Saya mempunyai keponakan perempuan yang menjadi anak satu-satunya atau anak tunggal dari adik perempuan saya yang telah meninggal dunia tahun 2015 lalu.

Keponakan saya itu sempat tinggal di rumah karena mendapat pekerjaan yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Mau tidak mau, ia harus berbagi dengan tiga anak perempuan saya, termasuk berbagi kamar dengan si sulung.

Dan urusan berbagi inilah yang paling sering menjadi pemicu keributan di rumah. Selama ini, keponakan saya yang anak tunggal itu mungkin tidak pernah berbagi segala hal dengan yang lainnya. Semua serba untuk dirinya sendiri. Mitos-mitos anak tunggal pun melekat padanya.

Seperti apa mitos itu? Bagaimana sih mendidik anak tunggal yang benar itu?

 

Susah Senang Mendidik Anak Tunggal

Dulu, saat pertama kali punya anak, sempat terpikir untuk punya anak cukup satu saja. Rasanya kalau punya anak lebih dari satu itu, ribet mengurusnya dan tentu saja butuh biaya banyak untuk membesarkannya.

Mungkin karena saya terlahir dari orang tua yang punya 5 anak, keluarga besar.  Melihat orang tua saya pontang-panting mengurus dan membesarkan anak-anaknya, saya pun berkomitmen kalau menikah nanti dan punya anak, cukup satu anak saja.

Tapi, sekarang saya malah punya anak tiga orang. Dengan segala pernak-perniknya, saya berusaha membesarkan ketiga anak sebaik-baiknya, seperti orang tua saya dulu. Sedangkan adik perempuan saya, yang ingin punya banyak anak, hanya memiliki satu anak perempuan saja sebagai penerusnya.

Sebenarnya, punya anak satu atau tunggal sama saja dengan punya anak lebih dari satu. Tetap harus dibesarkan dan diurus dengan baik. Tetap harus mengeluarkan uang banyak untuk biaya hidup dan pendidikannya.

Hanya mitos tentang anak tunggal memang lebih banyak dan dibesar-besarkan. Anak tunggal dianggap berbeda dari anak-anak yang punya kakak atau adik, yang bersaudara lebih dari satu atau lebih.

Beberapa mitos anak tunggal yang kuat adalah:

  • egois
  • manja
  • mandiri
  • cerdas
  • kurang pergaulan.

 

Kenapa anak tunggal? Kalau adik saya, punya anak tunggal bukan karena direncanakan. Rezekinya memang hanya punya anak satu sampai akhir hayat. Padahal, berkali-kali mencoba ke dokter untuk hamil lagi, tapi Tuhan punya rencana lain.

Sementara itu, ada yang punya anak tunggal karena alasan kesehatan seperti tiap kehamilan yang bermasalah sehingga bayi yang dikandung keguguran. Ada juga yang memang karena faktor keturunan, berasal dari keluarga yang anaknya sedikit, atau trauma psikologi akibat melahirkan/pasca melahirkan, seperti baby blue syndrome

Baca Yuk: Mengapa Kita Perlu Tahu Post Partum Depression

Cara Mendidik Anak Tunggal untuk Meminimalisasi Mitos Negatifnya

Seperti yang saya tuliskan di atas, memiliki dan mendidik anak tunggal ya sama saja rasanya seperti memiliki banyak anak.

Perbedaannya mungkin, kalau anak tunggal lebih fokus, tidak memikirkan anak yang lainnya.  Kasih sayang dan perhatian utuh, tidak berbagi dengan anak lainnya.  Susah senangnya punya anak tunggal, mungkin ketika anak beranjak dewasa, orang tua merasa kesepian. Tapi rasa sepi itu bisa diatasi sih dengan melakukan banyak kegiatan.

 

Mendidik Anak Tunggal

 

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua dalam mendidik anak tunggal, agar stereotipe atau mitos negatif tentang anak tunggal diminimalisasi, dan agar anak tunggal senantiasa merasa memiliki orang tuanya.

Jangan peduli yang orang katakan tentang anak tunggal itu kesepian

Banyak anggapan, stereotip atau pun mitos bahwa menjadi anak satu-satunya atau anak tunggal akan merasa kesepian. Penyendiri.

Anak-anak itu kan unik, meski terlahir dengan banyak saudara atau hanya sendiri. Tiap anak berbeda-beda watak dan sikapnya.

Mendidik anak tunggal itu (mungkin tampak) mudah karena fokus perhatian hanya satu anak.

Lakukanlah banyak kegiatan bersama anak, agar tidak merasa kesepian dan sendiri di rumah. Beranikan anak untuk bergaul dengan teman-temannya di sekolah. Anak tunggal cenderung lebih pintar atau baik di sekolah, jika dibandingkan dengan anak yang bersaudara banyak.

 

Harus berpikir rasional

Anak tunggal cenderung menjadi orang yang perfeksionis dan selalu berusaha keinginannya disetujui.

Orang tua boleh merasa kecewa jika hal-hal yang terkait dengan anak yang tidak sesuai dengan harapan. Tetapi, dalam menghadapi anak tunggal, kita harus lebih rasional karena jika anak tunggal merasa dikecewakan, maka ia akan sulit mengekpresikan perasaannya. Ia akan lebih sulit berkomunikasi dengan baik dengan orang tuanya. Bisa jadi, ia akan menganggap orang tuanya tidak mengerti apa yang diinginkannya.

Tetapi tidak baik juga menimbun kekecewaan. Setelah kita sendiri bisa berpikir rasional mengenainya, ajak pula ia untuk berpikir rasional dengan mengungkapkan apa-apa yang baik bagi mereka.

 

Jangan anggap anak tunggal itu egois dan tak punya empati

Anak tunggal itu egois dan hanya mau memikirkan diri sendiri, itu hanyalah mitos.

Anak dengan saudara yang banyak kan mau tidak mau harus berbagi perhatian dan kasih sayang, sementara anak satu-satunya tidak.

Tapi, anak tunggal bisa dididik untuk berempati. Orang tua anak tunggal bisa mencontohkan tingkah laku atau pun sikap empati kepada orang lain, sehingga anak akan mencontoh sikap tersebut.

Ingat kan, bahwa anak adalah pembelajar dari apa yang dilakukan orang tuanya?

Atau, bisa juga kita ikut sertakan anak tunggal dalam kegiatan-kegiatan sosial, sehingga anak dapat belajar empati dengan melihat keadaan orang lain.

 

Biarkan ia menyelesaikan masalahnya sendiri

Setiap orang tua pasti ingin melindungi anaknya dalam hal apa pun, termasuk ketika anak bertengkar atau berkelahi dengan teman-teman sebayanya.

Karena anak tunggal yang tidak mempunyai saudara cenderung jarang berinteraksi dengan orang lain selain keluarganya, maka ia pun akan selalu mengandalkan orang tua dan minta perlindungan untuk menghadapi masalahnya.

Hal ini jangan dibiarkan. Didik anak tunggal untuk mengatasi masalah tanpa campur tangan orang tua.

Ketika anak berkonflik dengan orang lain, berikan nasihat tanpa terlibat dalam menyelesaikan masalahnya. Biarkan anak tunggal menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena anak tidak selamanya berada dalam lindungan atau penjagaan orang tuanya, terutama di saat mereka sudah dewasa.

 

Ajarkan menghargai dirinya sendiri

Ada anggapan kalau anak tunggal adalah anak yang aneh dan kesepian.

Itu tidaklah benar. Orang tua anak tunggal harus mengajarkan untuk menghargai diri sendiri sebagai pribadi yang unik.

Jadikan kesendirian mereka menjadi sumber kekuatan untuk membantu orang lain.

 

Ya, anak tunggal memang unik. Karena tidak pernah berbagi apa pun dengan saudara-saudaranya, maka mereka pun dianggap tidak memiliki tenggang rasa atau cenderung ingin menang sendiri.

Padahal, bersaudara banyak atau satu-satunya, karakter anak itu ditentukan oleh pola asuh atau pendidikan dari orang tua dan lingkungan sekitarnya. Dan, ini memang menjadi tugas berat dari orang tua yang mempunyai anak satu.

Mendidik anak tunggal memang lebih banyak pernak perniknya, karena harus mematahkan berbagai mitos yang melingkupi anak tunggal.

Yang penting, tetap semangat dan jangan lupa berdoa.