Ada yang tidak  tahu cerita Aladdin dan Jasmine? Saya sudah familiar dengan Film Aladdin sejak bocah dulu, lalu ketika versi animasinya wara-wiri di bioskop tahun 1993, saat aku sudah SMP kelas dua.

Yes, I’m that old.  Hayo, lagi ngitung kan berapa usiaku sekarang?  Tapi bukan itu poin utamanya.  Film Aladdin sudah familiar banget buat sebagian banyak orang. bahkan OSTnya ada banyak versi. Mulai dari versi asli yang dinyanyikan Peabo Bryson dan Regina Belle, atau duet Lea Salonga dan Brad Kane sampai cover version dari Indonesia yang dinyanyiin Tulus dan Raisa. Enam  tahun sebelum  live action besutannya Guy Ritchie ini keluar.

Makanya aneh, kalau ada yang tidak tahu sama serial ini. Kecuali kalau kalian tinggal di dalam gua yang jauh dari peradaban, hehehehe.

Waktu Alladin dijorokin sama Jafar ke sebuah gua buat ngambil  lampu wasiat, Genie yang diperankan oleh Will Smith ini rada bete. Soalnya, Aladdin yang diejek dengan sebutan Si Monyet Pasar  ini tidak tahu siapa dia.  Genie yang versi live actionnya tetep komikal dengan ekspresinya itu berusaha menjelaskan siapa dia dengan sederhana. Kurang lebih seperti ini ngomongnya:

“Kamu beneran nggak tau siapa aku? Aku adalah jin yang bisa ngabulin harapan itu lho”

Tetep saja Aladdin dengan kepolosannya nggak ngerti.  Meski akhirnya dia dan si Genie cepet jadi sahabat dengan syarat  cuma bisa mengabulkan 3 permintaan saja.

Eh tadi aku bilang sahabat ya?

Ralat dikit, karena bagi Genie, tidak ada istilah sahabat, yang ada hanya ada hubungan tuan dan pesuruh.  Genie ga bisa ngapa-ngapain kalau ga disuruh. Walau dalam kenyataannya si Genie ini lebih dari 3 kali dari limit seharusnya.

Dialog-dilog dalam film ini dengan cerdas menjadikan Genie menolong Alladin sebagai teman, bukan sebagai  budak atau suruhannya itu. Yang namanya manusia emang banyak maunya. Ayo cek  wish list kalian. Coba kalau dibatasi maksimal boleh pilih hanya 3 saja. Bakalan bingung  nggak? Bakal nawar nggak?

Aladdin dan 3 Permintaan untuk Dunia Baru

 

Film Aladdin : 3 Permintaan untuk Dunia Baru

Selama dua jam lebih dikit sebenernya tak ada gagasan baru yang disodorkan film ini dengan versi animasi sebelumnya.  Kostum pemain yang colorful,  seperti yang ada di film-film India, dan kocaknya kelakuan Will Smith sebagai Genie alias jin jadi penyelamat film ini dari ancaman kebosanan.

Tadinya kupikir beberapa lagu  yang hadir akan jadi  poin tersendiri yang  bikin penonton terkenang-kenang dan nyanyi-nyanyi setelah keluar dari studio. Tapi sayangnya lagu yang muncul kurang relateddengan cerita seperti  di film The Greatest Showman misalnya.

Buatku pribadi nggak ada lagu yang membekas kecuali A Whole New World yang memang udah populer duluan.

Karakter antagonis dalam film Aladdin ini adalah Jafar (Marwan Kenzari), penasihat Sultan (Navid Nehgaban)  yang berambisius sekali mengambil alih tampuk penguasa.  Sama kayak kecap, yang ga ada yang mau ngaku sebagai nomer dua, Jafar juga sebel selalu jadi yang kedua, hanya jadi penasihat.

Dalam sistem pemerintahan yang menganut monarki kerajaan, dia nggak bisa jadi raja karena bukan keturunan Sultan. Makanya dia nggak kepikiran merayu hati Jasmine yang  cuma bisa dijodohkan dengan Pangeran Anders (Billy Magnussen) yang konyolnya amit-amit  dan iilfil-able.  Ih kok anak raja gitu amat.

Aladdin yang punya kecepatan tangan luar biasa kayak pemain sulap ini ga sengaja bertemu Jasmine yang lagi nyamar ke pasar dan nyolong perhiasannya. Dasar Aladdin yang terlalu polos dia ga sadar kalau korban copetnya itu anak Sultan. Dia percaya begitu saja dengan informasi samaran Jasmine yang diceritakan.

Film Aladdin : 3 Permintaan untuk Dunia Baru

Aladdin jatuh cinta dengn Jasmine karena kecantikannya.  Bukan karena dia seorang puteri.  Wajar aja kalau Aladdin nggak ngeh karena sepanjang usia, Jasmine hidup dalam pingitan.

Jasmine yang perhiasannya sempat dicuri bukannya sebel tau Aladdin adalah pencopet tapi dia terpesona dengan kebebasan yang Aladdin miliki.  Jadilah mereka saling suka tapi dua-duanya kurang peka. Aladdin nggak peka dengan perasaan Jasmine, dan Jasmine ga nyadar dengan samaran Aladdin sebagai pangeran ala-ala.

Samarannya kurang meyakinkan sih walau udah pake baju pangeran.  Aladdin dan Ali ya itu-itu aja secara kasat mata. Ah, Jasmine gimana, sih?

Perang antara si baik dan si jahat jadi plot utama cerita ini ditingkahi dengan nasihat-nasihat klasik dan lucu dari Si Genie dan mengabaikan kisah cinta di antara Si Genie dan dayangnya Jasmine, Dalia (Nasim Pedrad) yang norak dan sedikit lemot.

Kalau sisi ini digali lebih banyak bakal lebih seru lho menurutku. Apalagi kalau ga ada Si Genie, aku tuh yakin banget kadar gemesnya film Aladdin bakal meluncur drastis.

Ngomong-ngomong soal wishes alias harapan, aku tuh jadi keingetan soal doa yang harus spesifik alias detil dan nggak boleh asal doa. Nyumpahin orang misalnya. Itu termasuk doa juga.  Gimana kalau sat kita lagi nyerapahin orang,  malaikat di kanan kiri kita mendoakan hal yang sama? Hayooo lho!

Film Aladdin : 3 Permintaan untuk Dunia Baru

Balik lagi soal doa, mintanya  sama Tuhan aja, ya, Jangan minta sama yang lain.  Biarlah Aladdin aja yang minta sama Si Genie kayak di salah satu scene-nya. “Jadikan aku pangeran.”

Pangeran apa coba? Salah dia juga kalau akhirnya  statusnya dia sebagai pangerannya nggak jelas dari mana dia berasal.  Atau Jafar yang kelewat maruk dengan ambisinya, walau udah diingetin jangan asal ngomong karena bisa kalau udah kepalang ngomong ga bisa di-undoatau direvisi.  Aku pengen ketawa waktu Genie menjelaskan soal ini dengan geli. Kayak mau bilang gini:

“Kan dari tadi juga udah kubilang, yang jelas kalau minta itu. Ya tanggung sendiri lah risikonya.”

Tanpa dikasih tau, siapa saja udah bisa bisa nebak seperti apa ending yang akan didapatkan di film Aladdin ini.  Iyes, happy ending dan yang rakus bakal menuai ketamakannya. Kadang apa yang kita harapkan itu sebenarnya hal sederhana yang orang lain miliki sementara kita sendiri kurang bersyukur dengan apa yang kita miliki.

Bukan berarti film ini jadi kita skip aja alias nggak usah nonton.  Tetap menghibur untuk ditonton bersama keluarga. Konflik yang disuguhkan dikemas dengan ringan, nggak ribet buat dicerna.