Anak Penakut – Suara raungan motor terdengar jelas dari pintu masuk tempat saya registrasi acara motor. Saya berdua Mada datang ke acara motor, menyusul Pak Gondrong –suami saya- yang sudah stand by duluan di lokasi. Motor-motor custom beraneka jenis hilir mudik dengan kecepatan rendah di sekitaran pintu masuk.  Saya mengamit tangan Mada menghampiri tenda tempat teman-teman Pak Gondrong berkumpul.

“Mada, ayo kita salaman dulu yuk sama teman-teman Bapak. Ada Oom Juri nih, yang waktu itu ngasih hadiah ukulele lukis,” ajak saya.

Mada bergeming di belakang saya. Tangannya masih kencang memegangi baju saya. Saya berusaha menghiraukan sikapnya itu dan tetap memasang mode ceria. “Eh, itu ada Oom Steven. Ibu mau salaman dulu sama Oom Steven nih. Tuh ada Oom Karjo, Oom Koplo. Wah teman-temannya Bapak banyak ya,”

Mada masih mengekor dan menutup wajahnya dengan baju saya. Beberapa teman Pak Gondrong ada yang menghampiri Mada dan mengajaknya bercanda. Enggak mempan. Saya pun memanggil Pak Gondrong yang sedang mengecek motor di paddock area. Setengah jam kemudian, Mada baru bisa beradaptasi dengan teman-teman Pak Gondrong. Lari-larian. Ikut-ikutan mengecek motor.  Memanggil semua teman-teman Pak Gondrong yang dekat dengan dirinya. Fiyuhhh.

Suatu hari saya membicarakan hal tersebut dengan Pak Gondrong. Mengapa Mada seperti anak penakut. Karena, kejadian di atas bukan sekali dua kali terjadi.  Dan, yang bikin jidat saya berkerut kejadian di atas hanya terjadi jika Mada ke acara motor atau yang menyangkut dunia Bapaknya. Saat Mada bepergian berdua dengan saya ke acara musik, menjenguk saudara, bermain di playground dan tempat-tempat yang ramai, ia bisa menunjukkan sikap sopan, bersahabat dan mudah berbaur.

“Wajar Mada penakut, karena kata Ibuku itu waktu kecil aku juga penakut,” jelas Pak Gondrong. Saya kurang puas dengan jawaban suami. Kami berdiskusi panjang untuk mengatasi Mada yang selalu sulit beradaptasi di lingkungan motor Bapaknya.  Kami berdua saling bekerjasama mengatasi rasa takut Mada.

Tanggal 17 Agustus lalu, selain menjadi hari ulang tahun Republik Indonesia, komunitas motor Pak Gondrong juga berulang tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu ada perayaan acara motor. Tahun ini tema HUT komunitas Pak Gondrong yaitu “Ngegaruk Tanah”.  Lokasi acaranya di lapangan berbukit seluas 3 hektar.

Saya meminta Pak Gondrong untuk pergi ke acara berdua Mada, sementara saya menyusul sore harinya. Oh yes, it will be his first experience ya menghabiskan waktu seharian berdua dengan Mada.  Saya membawakan beberapa diapers, baju ganti, cemilan siang hari, susu kotak untuk siang dan sore. Perkakas komplit.

Jam setengah 3, saya menelpon Pak Gondrong, mengecek tentang Mada. Alhamdulillah, aman. Bahkan, saat saya menyusul Mada di lokasi acara, beberapa teman Pak Gondrong kompak menjawab “Mada enggak nangis kok Ibu Ayya. Tadi main sama Bapaknya bentar trus lari-larian naik turun bukit sama Oom Karjo,”.  Ada yang sempat menyarankan, “Lain kali kalau Mada ke acara motor berdua sama Bapaknya aja, Ibu Ayya. Klo datang berdua Ibunya pasti nempel deh,” Saya manggut-manggut.

Akhirnya dari segala cara untuk menaklukkan rasa takut Mada di lingkungan motor Bapaknya, saya menggarisbawahi penyebab Mada selalu bersikap demikian. Saya sadar Pak Gondrong kurang menstimulasi Mada dengan kegiatan-kegiatan layaknya Bapak Anak, seperti bermain bola di luar rumah atau belanja berdua. Hubungan Bapak Anak tak cukup hanya melalui kedekatan fisik. Meskipun, saya rajin mengajak Mada ke berbagai acara dan kegiatan, tetap ya anak laki-laki itu butuh peran Bapaknya apalagi kalau Bapaknya tinggal serumah.

Untuk mengatasi anak penakut pada suatu hal, berikut beberapa tips yang saya peroleh dari berbagai sumber :

  • Jika anak takut pada hantu dan sejenisnya, ajarkan orang-orang di sekitarnya untuk tidak membiasakan diri menakut-nakuti anak Anda supaya anak mau makan atau mau tidur. Kalau anak sudah terlanjur mengenal konsep hantu, jangan menjadikan hantu sebagai hal menyeramkan. Lebih baik ajarkan doa-doa “supaya anak berani”.
  • Jika anak takut pada orang asing atau lingkungan di sekitarnya, jangan paksa anak untuk langsung berbaur. Ajarkan anak pelan-pelan untuk lebih mengenal orang-orang di sekitarnya.
  • Jika anak penakut pada gelap, Bapak/Ibu bisa mencoba bercerita tentang hal-hal mengasyikkan saat suasana gelap. Misalnya, di langit yang gelap bisa melihat ribuan bintang atau bulan yang terang. Atau mencoba permainan bayangan sebelum tidur/saat mati lampu.

Intinya, anak makin besar usianya makin terlihat rasa takutnya pada suatu hal. Karena itu penting kerjasama Bapak-Ibu atau pengasuh terdekat untuk menciptakan lingkungan yang positif.

***

Anak Penakut, Faktor Keturunan Atau Kurang Stimulasi ? adalah post trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Rina Soemarno yang ditulis oleh Maria Soraya.

Maria Soraya seorang blogger di www.mariasoraya.com dan juga seorang transcriptor.