Semua ibu pasti sayang kepada anak. Tapi, ketika dihadapi dengan satu masalah tentang anak suka menghadapi dilema. Misalnya, ketika anak menginginkan sesuatu. Kalau anak jadi menangis atau marah ketika permintaannya tetap ditolak, kita termasuk ibu yang kejam nggak, ya? Kalau diturutin, apakah ini termasuk rasa sayang kepada anak?

Saya pernah hadir di salah satu acara parenting tentang mencari potensi anak. Mbak Tika Bisono M.Psi.T. yang menjadi salah satu narasumber di acara tersebut mengatakan kalau nggak semua kasih sayang yang orang tua berikan kepada anak itu baik. Malah bisa juga jadi racun kalau salah memberikan. Salah satu contohnya adalah selalu menyuapi dan tidak pernah memarahi anak.

Tegas kepada anak bukan berarti kejam. Tegas juga bukan berarti harus memukul atau mencubit. Duh! Usahakan jangan lakukan itu, ya! Tegas, kan, nggak harus dilakukan sambil marah-marah. Bicara lemah lembut juga bisa tetap tegas.

Realita Parenting

Berdasarkan pengalaman pribadi, yang memicu marah kepada anak justru kalau saya lagi nggak tegas. Nggak bisa menolak permintaan anak, padahal nggak setuju dengan apa yang diminta. Akhirnya saya kasih, tapi sambil marah-marah.

Setidaknya ada 5 hal yang saya lakukan ketika tegas kepada anak, yaitu:

  • Hilangkan Rasa Bersalah

Masalah pertama ketika tegas kepada anak biasanya timbul rasa bersalah. Apalagi kalau sudah lihat wajah anak yang kecewa bahkan menangis. Langsung, deh, timbul rasanya bersalah. Mulai tergoda untuk melonggarkan segala peraturan. Kalau perlu gak usah ada peraturan. Sesukanya anak aja. Asalkan anak bahagia.

Tapi, kalau dipikir lagi, membiarkan anak hidup sesukanya tanpa aturan tentu nggak baik untuk dirinya. Sekolah pertama anak-anak adalah di rumah. Kalau di rumah dibiasakan bebas semaunya, maka ketika berada di lingkungan lain pun bisa seperti itu. Jadi, mulailah hilangkan rasa bersalah. Tanamkan di pikiran dan hati kalau yang kita lakukan adalah untuk kebaikan anak.

  • Tetapkan Aturan dan Beri Penjelasan

Anak biasanya akan bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa. Bertanya terus-menerus, bahkan berulang-ulang. Apalagi kalau peraturannya nggak sesuai dengan yang mereka inginkan. Kadang, pertanyaan tersebut bikin capek menjawabnya, tapi teruslah memberi penjelasan.

Penting bagi anak untuk tahu alasannya. Jangan sekadar diberi peraturan. Biar mereka juga paham kenapa ada peraturan tersebut. Ketika sudah bisa diajak berkomunikasi, biasanya saya libatkan untuk berdiskusi tentang peraturan.

Contohnya adalah jam belajar. Saya punya aturan, anak-anak belajar di rumah usai maghrib. Pulang sekolah, biarkan bermain atau beristirahat dulu. Tapi, bila anak-anak punya usul lain, silakan aja. Ternyata, mereka setuju dengan peraturan dan alasan yang saya berikan. Alasan mereka, setelah hampir seharian di sekolah rasanya capek kalau harus langsung belajar lagi.

Kalau urusan makan, saya termasuk yang tegas nyaris tanpa kompromi. Tidak ada camilan sebelum makan utama. Kalau anak udah ngemil, biasanya akan kekenyangan dan nggak mau makan utama. Tapi, kalau udah makan utama, ngemil jadi secukupnya. Nggak mau makan utama, ya nggak ada ngemil.

  • Konsisten

Anak-anak saya nggak pernah tantrum. Jadi, saya tidak punya tips bagaimana menangani anak tantrum. Tapi, sejak awal, saya dan suami sudah punya aturan tegas tentang jajan.

Kalau ke minimarket, saya kasih peraturan apa saja yang boleh dibeli, termasuk maksimum harganya. Kalau mereka mau lebih dari itu, harus memilih. Nggak nurut, berarti batal jajan. Langsung keluar dari minimarket.

Begitupun dengan jatah membeli mainan. Hanya boleh sebulan sekali. Belinya di hypermarket, sekalian belanja bulanan. Harganya tidak lebih dari 1 buah mobil die cast. Sesekali boleh membeli mainan yang lebih mahal di salah satu toko mainan, tapi kalau ulang tahun atau kenaikan kelas.

Walaupun nggak pernah tantrum, kadang-kadang terlihat dari mata kalau mereka ingin membeli mainan atau jajan di luar jatah. Biasanya, saya dan suami mengelus punggung atau kepala mereka sambil membisikkan kembali tentang peraturan. Kalau mereka masih terlihat ngambek, tinggalin.

Nggak benar-benar ditinggalin, ya. Hanya pura-pura ditinggalin. Biasanya, saya jalan di depan anak, suami di belakang. Tapi, pura-pura nggak perhatiin. Kalau udah begitu, biasanya reda rengekannya. Nanti kalau suasana hatinya udah enak, baru dijelaskan lagi tentang peraturan.

Tentunya tentang jajan dan membeli mainan hanyalah 2 contoh. Pastinya harus konsisten tegas kepada anak dalam banyak hal.

  • Tidak Kaku

Saya masih tinggal bersama orang tua. Ujian ketegasan justru seringkali terjadi di rumah. Rata-rata kakek dan nenek lebih memanjakan cucu. Iya, kan? Saya merasa tegas, tapi kadang-kadang dianggap terlalu keras kepada anak.

Contohnya, nih, ketika anak-anak ingin tidur bersama kakek-neneknya, saya seringkali melarang. Kalau mereka udah ketiduran, saya selalu menggendong mereka untuk kembali ke kamar kami. Biasanya orang tua saya suka protes. Cucunya lagi nyenyak tidur malah dipindahin.

Padahal saya sudah beberapa kali menjelaskan. Kalau pada saat itu, anak-anak masih suka bangun di tengah malam. Bila nggak langsung ketemu orang tuanya, bisa dipastikan mereka akan langsung segar dan main sampai pagi. Jadi berantakan jadwal tidurnya.

Tapi, kalau lagi hari libur, aturannya agak longgar. Walaupun risikonya menjelang masuk sekolah, saya kembali harus mengetatkan aturan. Nggak apa-apa, lah.

  • Terus Semangat

Konsisten itu berat. Sekali nggak konsisten saja, peraturan yang udah dengan tertib dijalankan mungkin bisa mentah lagi. Seperti contoh di atas, ketika saya agak melonggarkan jam tidur saat liburan.

Kalau sudah begitu, rasanya pengen terus bikin aturan ketat. Tapi, kadang-kadang saya kasihan juga. Apalagi kalau liburan, kan, mereka juga ingin bermain lebih lama. Terutama bila liburan dengan keluarga besar. Kadang-kadang mereka ingin tidur lebih larut malam dari aturan yang ditetapkan yaitu harus sudah tidur paling telat pukul 9 malam.

Sesekali bolehlah mereka longgar dari peraturan kalau alasannya memang tepat. Kalaupun harus mentah lagi kebiasaannya, kuncinya adalah terus berkomunikasi dengan anak-anak. Mengingatkan mereka kalau ini hanya boleh di waktu tertentu saja. Dan pastinya saya beserta suami harus tetap semangat kembali tegas bila anak-anak mulai longgar dengan peraturan.

Begitulah cara saya dan suami tegas kepada anak-anak. Bila melanggar, biasanya kami lakukan hukuman bertahap. Pertama hanya mengajak bicara, menegur, memarahi, hingga memberikan sanksi lain.

Ketika anak-anak masih kecil memang ada aja yang bilang kami tega. Kadang-kadang, saya juga gak tahan mendengarnya. Tapi, sekarang udah mulai jarang, malah nyaris gak ada yang menganggap seperti itu. Mungkin karena sudah melihat hasilnya. Anak-anak cukup disiplin dalam berbagai hal.

Jadi, masih menganggap tegas kepada anak berarti kejam?

***

Tegas Kepada Anak Bukan Berarti Kejam merupakan post trigger pertama #KEBloggingCollab dari kelompok Siti Nurbaya, yang ditulis oleh Myra Anastasia.

Myra Anastasia. Emak blogger yang memiliki 2 blog aktif, yaitu www.kekenaima.com (parenting) dan www.jalanjalankenai.com (traveling).