Zaman now itu ya, Mak, kita sehari-hari dibanjiri oleh berita dan informasi tiada henti. Semua orang menawarkan informasi untuk kita konsumsi. Hingga kemudian, saking too much-nya informasi, sampai tumpe-tumpe ya, sampai rasanya nggak muat lagi. Saking banyaknya, sampai-sampai kita juga nggak bisa membedakan mana berita/informasi yang bener dan yang nggak bener, atau yang sering disebut berita hoaks.

Dan mungkin–ini mungkin lo ya–jiwa sosial kita memang tinggi ya, Mak. Begitu ada info yang kita rasa penting, maka kita pun langsung share. Tanpa peduli, yang kita share itu berita beneran atau berita hoaks.

Sebenarnya sedih sih ya, kalau ada pihak-pihak yang memanfaatkan kondisi seperti ini. Tahulah ya, Mak, sekarang ini orang gampang banget terpancing emosi cuma karena berita (yang belum tentu benar).

So, kali ini saya akan sharing, gimana sih caranya mengecek berita hoaks. Soalnya ya gimana ya. Kalau yang kita sebar itu berita bener dan baik sih nggak apa-apa. Tapi kalau berita bohong … wah! Akibatnya bisa fatal. Kita bisa ikut menebarkan kecemasan dan ketakutan yang sebenarnya nggak perlu di orang-orang terdekat kita, yang kemudian bisa saja dengan cepat dan mudah menyebar ke orang lain lagi sampai meluas ke mana-mana.

Paling sebel nih, kalau saya pribadi sih, kalau ada yang menyebarkan berita yang belum jelas, saat ditegur malah membenarkan diri sendiri, “Ya, nggak ada salahnya berjaga-jaga.”

Saya pernah lo menyaksikan sendiri nih, di satu grup WhatsApp, ada yang menyebarkan berita hoaks mengenai kondisi bawah tanah Pulau Jawa yang tak stabil hingga diramalkan bakalan ada gempa besar yang akan menelan seluruh pulau. Ada nih yang membaca berita itu tensinya jadi naik, dan harus masuk rumah sakit. Kenapa? Ya karena ia lantas merasa ketakutan mendengar ramalan itu. Ia terus kepikiran keluarganya, anaknya, cucunya, sampai ke mana-mana.

Eh tahunya nih, besoknya ada berita di televisi, kalau si penyebar berita hoaks gempa besar Pulau Jawa itu ditangkap polisi.

Duh, rasanya, Mak. Pengin saya omelin deh yang nyebarin berita ke grup itu dan bilang, nggak ada salahnya berjaga-jaga itu.

Karena itu, kayaknya nggak ada salahnya nih kalau kita mulai ikut memperbaiki kondisi, Mak, untuk bisa menyaring penyebaran berita hoaks ini. Kita bisa memulai dari diri kita sendiri. Jangan sampai deh, kita ikut asal sebar berita yang belum jelas. Bahkan ya, meski beritanya ada di media online atau di media sosial mana pun, itu juga belum tentu bener tuh, Mak. Media online zaman sekarang kadang cuma jualan sensasi doang lo!

Nah, ada beberapa hal yang bisa dan mesti kita perhatikan saat kita membaca berita ataupun info, pun saat mau ngeshare. Kita mesti ngecek dulu, hoaks enggak nih? Caranya gimana? Simak terus artikel ini sampai selesai ya.

 

Cara mengecek berita hoaks

1. Cek, dari mana kita mendapatkan berita atau informasi tersebut

Biasanya di WhatsApp nih, Mak. Kalau beritanya “Dapat dari grup sebelah …” … waaaa, ini nih. B-a-h-a-y-a!

Kalau sebuah berita atau info yg katanya “dapat dari sebelah”, maka sebaiknya dicek dulu deh, kebenarannya.
Jangan langsung dishare aja. Tahan jempol untuk langsung memforward atau share berita atau info tersebut.

Lalu segera lakukan poin 2 berikut.

 

2. Segera cek ke media yang terpercaya.

Media yang bagaimana sih yang terpercaya?

Nah, makin ke sini sih memang makin bias ya, antara media satu dengan yang lain. Apalagi sekarang banyak media online yang muncul, dan saling berlomba mendapatkan pageview tertinggi dengan menulis berita-berita bombastis macam koran di lampu merah.

Di sinilah perlunya kita diam sejenak dan mengamati, Mak. Biasanya nih, kalau hampir 90% media membahas, maka berita tersebut kemungkinan besar adalah benar. Tapi kalau cuma 1-2 yang membahas, itu kita bisa skeptis dulu.

Nah, bisa saja beritanya sudah muncul di beberapa media nih, itu saja belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. Maka, lakukan langkah 3 berikut.

 

3. Cek website atau akun resmi yang terkait dan berkepentingan

Misalnya saja, kalau soal gempa ya kita bisa cari tahu di akun Twitter BNPB. Kalau soal cuaca, coba cari tahu di BMKG. Kalau soal kerusuhan atau keamanan, cari tahu di akun Polri. Pokoknya yang resmi deh, cari tahunya.

Kan itu fungsinya mereka punya akun media sosial dan juga media online sendiri? Untuk memberikan informasi yang memang perlu diketahui oleh masyarakat.

Nah, tapi hati-hati juga dengan akun ataupun website palsu ya, Mak. Gimana ya cara tahunya? Ada beberapa nih, Mak, yang mungkin bisa bikin kita curiga. Yg pertama harus kita cek adalah URL website yang bersangkutan.

Pernah nih ada kasus. Situs NBC dipalsukan. Tahunya dari mana? Ya, karena URLnya “aneh”. NBC yang asli kan hanya nbc dot com gitu. Nah, ini tuh NBC-real-news dot com.

Yang begini ini harus waspada nih. Kita yang memang mesti peka nih kalau ada yang aneh begini. Jangan percaya dulu, lalu cek dan ricek lagi deh di Google. Media besar pasti ya cuma pakai nama brand mereka sendiri, nggak pakai tambahan apa-apa.

Yang kedua yg perlu kita cermati dari situs terkait adalah About Us-nya. Ada nggak About Us-nya? Terlihat kredibel enggak? Selanjutnya, kita lihat image atau foto yang ada di laman situs tsb. Kira-kira berkualitas bagus nggak? Media asli pasti pakai foto atau image mereka sendiri yang high quality.

Kalau fotonya burem, coba dicek dengan Google Image Search. Caranya, save image-nya, lalu cek dengan Google Image Search. Emak bisa ke Google, lalu di kanan pojok atas biasanya ada opsi Gambar atau Image. Itu diklik. Saat Google gambar sudah muncul, kita akan lihat ada simbol kamera kan? Klik simbol kameranya, lalu unggah foto yang tadi di-save dari situs yang meragukan tadi. Lalu lihat, apakah foto ataupun image tersebut nongol di media lainnya?

Kita bisa menelusuri lebih lanjut, dan akhirnya berkesimpulan, apakah situs tersebut bisa dipercaya atau enggak.

 

4. Selidiki, siapa yang sekiranya diuntungkan atau dirugikan dari berita yang tersebar ini?

Tahu nggak sih, Maks, bahwa ada bisnis berita hoaks yang berkembang pesat lo sekarang ini. Berita-berita palsu ini sengaja dibuat untuk tujuan tertentu, yang pastinya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu saja.

Taruhlah begini. Ada berita, beras langka! Lalu berita ini viral. Nah, ternyata berita ini dibuat agar kita panik lalu borong beras. Jelas kan, ada pihak tertentu yang akan meraih keuntungan banyak dari info bohong begini?

Nah, kalau di logika saja ada yang bisa meraih keuntungan ataupun kerugian banyak, itu sebaiknya sih kita tahan untuk ikut nyebarin ya. Biar saja berita bohong itu berhenti di kita. Jangan sampai kita ikut nyebarin lagi.

 

5. Curigalah pada sesuatu yang too good to be true atau too bad to be true

Misalnya kayak apa? Misalnya, semua ibu rumah tangga besok akan digaji oleh negara. Nah, ini too good to be true kan ya? *dalam hati sih ngaminin*

Yang kayak gini perlu banget kita cek dan ricek, juga kroscek ke mana-mana.

Yang too bad to be true juga begitu. Kayak berita hoaks mengenai gempa besar di Pulau Jawa yang saya ceritain di atas tadi. Kalau merasa, kok kayaknya buruk banget sih? Cek dulu!

 

6. Nah, kita mesti curiga juga kalau berita ataupun info tersebut bikin kita terlalu emosional.

Misalnya, kita jadi terlalu senang, terlalu sedih atau terlalu marah. Misalnya kita nggak suka akan sesuatu. Lalu ada info yang bikin kita makin makin makiiiin membenci sesuatu tersebut. Nah, justru yang seperti ini kita mesti harus segera curiga. Langsung cek dulu deh kebenaran beritanya. Jangan langsung saja nyebarin karena kita udah begitu emosinya.

Ingat, jangan cuma cek ke satu sumber. Telusur juga ke beberapa sumber sekaligus!

 

Nah itu tadi 6 langkah untuk mengecek berita hoaks sekaligus langkah untuk mencegah kita jadi ikutan nyebar berita bohong tersebut.

Nah, sebenarnya sih menurut beberapa sumber yang sudah saya telusuri, ada beberapa jenis berita atau info yang rawan hoaks. Apa saja?

 

3 Topik yang rawan dijadikan bahan berita hoaks

1. Prediksi bencana atau sesuatu buruk yang akan terjadi

Misalnya ada pesan begini, “Kalau Anda nggak membagikan pesan ini pada 10 teman, maka besok Anda akan tertimpa kesialan.”

Hayolohhhh. Siapa yang pernah dapat beginian? Lalu ikut nyebarin? Jangan ya, Mak. Berhentilah ikut menyebarkan info atau berita ataupun pesan seperti ini. Nggak baek, Mak.

Kita kan punya Dia yang Maha Segalanya yang bisa menyelamatkan kita dari apa pun juga kalau memang menghendaki kan? *benerin kerudung*

 

2. Isu SARA

Ini nih yang sekarang banyak berkembang ya. Begitu ramainya, hingga bisa banget dimanfaatkan orang untuk mencari keuntungan.

Jujur, jenis berita ini yang paling bikin saya sedih sih 🙁

Meski mungkin ada yang berpendapat kalau ini soal prinsip, tapi please ya, Mak, tetep. Cek dan ricek itu penting. Akal dan logika kita tetap harus diutamakan.

 

3. Obat penyakit berat atau mematikan yang tadinya tak pernah ditemukan obatnya

Nah, ini kalau tiba-tiba tanpa ada berita penelitian, tahu-tahu ada berita bahwa sebuah penyakit berat itu bisa disembuhkan secara total dan cepat, sebaiknya sih hati-hati ya.

Ingat, bahwa tak ada hal yg too good to be true atau too bad to be true.

 

Nah, itu deh sharing saya kali ini tentang cara mengecek berita hoaks.

Yuk, Mak, lebih bijak dalam bermedia sosial dan menggunakan internet! Akan lebih baik kalau kita manfaatkan untuk kebaikan kan? Ya, kebaikan diri sendiri juga kebaikan orang lain.