus bekerja?” Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut si kecil dan sering kali mengubah mood seorang ibu bekerja menjadi berantakan di pagi hari.

Diakui atau tidak, menjadi seorang ibu bekerja (yang harus bertanggung jawab terhadap urusan pekerjaan dan rumah) memang penuh tantangan. Ada saja hal yang membuat segalanya tampak rumit. Namun, percayalah. Tidak ada yang salah dari keputusan menjadi seorang working mother. Yang kurang tepat adalah jika seorang working mother terjebak dalam hal-hal yang kurang memberdayakan. Feeling guilty karena marasa tidak mampu menjalankan peran ganda, merasa lelah karena seolah-olah tuntutan tugas tidak ada habisnya, dan seterusnya.

Dalam buku ini, penulis yang sudah menjalani peran sebagai working mother selama belasan tahun berbagi kisah dan tip yang bisa langsung Anda praktikkan. Buku ini juga sarat dengan kisah inspiratif yang patut kita renungkan.

Pada akhirnya, kita bisa bernapas lega, bahwasanya menjadi ibu bekerja adalah pilihan bijak yang tak sepantasnya kita sesali.

Yes, being a happy working m om is a must.

 

Review buku Kenapa Bunda Harus Bekerja?

Sebelum akhirnya memutuskan untuk “setengah” resign dan menjadi freelancer, saya adalah seorang ibu bekerja full time. Sempat bekerja di 3 perusahaan yang berbeda selama belasan tahun, sepertinya cukuplah saya merasakan drama mamak-mamak bekerja yang kadang bener-bener terasa overwhelming.

Nyaris semua kegalauan yang ditulis oleh Bunda Santy di dalam buku ini saya alami. Mulai dari merasa ketinggalan berita kemajuan perkembangan anak, galau soal ART dan pengasuh (saya juga sempat menitipkan anak ke daycare), drama sama suami, hingga soal susah ambil cuti dari kantor.

Hingga akhirnya, saat saya bisa mengajukan kompromi pada ibu bos saya yang baik hati itu untuk mengubah status menjadi karyawan freelance, betapa saya menghirup napas lega. Kalau di iklan TV, mungkin jadi kek iklan pelega tenggorokan itu ya, Mak? 😀

Drama ibu bekerja itu banyak. Banget. Tanpa mengecilkan arti para ibu yang memutuskan untuk full time mengurus keluarga di rumah lo ini, beneran! Meski mungkin bentuk masalahnya berbeda-beda, jenis perjuangannya juga sendiri-sendiri, tapi galaunya itu takarannya mungkin sama.

Rasa bersalah, merasa mentok, “Kok gini melulu sih? Gini enggak bisa, gitu salah. Kek nggak ada solusi?” itu selalu ada menelusup di hati. Dan, membaca buku ini, bikin saya senyum-senyum geli. Ya ampun, iya banget, saya ngalamin yang begini juga dulu. Duh, ini kan saya banget. Ya ampun, kok sama perasaan? 😆 Saya kayak bercermin pada masa lalu. Tsah.

Bedanya, drama saya dulu terus mengalirnya ke energi negatif. Misalnya jadi suka berpikiran negatif, sering marah-marah, jadi over protektif dan sebagainya. Bunda Santy di buku ini, enggak 😆

 

Drama Ibu Bekerja: Wajar Terjadi

Salah satu contoh dramanya nih, soal kecemburuan sama ART. Itu si kecilnya Bunda Santy itu ya, nempel banget sama si Mbak ART. Kalau saya yang jadi Bunda Santy, udah saya cemburuin betul itu si Mbaknya. Sampai-sampai pas sakit, si kecil juga maunya cuma sama si Mbak. Padahal bundanya udah bela-belain pulang cepet dari kantor. Huhuhu. Syedih bacanya.

Tapi Bunda Santy tetap positif. Beliau mau membuka diri dan belajar dari si Mbak ART, bagaimana “menaklukkan” hati si kecil. Paling jleb adalah ketika Bunda Santy bilang, “Kita memang ibunya, tapi belum tentu kita lebih pinter ketimbang si Mbak lo. Lagian meski ada ART, posisi kita sebagai ibunya anak-anak itu tetap beda kok. Nggak perlu insecure!”

Hya ampun! Iya bener juga. Kok bukannya kita belajar dari si Mbak, tapi malah cemburuin?

Itu cuma satu spoiler aja sih dari isi buku Kenapa Bunda Harus Bekerja? ini. Ada banyak banget kisah-kisah yang relatable untuk para ibu bekerja di buku ini. Bunda Santy habis-habisan curhat di sini, tapi sekaligus memberi insight yang luar biasa, bagaimana mengelola diri sendiri yang sibuk sebagai ibunya anak-anak, istrinya suami, sekaligus sebagai seorang karyawan yang profesional.

Dan yaqin banget deh, mungkin semua juga ngerasain hal yang sama.

Sebagian sudah tak saya alami lagi sih sekarang, tapi masih ada juga kok drama-dramanya. Apalagi kek saya enggak full time banget juga di rumah. Sama aja, akhirnya sih. Ibu bekerja juga, tapi kelayapan. 😆

 

Kesimpulan

Jadi, drama ibu bekerja? Enggak masalah kok, wajar dialami oleh siapa pun. Tapi yaqin deh, kita tetap bisa enjoy dan happy menjalaninya. Yang penting kan, diri kita sendiri dan keluarga kan? Mau orang-orang di luaran sana mau komentar apa pun … dih, apa urusan mereka? 😆

Jalani peranmu, seperti kata-kata penutup dari Bunda Santy.

“Ketika katamu, lelah ini seakan tiada habisnya. Menjadi punggung padahal rusuk. Mainkan saja peranmu. Bukankah semata-mata mencari rida Allah? Lelah yang lillah berujung magfirah. Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?” (hal. 141)

Nyesss …

 

Data buku

Kenapa Bunda Harus Bekerja?

Judul: Kenapa Bunda Harus Bekerja?
Penulis: Santy Dwi Kristina
Editor: Herlina P. Dewi
Proof Reader: Mutiara Arum
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Arya Zendy
ISBN: 978-602-6648-69-3
Tebal: 158 halaman
Terbit: Juli 2019
Penerbit: Stiletto Book