Memutuskan untuk menjalani gaya hidup vegetarian memang merupakan pilihan dengan alasan-alasan tersendiri.

Penelitian sendiri membuktikan bahwa ada berbagai dampak positif bagi kesehatan jika menjalani gaya hidup vegetarian ini, seperti menurunnya risiko alergi, jantung lebih sehat, rendahnya kadar kolesterol dalam darah dan lain sebagainya.

 

Prinsip Gaya Hidup Vegetarian

Gaya hidup vegetarian sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu vegan (benar-benar hanya mengonsumsi produk tumbuhan), lacto vegan (masih mengonsumsi susu beserta olahannya), ovo vegan (mengonsumsi telur), serta semi vegan (mengonsumsi susu, telur, dan ikan). Banyak tokoh jenius dunia yang juga menerapkan gaya hidup vegetarian ini. Sebut saja Leonardo Da Vinci, Steve Jobs, Paul McCartney, juga Albert Einstein.

Menurut Wied Harry Apriadji, seorang pakar nutrisi dan kuliner sehat alami, vegan pada prinsipnya adalah harus berpola makan sehat, yaitu 70% makanan pembentuk basa dan 30% makanan pembentuk asam. Dengan asupan yang seimbang ini, maka tubuh akan berada pada pH yang seimbang pula. Sehingga mengakibatkan metabolisme berjalan dengan baik. Makanan pembentuk basa adalah sayur-sayuran segar terutama yang mentah yaitu salad, jus ataupun lalap. Sedangkan makanan pembentuk asam adalah yang mengandung karbohidrat dan protein, serta makanan dan minuman instan.

 

Lalu, amankah gaya hidup vegetarian ini jika dilakukan oleh anak-anak?

Sehat kok, Mak. Bahkan, lebih jauh lagi, Wied Harry memberikan saran-saran berikut ini untuk mengatur pola makan harian vegetarian–termasuk anak-anak–agar gizi tetap terpenuhi.

  1. Konsumsi sedikitnya tiga warna sayuran. Misalnya hijau – putih – oranye (bayam – taoge – tomat), hijau – putih – ungu (kangkung – sawi putih – terong) dan kombinasi warna lain setiap hari.
  2. Konsumsi 2 jenis polong-polongan setiap hari. Misalnya tempe atau tahu, kacang merah atau kacang hijau.
  3. Konsumsi makanan yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya. Misalnya konsumsi nasi campur jagung, ubi, nasi merah. Batasi konsumsi makanan olahan yang sudah lain bentuknya sama sekali, misalnya pasta, mi atau kue)
  4. Lengkapi dengan biji-bijian yang lain, seperti wijen, kenari, kacang mede, almond dan lain-lain yang bisa ditaburkan begitu saja dalam makanan Anda.

Well, mungkin Emak takut ya, jangan-jangan kalau hanya makan makanan vegetarian saja, anak akan kekurangan gizi?

Tak perlu khawatir akan kekurangan gizi, Mak, karena dengan memilih komposisi yang tepat berarti Emak sudah makan dengan benar, hanya tinggal melengkapinya dengan kedisiplinan. Contoh menu vegetarian yang baik misalnya nasi beras merah dengan urap sayuran (wortel, daun selada, kol kukus, taoge, tomat) ditambah tahu putih siram saus tempe dan pepes kacang merah.

Anak yang dilatih gaya hidup vegetarian tak akan kalah prestasi dengan anak-anak bergaya hidup kebanyakan, malah dengan nutrisi yang optimal bisa saja tubuhnya tumbuh lebih besar ketimbang teman-temannya di sekolah.

Namun, juga bukan berarti gaya hidup ini adalah gaya hidup yang paling sehat dan sempurna. Semuanya tetap tergantung pada pola makan yang dijalani masing-masing, bagaimana mereka menerapkan aturan pola makannya. Benar atau tidak, disiplin atau tidak.

Nah, tertarik untuk mengajak anak Emak untuk mencoba gaya hidup vegetarian ini? Kenapa enggak dimulai sekarang?