Ia serupa ilalang yang terus tumbuh meski dipangkas berkali-kali. Benar, ia memang seringkali nyaris mati, tapi entah bagaimana, dia akan berakhir hidup dan baik-baik saja. Mungkin, karena kebebalannya itu, El Maut nampak bosan bertandang padanya. Untuk itulah, aku mencintainya.

“Perempuan sepertimu tidak akan bisa menjadi kekasihku,” ucapnya di sela kepulan asap rokok yang terus menerus menari di sekeliling kami. Di mataku, asap-asap itu adalah El Maut yang tengah menyamar, mengincar paru-parunya yang terlampau hancur, menunggu dia letih sendiri dan memilih mati sebagai jalan hidup.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kenapa apanya?” Ia sering sekali lupa apa yang baru dikatakannya, membuatku harus mengerutkan kening, apakah dia hanya bercanda atau benar-benar lupa.

“Kenapa perempuan sepertiku tidak akan bisa menjadi kekasihmu,” ujarku akhirnya, mengalah. Aku sungguh berharap, lelaki sepertinya yang menjadi kekasihku. Meskipun untuk alasan yang belum kumengerti seluruhnya. Aku hanya merasa nyaman berada di dekatnya, dan ingin selamanya bersamanya. Ha ha! Jatuh cinta ternyata memang bisa membuat seseorang gila.

Ia menatapku lurus, seperti lupa pada rokoknya yang kini hampir mengabu seluruhnya karena lama tak diisap, membuatku jengah. Matanya sedikit coklat, dan entah kenapa atau bagaimana, aku tak bisa berlama-lama memandangnya. Gegas, aku menunduk, mereguk tequillaku hingga tandas, menikmati cairan itu membakar leher dan perutku.

“Aku bukan lelaki baik-baik,” ujarnya murung. Ia lantas menerawang ke arah jendela, meskipun tak ada apapun di sana yang bisa dilihatnya kecuali gelap yang sempurna pekat.

Aku nyaris tergelak saat mendengar kalimatnya itu, rupanya dia tidak sadar telah membuat lelucon terlucu abad ini. “Aku ini seorang pelacur, ingat?” tanyaku seraya berusaha keras menahan tawa. Perempuan sepertiku tidak berhak bagi lelaki macam mana pun, maka pernyataannya itu sungguh absurd. Dan sekali lagi, itulah kenapa aku begitu menyukainya, mencintainya bahkan, dan kalau bisa menjadi kekasihnya. Meskipun tentu saja, definisi ‘kekasih’ untuk perempuan sepertiku akan sedikit berbeda artinya.

Jeda tercipta beberapa saat. Rokoknya kini menjelma puntung yang teronggok bersama teman-temannya di gelas wiski kosong. Ia rupanya bosan merokok, karena kotak rokok berisi beberapa batang rokok baru tak lagi menarik minatnya.

“Kenapa kau menyukai lelaki tua sepertiku?” tanyanya lagi, mengabaikan pertanyaanku sebelumnya, dan kembali menatapku.

Aku tertunduk, menatap kuku-kuku jariku yang malam ini berwarna merah menyala, serupa dengan lipstik yang kupakai. Pertanyaannya juga selalu menjadi pertanyaanku. Dan sayangnya, aku belum berhasil menemukan jawabnya.

Mungkin, aku terpukau pada kerut berkeriut yang menghiasi wajahnya. Mungkin aku terpana pada rambutnya yang hampir mengelabu. Mungkin aku terpesona pada sosoknya yang telah bertahan dari berbagai macam bencana kehidupan. Mungkin aku ….

“Entahlah,” jawabku parau, menghentikan sendiri seluruh kata ‘mungkin’ yang melintas di kepala. Kutatap mata coklatnya beberapa detik, lantas kembali tertunduk menatap kuku-kuku jemariku yang masih tetap merah. Kudengar ia mengesah, seperti kecewa pada jawabanku yang memang tidak memuaskan.

“Aku ke toilet dulu,” ujarnya seraya beranjak. Membiarkan aku sendiri di meja panjang bar yang memang sdah sepi sedari tadi.

“Kautahu kenapa aku suka lelaki yang jauh lebih tua dariku, Joe?” tanyaku pada si bartender yang serius sekali mengelap gelas-gelas tinggi.

“Kau tidak tahu?” tanyanya dengan mimik tak percaya. Aku mengedikkan bahu, lantas menggelengkan kepala. “Ah … aneh sekali.”

“Kenapa, Joe? Kautahu alasannya?” desakku lagi. Seraya mengingat-ingat, pada lelaki seperti apa cintaku pernah bertambat.

Selain Si Lelaki Ilalang –aku akan menamainya demikian mulai sekarang- aku pernah juga jatuh cinta pada seorang pelangganku bertahun lalu. Lelaki itu pun sama tuanya dengan Si Lelaki Ilalang. Lelaki itu mencariku bukan untuk bercinta, meskipun aku bisa kembali membangkitkan kejantanannya yang mungkin sudah lama menghilang. Tapi ia hanya ingin ditemani tidur hingga pagi, benar-benar tidur tanpa aktifitas lainnya yang tidak perlu. Dan ia dengan murah hati, memberiku hadiah jika bersedia memeluknya dengan hangat saat ia terlelap.

Aku mencintai Pak Tua itu diam-diam. Mungkin karena ia tidak menganggapku sebagai perempuan hina yang tak layak dihargai. Mungkin karena permintaannya yang sangat mudah tapi dengan bayaran yang sangat mahal. Mungkin karena aku merasa dibutuhkan sebagai sesosok makhluk yang bernama manusia. Entahlah, aku tidak terlalu tahu. Pak Tua terlanjur meninggal beberapa bulan kemudian, membawa serta seluruh cinta yang belum sempat kuucapkan padanya.

Sebelumnya lagi, aku merasa belum pernah benar-benar jatuh cinta. Tentu saja, lelaki-lelaki muda yang rupawan dengan stamina serupa kuda selalu mengagumkan. Beberapa di antara mereka menyukai kecantikkanku, memintaku menjadi istri simpanan, atau sekadar kekasih musiman. Acapkali aku bersedia menerimanya, tapi tak pernah ada cinta untuk lelaki-lelaki seperti mereka.

Maka, ya, sepertinya aku hanya mencintai lelaki-lelaki tua. Seperti mendiang Pak Tua, dan Si Lelaki Ilalang yang entah sedang apa di toilet lama sekali. Dan Joe mungkin tahu alasannya.

“Ayolah, Joe, katakan padaku, kenapa aku hanya mencintai lelaki-lelaki tua seperti pria itu?” Joe tersenyum, tangannya tetap lincah mengelap dengan cermat setiap gelas kristal dan menyimpannya di rak dengan hati-hati.

“Mungkin karena kau merindukan ayahmu.”

“Oh …” Aku hilang kata. Benarkah alasannya hanya begitu? Hanya karena hal semacam itu yang membuatku mencintai Pak Tua dan Si Lelaki Ilalang?

Joe mengibaskan tangan, seraya berkata, “itu pendapat konyolku saja. Tidak usah terlalu dipikirkan,” katanya santai. Lantas tak berapa lama pergi entah kemana. Meninggalkan aku yang kini benar-benar sendiri, hingga kemudian Si Lelaki Ilalang kembali datang.

“Mari kita pulang,” ujarnya seraya memeluk pinggangku. Dihirupnya aroma rambutku kuat-kuat, lantas mengecup tengkukku sekilas.

“Tolong. Katakan kau juga mencintaiku,” desakku lagi, sedikit memaksa. Mencengkeram stoolku menolak beranjak dari sana. Setidaknya, sampai ia mengakui kalau dirinya pun mencintaiku. Setiap kali ia datang, ia hanya ingin aku yang menemaninya, bahkan saat ada perempuan-perempuan muda yang jauh lebih cantik ditawarkan padanya. Ia hanya memilihku. Hanya aku. Bukankah itu pertanda yang terlampau jelas?

Dia menggeleng-gelengkan kepala. “Sudah kubilang, aku bukan lelaki baik-baik.”

“Aku juga bukan perempuan baik-baik,” potongku cepat.

Ia mengesah, seperti lelah. Lantas mencium keningku meskipun tadinya aku berharap dia akan mencium bibirku.

“Aku Ayahmu, Nak. Itulah kenapa aku tidak bisa menjadi kekasihmu,” ujarnya parau.