Setiap manusia punya persepsi tentang makna bahagia. Ada yang dimaknai dengan uang yang banyak, pencapaian profesi, mempunyai anak, keliling dunia, berhasil membuat tulisan, banyak berbagi dengan orang lain, dan lain-lain. Setelah target tercapai, apakah kamu merasa bahagia? Hidupmu selesai? Hmm, kamu akan terus melanjutkan hidup. Menciptakan ruang bahagia lainnya.

Untuk mencapai kebahagiaan itu, ada proses.  Saat menjalaninya, kamu melakukan setiap keadaan dengan hati ringan atau menjadi beban.  Karena bisa jadi, proses yang tengah kamu jalani sekarang adalah sebuah cara tersendiri memahami rasa bahagia.  Tidak semua orang mendapat kesempatan sama dan sudah semestinya kita memelihara yang ada. Sampai tak disadari rasa syukur itu melampaui apa yang kamu kerjakan.

Rugi rasanya, kalau kita menjalani sesuatu dengan menggerutu, marah, gelisah, dililit rasa bosan.  Sementara kita tidak tahu kapan kita mencapai puncak yang kita tuju. Tidak pernah tahu kapan kita sampai pada tujuan. Lebih baik kita jalani semua proses seoptimal mungkin, sehingga setiap lembar cerita yang pelik selalu ada tawa dan gembira.

Ada sedikit cerita tentang seorang perempuan bernama Nina (bukan nama sebenarnya).  Dia merasa bosan dengan kehidupannya.  Berbelas tahun menikah tidak juga memiliki anak.  Dia ingin punya anak, sehingga apapun kegiatan yang dilakukannya menjadi tidak menarik lagi.

Kalau lihat dipermukaan, dia termasuk orang beruntung.  Punya rumah di komplek elit, penghasilan suaminya lebih dari cukup, kebutuhan finansial terpenuhi.  Bisa melakukan dan membeli ini itu untuk mengusir rasa bosannya, bahkan dia bekerja dan traveling untuk menghibur diri.  Tapi lama-lama, pekerjaan dan traveling pun tidak juga memuaskannya.

Sebenarnya, rumah tangga tanpa memiliki anak bisa saja berbahagia.  Tergantung bagaimana dia mengelola ruang hatinya, ruang bahagia dirinya.  Tentang anak, misalnya, dia bisa saja mengurus anak-anak yatim di panti, anak-anak terlantar, mengurus anak saudara, bahkan ada cara lain dengan mengadopsi.  Nina merasa tidak lengkap kehidupannya tanpa anak, tapi ada juga keluarga lain yang punya anak tanpa kecukupan finansial.  Seringkali kebahagiaan itu dipengaruhi oleh standar masyarakat banyak, sehingga rezeki yang ada sering terabaikan.  Kurang disyukuri.

Standar kebahagiaan orang memang berbeda-beda.  Bisa jadi karena kita terlalu fokus pada tujuan kebahagiaan tertentu dan melupakan ribuan potensi kebahagiaan yang lebih dekat dan sederhana. Ada yang cukup memanfaatkan waktu 15 menit di tengah kesibukannya dengan menyeduh dan minum kopi.  Ada yang perlu 15 jam untuk keluar dari kepenatan dengan melakukan jalan-jalan dan makan di tempat mewah.  Ada yang meluangkan banyak waktu untuk membaca buku, ada pula yang meluangkan waktu dengan sebentar terlentang di atas karpet.

Setelah kepenatan hati aman terkendali, dia pun kembali berkarya dan bergerak.  Masalah bentuk kegiatan yang dilakukan tergantung dari pribadi masing-masing.

Memanfaatkan waktu, mengisi kesempatan, menciptakan ruang-ruang yang bisa menghidupkan hati sangatlah penting.  Tanya pada diri, apa yang kamu suka.  Lihat lingkungan terdekat, rasakan, dan potensi apa yang paling ada sekarang untuk dikerjakan.

Seandainya kita benar-benar tidak ada waktu luang untuk diri sendiri, kita bisa kok menjaga rutinitas menjadi proses-proses yang menyenangkan.  Kita harus membuat hati menjadi ringan. Katakan pada diri bahwa aku riang gembira dan senang dengan keadanku sekarang.  Karena apapun keadaan kita, hidup haruslah terus berjalan.  Kita punya 2 pilihan dalam mengelola persepsi: mau menjalani rutinitas dengan senang atau menjalani rutinitas dengan menggerutu.  Saya yakin, semua ingin menjalani rutinitas dengan menyenangkan dan indah seperti di iklan-iklan dan IG story.

Katakanlah setiap hari kita harus bangun lebih cepat karena harus menyiapkan sarapan pagi, persiapan sekolah anak-anak dan ayahnya ke kantor, belum harus bebenah rumah agar bersih dan nyaman.  Kalau situasi ini dipandang sebagai beban, pergerakan badan dan kepala kita akan bertambah berat.

Beda ketika kita melihat rutinitas pagi itu menjadi situasi yang asik dan bergairah.  Coba pasang musik kesukaan, mandi dengan air dingin, semprotkan pewangi ruangan di tengah rumah, buat menu makan pagi berbeda-beda setiap pagi, bangunkan anak-anak dengan candaan, suasana akan terasa lain.  Sehingga suasana pagi menjadi variatif, asik dan menyenangkan.  Bahagia itu bisa diciptakan, semua ada dibalik persepsi.

Seseorang pernah bilang, bahwa dia tidak punya waktu luang untuk dirinya sendiri.  Nah, bagaimana kalau persepsinya dibalik menjadi begini, waktu luang untuk diri sendiri yaitu pekerjaan yang dilakukannya.  Seperti menyiram tanaman, bermain-main dengan anak-anak, menyapu halaman, lihatlah suasana sebentar lalu puji diri sendiri.  “Wah, kamu hebat, Bun!.”  Itu sangat menyenangkan, lho!.

Begitupun untuk para Ayah, waktu luang yang menyenangkan adalah ketika berdiri di atas bis seperti pejalan yang senang melakukan perjalanan sambil melihat burung yang beterbangan semetara musik mengalun indah di balik ear phone.  Bahkan, kita pun bisa menggunakan waktu perjalanan menuju kantor dengan membuat puisi-puisi maupun sketsa.

Banyak hal-hal yang menarik pada diri dan disekeliling kita yang bisa dinikmati namun luput dari pandangan.  Seringkali kita melihat sesuatu yang besar dan jauh dari jangkauan.  Padahal bisa jadi mencari bahagia itu tidak jauh, cukup melihat situasi terdekat lalu tanyalah hati kecilmu.  Ayo, kamu mau melakukan apa agar hatimu bahagia. Menciptakan ruang bahagia itu mudah kok.

***

Menciptakan Ruang Bahagia di Setiap Keadaan merupakan post trigger #KEBloggingCollab dari kelompok Susi Pudjistuti yang ditulis oleh Ima Rochmawati.

Ima, pengelola blog www.matakubesar.com dan tinggal di Bandung, Jawa Barat. 

FB: @imatakubesar

IG: @imatakubesar

Twitter: @Imatakubesar