Hai, Maks! Saya mau ajak Emak semua untuk jalan ke Instagram lagi. Alias, kita akan ngulik how to be a decent influencer di Instagram. Lebih khusus lagi, bagaimana menjadi influencer yang bertanggung jawab.

Kita akan bareng-bareng bahas mengenai beberapa hal yang sebaiknya kita ingat dan hindari saat kita sedang membawa amanah sebagai influencer di medsos tersebut ya. Yuk, yang pengin memberdayakan Instagram, merapat ya.

Beberapa waktu yang lalu, kita beberapa kali melihat dan mendengar mengenai para Instagrammer yang kurang bertanggung jawab dan memposting hal-hal yang tidak dibenarkan.

Tak hanya di Instagram sih, banyak juga oknum-oknum lain yang memposting hal-hal melanggar hukum, peraturan, norma, adat, dan lain-lain, yang bisa mengganggu suasana kondusif di media sosial mana pun. Di Youtube ada, di Facebook ada, di Twitter juga ada. Demi konten, kadang kita jadi melakukan apa pun! And we mean, apa pun agar bisa mendapatkan likes / follow / komen yang banyak.

Banyak deh, orang-orang model begini ya, Mak.

Yah, memang, meski tidak ada peraturan tertulis, sebenarnya di media sosial pun ada yang namanya etiket, yang kurang lebih menyoal pantas atau enggak sesuatu itu diposting dan diperlihatkan pada orang banyak.  Padahal yang dilakukan itu salah, melanggar aturan/norma, bahkan berbahaya.

Karena itu, saya akan mengajak Emaks semua untuk menjadi influencer yang bertanggung jawab dengan memperhatikan beberapa hal yang jangan sampai dilakukan hanya demi konten media sosial berikut.

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menjadi influencer yang bertanggung jawab

1. Mengganggu hewan

Beberapa waktu yang lalu, beredar video saat beberapa orang wisatawan mencekoki binatang yang ada di Taman Safari dengan minuman keras.

Please, perilaku seperti ini jangan sampai deh ya kita lakukan. Hanya demi konten, kita menganggu makhluk Tuhan yang lain, ini sungguh tak bisa dibenarkan ya, Mak. Meski mungkin kita tidak terlalu into dengan hewan–mungkin kita nggak suka ya, dan itu wajar saja sih, Mak. Boleh kok kalau kita nggak suka dengan hewan–tapi bukan berarti kita boleh mengganggu mereka.

Kita boleh mengerjakan konten-konten kita sekreatif mungkin, but please, jangan sampai menyakiti makhluk/orang lain.

2. Tidak menghormati tradisi/budaya setempat

Terutama untuk para traveller ya. Kadang kita akan mengunjungi ke kota atau tempat lain kan ya, yang punya budaya atau tradisi yang berbeda dengan yang biasanya kita lakukan.

Ingat kan, Mak, peribahasa “Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung”? Nah, ya begitulah seharusnya kita menjadi pengguna media sosial, apalagi kalau kita sedang memegang amanah klien untuk menjadi influencer.

Hormatilah tradisi atau budaya di mana kita sedang berada.

Ingat nggak sih, Mak, beberapa waktu yang lalu ada wisatawan yang dengan seenaknya selfie secara tidak pantas di area pemakaman Toraja? Karena perilaku mereka yang tidak menghormati tradisi dan budaya setempat, mereka pun harus menjalani hukuman adat.

Ya, seperti itulah kalau kita tak menghormati tradisi/budaya. Jangan sampai deh. Makanya, perlu bagi kita untuk mencari tahu lebih dulu mengenai tradisi/budaya daerah yang akan kita datangi. Cari tahu juga apa saja yang boleh atau tidak boleh kita lakukan di sana, atau harus melakukan apa supaya sesuai dengan tradisi ataupun budayanya.

3. Merusak lingkungan

Misalnya, dengan pedenya foto-foto selfie di depan pohon yang baru saja kita ukir nama kita. Duh! Hiks.

Atau, pernah sih ada kasus wisatawan yang datang ke Colosseum di Roma Italia, yang akhirnya mesti ditangkap polisi gara-gara foto di depan tembok yang mereka coret-coret. Hedeeehhh …

Perilaku seperti ini sungguh tak bisa dibenarkan ya. Apalagi kalau kita adalah influencer, seharusnya hal ini nggak boleh banget kita lakukan.

Ya, mungkin kita bukan aktivis lingkungan sih, tapi nggak berarti juga kita boleh seenaknya memperlakukan ataupun merusak lingkungan di sekitar kita. Sama halnya dengan poin 1 di atas tadi ya, Mak, termasuk di dalamnya adalah tidak boleh mengganggu binatang.

Misalnya, foto liburan di pantai, terus nemu bintang laut. Saking excitednya, si bintang laut diambil dan diajak selfie, keluar dari air. Duh, tahu nggak sih, Mak? hal ini bisa membahayakan si Patrick eh bintang laut itu lo. Well, boleh saja kok si Patrick Star ini diajak foto, tapi biarkan dia tetap di dalam air. Mau foto sama Spongebob juga boleh kok, tapi biarkan dia juga tetap di air.

Sebentar, ini ngomongin influencer apa Bikini Bottom ya? Hmmm.

4. Mengambil foto tanpa izin

Menjadi influencer maka mungkin kita akan “harus” memotret orang lain demi konten di media sosial kita (utamanya Instagram). Misal, motret Pak Satpam yang berjaga di museum. Entah apa pun perlunya.

Jangan colongan ya, Mak. Mintalah izin pada yang bersangkutan, dan bilang bahwa kita mau memotretnya untuk keperluan konten.

Meski mungkin kita udah punya follower ratusan ribu, atau jutaan, dan kita anggap saja Pak Satpam kan bisa numpang eksis secara gratis di akun kita — tapi bukan gitu juga sih cara mainnya. Mintalah izin mengambil fotonya, lalu bilang juga bahwa fotonya akan diposting di media sosial. Jika yang bersangkutan keberatan, ya kita tentunya harus menghormatinya.

Bagaimanapun, kan kita sedang “melewati” batas privacy beliau kan ya? Makanya, jangan sampai kita memotret tanpa izin, udah gitu main unggah saja di media sosial.

 

5. Mengganggu acara

Pernah ada kasus juga nih, Mak. Sedang ada upacara Waisak di lingkungan Candi Borobudur dan acara nan sakral ini terganggu sekali oleh hadirnya para fotografer yang asal jeprat-jepret aja dengan lampu flash, mau mengabadikan peristiwa langka tersebut. Tentunya hal ini bisa mengganggu kekhusukan acara tersebut kan?

Ini juga harus kita ingat ya, Mak. Kalau kita berada di sebuah acara, cobalah untuk peka terhadap situasi.

Menjadi influencer akan memungkinkan kita untuk diundang ke suatu acara. Ya, pastinya kita wajib foto-foto dong ya? Tapi sebisa mungkin kita juga kita menghormati penyelenggara dan acara yang sedang berlangsung.

Masa talkshow sedang berlangsung, kita selfie-selfie sendiri dengan serunya sampai heboh ngalah-ngalahin yang di panggung? Rasanya kok ya nggak sopan ya?

Ya, pokoknya peka aja sih, Mak, ini pedomannya. Kapan kita bisa foto-foto, kapan kita harus memberikan waktu untuk orang lain.

6. Membahayakan diri sendiri atau orang lain

Pernah denger nggak, Mak, kasus seorang pendaki gunung yang tewas di puncak Merapi “hanya” gara-gara mau selfie di lokasi yang menurutnya Instagrammable tapi berbahaya?

Itu dia, jangan sampai kita membahayakan diri sendiri dan orang lain hanya demi konten. Itu kan sudah jelas berbahaya, kenapa masih dilakukan juga ya? Sungguh, saya nggak paham deh.

So, coba perhatikan dulu sekitar kita sebelum kita mau membuat konten ya. Jangan sampai merusak, tidak menghormati, ataupun membahayakan. Menjadi influencer nggak berarti kita lantas nggak peduli sekitar lo, apalagi kalau berbahaya.

Karena, menjadi influencer yang bertanggung jawab berarti juga bertanggung jawab terhadap follower, dengan cara menyajikan konten-konten baik yang bisa memberikan nilai tambah untuk orang banyak.

Nah, demikian sedikit tip mengenai bagaimana menjadi influencer yang bertanggung jawab. Ada tambahan enggak, Mak? Kalau ada, boleh ditambahkan di komen ya. Saya tunggu.

Yuk, Mak, kita niatkan untuk menjadi influencer yang bertanggung jawab, yang menyebarkan kebaikan untuk orang sekitar!