Pernahkah melihat anak merasa sedih dan kecewa hingga menangis tidak terima saat menerima kenyataan bahwa ia kalah dalam satu kompetisi? Pasti pernah ya. Kita sebagai orang dewasa saja pernah merasa sangat kecewa dan sedih dengan kekalahan. Apalagi jika kekalahan itu terus menerus berulang terjadi. Rasa sedih, pesimis hingga putus asa  akan dirasakan. Hal yang wajar jika anak menangis kecewa, namun jangan sampai berlarut tidak ingin berkompetisi lagi. Karenanya penting sejak dini mendidik atau mengajarkan anak menerima kekalahan dari segala apa pun. 

Pentingnya Mengajarkan Anak Menerima Kekalahan dan Pahit Manisnya

Sesungguhnya kekalahan tidaklah seburuk itu. Jika sejak dini dapat mengerti dan paham tentang arti dari kekalahan dan pembelajaran dibalik kekalahan itu, saat dewasa nanti  akan menjadi pribadi yang lebih kokoh dan kuat.

Orang tua harus menanamkan konsep berpikir yang baik tentang pahit manisnya kekalahan pada diri anak sejak dini. Hal ini penting agar ia dapat membangun semangat kompetisi positif di masa depannya nanti.

Beberapa hal yang perlu orang tua ketahui tentang pentingnya membangun optimisme anak dalam berkompetisi agar ia dapat merasakan pahit manisnya kekalahan. Hal itu antara lain adalah:

Kalah bukanlah akhir dari segalanya, ia adalah awal yang baik

Sebagai orang tua, sering mendapati anak kecewa dan menangis saat mengetahui kalau dirinya kalah, terlebih jika teman-temannya mulai mentertawakan kekalahannya. Sebagai Ibu berilah Si Kecil pengertian bahwa kalah bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah awal yang baik.

Ceritakan kepada anak berbagai tokoh dunia yang dulunya selalu ditertawakan karyanya, selalu mendapati kegagalan dan kalah ketika bersaing.

“Kenyataannya memang begitu sayang, setiap anak yang dulunya sering kalah akan sukses suatu saat nanti. Karena ia selalu belajar dan terus belajar dari kesalahannya dan penyebab kekalahannya. Itu karena ia tidak pernah menyerah dan terus berusaha.”

Dari kekalahan anak akan mengerti tentang pentingnya usaha dan kerja keras.

Baca yuk tentang Tegas Kepada Anak 

Tentang Rasa Pahit yang Sebenarnya Berproses Manis, Ajak ia untuk Menikmati Proses bukan Hasil

 Tentu pahit rasanya jika kekalahan harus dialami. Tapi, dari kekalahan anak akanberproses untuk memulai satu usaha. Hargai setiap usaha anak dan beri ia semangat untuk terus mengasah kemampuannya. Tanpa kita sadari sebenarnya proses belajar si kecil hari demi hari merupakan kenangan manis yang akan selalu ia kenang.

Bagaimana jika kalah lagi?

Kemukakan pendapat padanya bahwa, “Bagi Mama, Anak Mama adalah pemenangnya. Karena Mama tau anak mama sudah berusaha keras. Bagaimana kalau kita coba lagi? Mungkin kita perlu berulang kali berusaha.”

Ajak anak untuk terus menikmati proses usaha itu. Sebenarnya, apresiasi dan senyuman dari orang yang disayanginya lebih berharga dibandingkan dengan hadiah yang didapatkan. Yakinkan bahwa rasa manis yang ia lalui dari proses usaha yang telah kita apresiasi lebih menyenangkan dibandingkan rasa pahitnya kekalahan.

 Sebenarnya, Selalu Menang Tidak Juga Baik

 Bagaimana dengan anak yang selalu menang setiap berkompetisi?  Pertama, bersyukurlah. Bisa jadi anak telah menemukan bakatnya. Ada beberapa anak yang memang terlahir dari bakat alami yang menurun dari genetik orang tuanya.

Kedua, jangan lengah. Jika anak selalu menang berkompetisi biasanya anak akan pemalas berusaha karena sudah yakin dan terlalu percaya diri bahwa ia akan menjadi pemenang. Hal ini tidak baik dikarenakan rasa malas dan sudah merasa paling baik itu adalah racun yang membuatnya tidak berkembang secara kompetitif.

Bagaimanapun juga anak harus merasakan kekalahan dan belajar dari kekalahan.

Sudah berapa banyak kita melihat anak yang stress ketika dewasa dikarenakan tantangan yang tidak bisa ia lewati? Hal ini mungkin salah satu alasannya adalah ia terbiasa menjadi nomor satu dan pemenang dahulu sehingga tidak siap menerima kekalahan.

Mengajarkan Anak Menerima Kekalahan

Menang yang baik adalah Menang karena Selalu Berusaha

Pernah merasakan iri karena salah satu pemenang kompetisi disebabkan oleh kecurangan? Pernah pula merasa iri karena pemenang kompetisi itu lagi dan itu lagi? Padahal jika diukur dari usaha yang dilakukan mungkin usaha si kecil sudah sangat maksimal.

Tenang saja, jika si kecil terus kita beri semangat sehingga dapat menikmati manisnya proses berusaha maka ketika ia menang nanti rasa puasnya akan berbeda dari kebanyakan. Karena ia puas dengan usahanya sendiri bukan kemenangan instan.

Sandiwara Kemenangan? Kenapa Tidak?

Jika anak sudah pada titik jenuh kemudian sangat berputus asa dan kecewa maka sesungguhnya itu adalah hal yang sangat wajar. Sebagai orang tua kita harus pandai-pandai memberi apresiasi padanya. Salah satunya adalah melakukan sandiwara kemenangan.

Tapi sebelum memutuskan melakukan sandiwara ini, yakinkan dulu bahwa anak kita sudah benar-benar berusaha maksimal karena jika tidak hal ini akan menjadi racun yang membuatnya malas berusaha.

 Sandiwara kemenangan dapat dilakukan dengan memberikan anak hadiah. Katakan padanya bahwa sebenarnya ia sudah menang dan pantas mendapatkan hadiah. Hmm, anak kecil mana yang tidak suka dengan hadiah? Pastinya wujud hadiah sebagai apresiasi usahanya akan membuatnya lebih bersemangat.

Nah, itu beberapa point yang dapat diterapkan dalam mengajarkan anak menerima kekalahan dan menikmati pahit manisnya kekalahan. Ada ide lain? Sharing yuk!

 ***

Pentingnya Mengajarkan Anak Menerima Kekalahan danPahit Manisnya  merupakan post trigger #KEBloggingCollab kelompok Ghea Panggabean yang ditulis oleh Aswinda Utari.

Aswinda Utari, emak blogger yang tinggal di Banjarmasin merupakan penulis blog dari www.shezahome.com.