Siapa yang tidak ingin menjadi orang tua dan panutan sempurna untuk anak-anak? Emak pasti mau juga kan? Dan, untuk menjadi sosok orang tua itu memang kadang tak semudah yang dilihat orang, baik bagi ibu bekerja maupun ibu rumah tangga. Ada banyak tantangan dan hal-hal yang perlu dilakukan agar anak-anak bisa tumbuh dengan baik.

Dalam perjalanan mendidik anak, orang tua juga harus selalu belajar dan memiliki pedoman parenting agar hubungan anak dan orang tua bisa terjalin dengan baik dan tujuan parenting bisa tercapai.

Apalagi untuk ibu bekerja yang rentan untuk kehilangan ikatan dengan anak-anak ya, Mak? No worries, Mak. Berikut ini beberapa tip parenting khusus untuk ibu bekerja yang bisa kita terapkan agar hubungan orang tua dan anak tidak berjalan satu arah sehingga anak merasa tertekan dan justru berbalik melawan orang tua.

 

7 Prinsip Dasar dan Tip Mendidik Anak untuk Ibu Bekerja agar Tak Kehilangan Ikatan dengan Mereka

Siapa Bilang Ibu Rumah Tangga Itu Pengangguran?

 1. Jadilah Pendengar yang Baik untuk Anak

Sebagai seorang ibu bekerja, pastinya kita pernah sibuk hingga tak menyadari bahwa anak tengah mengajak kita berbicara. Iya apa iya, Mak?

Yuk, Mak, segera perbaiki hal tersebut dan jangan sampai terulang kembali. Saat di rumah, usahakan untuk melupakan semua urusan yang ada di luar, dan mulailah berinteraksi dengan anak dan keluarga dengan hangat.

Jadikan anak dan keluarga sebagai prioritas. Jadilah pendengar yang baik untuk mereka. Buat mereka nyaman dan merasa bahwa kita peduli dengan mereka.

Dengan begitu, Mak, anak akan secara terbuka dan menganggap hidupnya penuh cinta. Jadi, jika suatu ketika mereka ada masalah, maka orang tualah yang akan dicari untuk pertama kalinya.

Ada kalanya anak hanya butuh untuk didengarkan. Ketika mereka merasa didengarkan, mereka akan merasakan ada cinta yang menyelimutinya. Jika waktunya sudah pas, barulah kita bisa memberikan respons apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang tidak.

 

2. Berilah Penghargaan Jika Berbuat Baik dan Tegur Jika Berbuat Salah

Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mengajarkan anak-anak akan bedanya batasan antara benar dan salah. Termasuk juga soal kensekuensi jika mereka melanggar akan aturan tersebut.

Namun, jangan lupa juga untuk memberikan penghargaan jika mereka telah melakukan sebuah kebaikan walaupun hanya berupa pujian ataupun ucapan terima kasih saja.

Tapi ingat, Mak. Saat kita menetapkan sebuah batasan atau aturan, maka kita sendiri juga harus mengikuti aturan tersebut tanpa terkecuali. Ini untuk mengajarkan kepada anak bahwa aturan atau batas tersebut dibuat memang untuk kebaikan semuanya.

Sebagai contohnya, ketika anak-anak bisa merapikan sendiri mainan mereka setelah selesai digunakan, maka jangan pelit untuk memberikan pujian agar anak merasa usaha mereka dihargai, dan tahu bahwa yang mereka lakukan itu adalah benar.

 

3. Jadilah Contoh yang Baik untuk Anak

Menjadi orang tua tidak hanya sebatas memberi tahu mana yang baik dan mana yang salah. Akan tetapi, kita juga harus terjun langsung untuk menjadi memberikan contoh. Karena bagaimanapun, orang tua adalah guru pertama bagi anak.

Jangan pernah melakukan apa pun di depan anak-anak yang kita tidak ingin mereka lakukan juga. Kadang orang tua hanya menyuruh dan melarangnya anaknya untuk ini itu tanpa turut melakukan hal tersebut. Hal inilah yang harus kita ubah, karena anak bukan boneka atau robot yang hanya bisa mengikuti semua perintah kita.

 

4. Selalu Kendalikan Emosi

Sangat penting untuk selalu bersikap tenang di depan anak-anak. Ingat kan, bahwa kita adalah contoh bagi mereka? So, kalau Emak mau anak-anak bisa mengendalikan emosi dengan baik, maka awalilah dari diri kita sendiri dulu.

Biasanya sih yang sering terjadi pada kita, para ibu bekerja, adalah saat kita pulang dari kantor, kan capek ya, Mak? Terus misalnya, lihat deh itu rumah berantakan. Gimana, Mak, rasanya? Tuh emosi pasti ke ubun-ubun kan? Wajar sih.

Tapi, usahakan sebesar apa pun masalah, jangan tunjukkan emosi negatif secara berlebihan di depan anak-anak. Selain bisa menjadi contoh yang kurang bagus, hal ini akan memengaruhi psikologis anak. Bisa saja lo, Mak, kalau kita sering menunjukkan emosi negatif pada mereka, maka mereka akan belajar juga bahwa cara penyelesaian setiap masalah adalah dengan emosi.

Jika sudah telanjur anak-anak melihat emosi kita, maka jangan ragu untuk meminta maaf kepada mereka dan menjelaskan bahwa yang kita lakukan tadi adalah salah dan tidak boleh ditiru. Ini juga bisa menjadi salah satu cara untuk memosisikan diri kita sebagai role model yang baik.

 

5. Tidak Menghakimi

Menjadi orang tua–apalagi bagi ibu bekerja–memang rumit. Satu langkah saja yang salah dalam mendidik anak, maka dampaknya akan sangat fatal untuk tumbuh kembang mereka. Apalagi kalau sampai kita menghakimi anak.

Jangan sekali-kali deh kita membombardir anak dengan ucapan-ucapan yang bisa menciutkan kepercayaan dirinya. Usahakan untuk selalu menggunakan kata-kata yang lebih positif dan lebih kreatif untuk memberikan dorongan kepada anak.

Karena tanpa disadari, jika anak terlalu sering mendapatkan label negatif dari orang tua, maka hal negatif itu pula yang kemudian mereka percayai. Akibatnya, mereka pun akan menganggap diri mereka sendiri juga negatif.

Sebagai contoh ketika orang tua suka sekali menyebut anaknya dengan sebutan lelet, lama-kelamaan anak-anak menganggapnya benar karena terlalu sering ditujukan kepada dirinya. Padahal nggak gitu juga sih.

Gantilah “label” negatif ini menjadi sesuatu yang positif. Misalnya, katakan saja padanya, “Lain kali kamu pasti bisa mengerjakannya lebih cepat lagi”. Kan lebih positif, Mak, kedengarannya?

Selain terdengar lebih manis, kata-kata positif seperti itu mampu memotivasi anak untuk menjadi lebih baik lagi.

 

6. Adil dan Bijaksana

Banyak yang berpikiran bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang mampu menuruti apa pun yang diinginkan oleh anak.

Tapi ini kurang tepat. Orang tua yang baik adalah mereka yang bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh anak, bukan apa yang diinginkan oleh anak. Hal ini karena tidak semua yang diinginkan oleh anak adalah yang memang mereka butuhkan.

So, Mak, jadilah orang tua yang bijak dengan tidak memenuhi segala keinginan anak. Jika anak terbiasa selalu dipenuhi keinginannya sejak kecil, maka bis ajadi ia akan kurang mengerti artinya usaha.

Contoh paling sering yang dilakukan orang tua adalah memberikan anak-anak gadget padahal barang tersebut belum dibutuhkan oleh anak. Walaupun gadget bisa menjadi mainan sekaligus penenang untuk anak, akan tetapi jika diberikan sebelum waktunya bisa lo memengaruhi psikologi anak ke depannya nanti.

 

7. Tunjukkan pada Anak bahwa Kita Menyayangi Mereka

Memperlakukan anak-anak pastinya berbeda dengan memperlakukan orang yang sudah dewasa. Betul nggak sih, Mak? Termasuk dalam hal menunjukkan rasa kasih sayang. Anak-anak belum begitu mengetahui bahasa isyarat, sehingga apa pun harus ditunjukkan secara nyata.

Untuk menunjukkan bahwa kita menyayangi mereka maka mesti dilakukan dibarengi tindakan yang nyata, misalnya dengan memberikan ciuman dan pelukan setiap saat. Sebuah pelukan akan membuat anak merasa aman dan dicintai oleh orang tuanya.

Memang sebagai ibu bekerja, kita memang akan lebih banyak capeknya sih–tapi mengajak bermain bersama, membantu belajar, dan menemani anak bercerita itu bisa jadi aktivitas penting untuk menjaga bonding. Hal ini membuat mereka merasa bahwa kita mencintai mereka tanpa harus mengungkapkannya dengan kata-kata.

 

Nah, Mak. Itulah beberapa tip parenting yang bisa kita terapkan untuk mendidik dan mendekatkan diri dengan anak-anak jika kita adalah ibu bekerja. Jangan biarkan pekerjaan menjadi alasan kita menjauh dari anak-anak. Justru hal ini jadi kesempatan untuk menanamkan kemandirian pada anak.

Anak-anak cenderung lebih suka pola didik yang dicontohkan langsung oleh orang tua daripada hanya sekadar diperintah. Maka dari itu, pola parenting dua arah sangat penting untuk membentuk karakter anak sekaligus mendekatkan hubungan antara orang tua dan anak.