Pernahkah kita  membayangkan, seberapa banyak sampah yang kita hasilkan selama hidup di dunia? Atau setidaknya lima tahun terakhir, jika selama hidup dirasa cukup lama.  Masih lama juga? Ya udah setahun terakhir deh. Kali ini,  please, jangan ditawar lagi. Harga pas-nya cek inbox. *eh.

Coba diingat-ingat,  sudah berapa banyak botol air mineral,  body lotion, parfum, shampo, sabun cair, atau  pasta gigi yang telah kita konsumsi selama setahun terakhir. Jangan lupa, termasuk  benda-benda lain seperti pembungkus makanan dan minuman, kertas, bahkan pembalut.

Kebayang kan banyaknya?

Ini  baru pemakaian pribadi, loh. Lalu bagaimana dengan pemakaian anak-anak kita? Mending kalau anaknya cuma satu, nah bagaimana dengan yang anaknya banyak? Saya misalnya yang anaknya lima. Kebayang bejibunnya sisa-sisa popok sekali pakai atau tisu basah misalnya. Duh…

Nah, dari semua sampah yang kita hasilkan tersebut, pernahkah kita  membayangkan lagi seandainya semua sampah tersebut tetap berada di sekitar kita, di rumah kita sendiri. Dengan kata lain, hidup berdampingan atau bergelimang  sampah-sampah tersebut.

Seram, gak sih? Kalau saya sih,  seram banget.

Dan, itu yang terjadi ketika beberapa hari yang lalu kesadaranku akan hal tersebut kembali tergugah usai membaca kisah seorang gadis muda yang menetap di Amrik sono. Konon, ia  berhasil menerapkan pola hidup zero waste. Dan salah satu bukti keberhasilannya adalah, ia hanya menghasilkan satu toples kecil sampah pribadinya selama empat tahun terakhir.

Saya  pun semakin tergugah ketika mampir di sebuah akun sosmed milik salah seorang penulis yang juga pengajar. Beliau ini juga aktif menyuarakan pola hidup zero waste. Amazing banget, saya-nya membaca kisah-kisah mereka.

Kebanyakan kita memang tidak terlalu peduli  mau dibawa kemana sampah-sampah yang sudah kita hasilkan. Yang penting semuanya hilang dari hadapan kita. Diri dan keluarga kita bersih, rumah kita bersih, atau lingkungan kita  bersih. Selebihnya bukan urusan kita.

Padahal, meski sampah-sampah itu tak lagi nampak di depan mata, namun  tidak berarti  hilang untuk selamanya. Sampah-sampah itu hanya berpindah tempat dan menggunung di tempat lain,  Di tempat pembuangan sampah, misalnya. Atau yang paling parah berada di pinggiran sungai bahkan di tengah laut.

Apa Itu Zero Waste

Saya yakin, sebagian besar kita tahu atau setidaknya pernah mendengar istilah zero waste. Secara sederhana, zero waste dapat dikatakan  sebuah siklus yang memaksimalkan penggunaan sebuah sumber daya. Dimulai sejak dari proses produksi hingga akhir penggunaannya diharapkan  dapat meminimalisir  produksi limbah atau sampah. Dengan kata lain, zero waste dapat diartikan sebagai nol limbah alias nol sampah.

Meski pada kenyataannya tidak mungkin menghindari limbah secara benar-benar nol,   karena setiap hasil dari produksi pasti  akan menghasilkan zat sisa.  Namun, setidaknya zero waste dapat meminimalisir terjadinya sampah. Dalam perjalanannya, salah satu konsep zero waste adalah  menerapkan prinsip 3 R yakni Reduce, Re-use, dan Re-cycle.

Manfaat Zero Waste

Zero waste tidak saja bermanfaat untuk meminimalisir sampah yang ada di muka bumi. Konsep atau gaya hidup zero waste tidak hanya bermanfaat bagi bumi namun juga dapat menghemat pengeluaran. Bukan hanya itu, zero waste juga dapat menjadi sebuah mata pencaharian baru alias sumber pendapatan baru dengan program re-cycle alias daur ulang.

Atas dasar kepedulian, para pengusung zero waste telah banyak yang kemudian sangat kreatif. Mereka  memanfaatkan benda-benda yang di mata masyarakat awam disebut sampah. Misalnya memanfaatkan koran bekas, botol-botol bekas, ban bekas, tempurung kelapa, sisa kulit buah dan sebagainya menjadi perhiasan maupun furniture yang bernilai jual tinggi. Bahkan dengan keahliannya, tak ada yang menyangka kalau benda-benda bernilai tinggi tersebut sebelumnya adalah sampah-sampah yang di mata kita adalah benda-benda yang tidak berguna.

Masya Allah.

Zero Waste Ala Saya

Sudah lama saya tertarik dengan konsep zero waste. Rasanya ‘berdosa’ menjadi salah satu manusia yang meninggalkan begitu banyak sampah di muka bumi ini yang nantinya akan diwariskan kepada anak cucuku sendiri kelak.

Zero waste membuatku lebih peduli dan sangat cerewet menerapkannya pada kehidupan keluargaku sendiri. Dan sebagaimana pola hidup lainnya, mereka yang mencoba menerapkan zero waste pun tak bisa menghindar dari yang namanya cemoohan, baik itu dari orang lain maupun kerabat sendiri.

Hahaha, war war di mana-mana…

Beberapa prinsip zero waste yang tengah kuterapkan dan semoga bisa terus istiqomah adalah:

  1. Memininalisir Penggunaan Plastik

Berbelanja dengan menggunakan tas kain atau kresek bekas kini telah banyak dilakukan mereka yang peduli dengan lingkungan. Saya pun demikian. Meski terkadang, mendapat tatapan aneh dari Mba/Mas kasir atau bahkan pernah sampai berdebat gara-gara dia ngotot memasukkan belanjaanku ke kresek sementara saya menolak.

Tentu saja, saat ini sampah plastik merupakan salah satu penyumbang sampah terbesar di muka bumi ini. Dan salah satu cara untuk menguranginya adalah dengan meminimalisir penggunaannya ataupun menggunakannya berkali-kali.

Alhamdulillah, saat ini telah ditemukan plastik yang ramah lingkungan bahkan bisa dimakan. Tentu saja plastic ini tidak sebagaimana plastic pada umumnya namun ia terbuat dari limbah ubi. Semoga plastik jenis ini bisa diproduksi massal sehingga keberadaannya dapat menggantikan plastik yang banyak digunakan saat ini, yang sangat susah diurai sehingga tidak ramah lingkungan.

  1. Menggunakan Peralatan Ramah Lingkungan

Peralatan yang ramah lingkungan yang saya maksud adalah  peralatan yang dapat digunakan lebih dari sekali atau reusable, hanya mengandung sedikit bahan kimia, dan non-plastic. (btw, non plastic ini yang masih sulit untuk saya hindari)

  1. Memilih Berjalan Kaki

Salah satu kelemahan yang patut kusyukuri adalah ketidakmampuanku mengemudikan kendaraan, entah itu motor atau mobil. Meski telah berulang kali belajar, namun nyatanya sampai saat ini saya belum berani membawa kendaraan sendiri. Terlebih jika melihat traffic lalu lintas di negeri sendiri yang njlimet alias padat merayap di mana-mana.

Alhamdulillah, dari dulu saya sangat suka berjalan kaki. Berbeda dengan orang kebanyakan yang sedikit sedikit naik motor maka saya lebih suka berjalan kaki, sepanjang jarak yang akan ditempuh masuk dalam kemampuanku.

Terkadang, saya dibilang belagu, loh. Padahal kalau mau dipikir-pikir, dengan lebih banyak berjalan kaki maka tubuh akan lebih sehat. Dari segi lingkungan, juga bisa ikut andil untuk tidak  menyumbang polusi udara. Satu lagi, pastinya lebih hemat karena gak perlu sering-sering beli BBM atau bayar ojek. Lebih sehat lebih hemat, ya kan….

  1. Membeli Barang Bekas

Ternyata membeli barang bekas juga termasuk salah satu cara ikut andil dalam upaya pelestarian lingkungan. Cara ini ternyata tidak saja menghemat pengeluaran namun juga membantu mengurangi sampah yang dihasilkan dari proses pembuatan barang-barang baru.

Hal ini baru saya sadari saat membaca pola hidup miss Amrik yang saya sebutkan di awal tulisan ini.  Jadi ceritanya si Miss itu lebih suka membeli pakaian bekas dari baru. Dan, dia tetap bisa tampil trendi dan modis, kok.

Sst, tahu tidak,  saya juga seperti itu. Gak percaya? Lihat saja di group akun medsos-ku. Saya tergabung di beberapa group barang-barang bekas. Pertimbanganku waktu itu hanyalah dari sisi penghematan.

Khusus untuk pakaian, tentu saja saya tidak lantas sembarangan membeli (apalagi untuk pakaian dalam, untuk yang ini saya selalu membeli yang baru). Saya hanya membeli pakaian bekas yang baru. Lho? Maksudnya, meski pakaian tersebut bekas namun belum pernah dipakai pemiliknya. Pakaian tersebut dijual  karena si pemilik  sedang kalap belanja sehingga di kemudian hari nyesel udah beli barang yang tidak atau belum dibutuhkan. Atau usai berbelanja, si pemilik barang baru sadar kalau pakaian tersebut kurang cocok untuknya. Atau (yang ini paling sering), si pemilik barang sedang butuh uang.

  1. Mendaur Ulang Sampah

Alhamdulillah, di sosmed saat ini banyak betebaran tutorial cara memanfaatkan barang-barang bekas seperti botol, kardus  ataupun kertas  menjadi bahan-bahan yang berguna. Karena di rumahku banyak anak kecil, maka biasanya saya mencari tutorial membuat mainan dari benda-benda tersebut.

Maka jadilah, mesin cuci, kulkas maupun tempat cucian piring yang terbuat dari kardus bekas untuk si bungu. Kalau untuk anak yang lebih besar, biasanya mereka memanfaatkan botol-botol dan kardus bekas untuk membuat aneka bahan kerajinan tangan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masing-masing.

Masih banyak lagi hal-hal yang dapat dilakukan demi ber-zero waste, mengambil bagian dalam rangka pelestarian bumi yang semakin tua.

Bagaimana, tertarik untuk iku ber-zero waste? Sharing yuk apa yang sudah kamu lakukan demi kelestarian bumi kita yang semakin tua ini…

***

Zero Waste, Gaya Hidup Masa Kini yang Peduli Lingkungan merupakan post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Retno Marsudi, yang ditulis oleh Haeriah Syamsudin.

Haeriah, pengelola blog http:/www.haeriahsyam.com