Siapa nih yang suka nonton film dan baca buku? Pengin tahu tips menulis resensi buku/film?

Nah, Teman-teman KEB, yang pastinya kebanyakan adalah blogger, setiap habis nonton atau baca buku pasti dong ingin menulis kesan yang didapat setelah menonton atau membaca buku tadi. Kesan dan pengalaman selama nonton atau baca dan dituangkan dalam bentuk tulisan ini bisa disebut resensi.

Resensi yang ditulis teman-teman blogger mungkin saja sedikit berbeda dengan resensi yang ditulis media resmi. Perbedaannya biasanya di gaya tulisannya. Menulis untuk blog sesuai dengan gaya pemilik blognya, sementara menulis resensi untuk media disesuaikan dengan gaya tulisan dan karakter medianya.

 

Pengertian Resensi.

Menurut Wikipedia, resensi berasal dari bahasa Belanda resentie dan bahasa Latin recensio, recensere atau juga revidere yang artinya mengulas kembali. Resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya. Karya yang dinilai dapat berupa buku dan karya seni film dan drama.

Menulis resensi itu berarti kita menulis kelebihan, kekurangan dan informasi yang diperoleh dari karya dan disampaikan kepada masyarakat.

Sedangkan menurut KBBI, resensi adalah pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku: hasil kesenian, kesusastraan, dan sebagainya

Tidak ada “aturan” yang benar-benar pakem untuk menulis resensi. Namun tentunya, kita ingin resensi kita menarik dan dibaca banyak orang kan?

  1. Pilih buku/film yang akan diresensi

Buku/film yang kayak gimana sih yang sebaiknya diresensi? Tidak ada batasan, Mak. Kalau bisa sih semua buku dan film yang ditonton ditulis resensinya. Lumayan untuk update blog kan? 🙂

Kiat Menulis Konten Viral

Bagusnya, nulis buku/film baru atau lama nih?
Kalau mau dikirim ke media, sepertinya lebih bak mencari buku/film yang baru dan sedang populer. Kalau untuk blog sendiri, bebas. Mulailah dari buku/film yang paling disukai. Karena “memuji” itu akan lebih mudah ketimbang “mengritik”.

  1. Baca buku sampai selesai / Tonton film sampai selesai.
    Ini penting ya, Mak. Soalnya kalau tidak sampai selesai ya, bakalan susah juga dong bikin resensinya. Nah, sembari membaca/menonton, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
  • Alur cerita. Pada intinya, ceritanya seperti apa. Kalau perlu boleh dicatat di kertas. Tuangkan dalam 2-3 kalimat, yang penting kita bisa ingat saat mau menulis. Poin ini berlaku untuk cerita fiksi. Untuk non fiksi, pahami saja isinya, secara garis besar tentang apa saja. Dan, output macam apa yang diharapkan nanti.
  • Perhatikan tokohnya. Siapa saja? Terutama sih tokoh utamanya. Untuk buku fiksi/film, memang akan lebih banyak yang harus diperhatikan. Tapi di situlah asyiknya.
  • Catat/ingat adegan-adegan yang menarik dalam buku/film tersebut. Ini nanti akan jadi kelebihan buku yang bisa ditulis dalam resensi.
  • Catat juga hal-hal yang sekiranya mengganjal, misalnya ada yang aneh, atau tidak konsisten dalam cerita. Atau ada bagian yang missed. Ini barangkali bisa jadi catatan yang bisa ditulis juga nanti.
  1. Setelah selesai membaca, sebisa mungkin langsung tulis.
    Iya, soalnya kalau sokbesok ntarentar itu bakalan berpeluang lupa, Mak.  So, apa saja nih yang ditulis?
  • Data buku atau film.
    Misalnya terdiri atas:
    Judul:…
    Penulis:…
    Penerbit:…
    Tebal:…
    ISBN:…
    dan seterusnya.

    Kalau film:
    Judul:…
    Pemain:…
    Sutradara:…
    Produksi:…
  • Foto buku atau poster film.
    Untuk poster film biasanya ada rilis dari rumah produksinya, jadi boleh saja ambil dengan Googling. Jangan lupa cantumkan sumber. Kalau buku, bisa foto sendiri ya.
  • Kalau yang diresensi buku, maka berikutnya setelah data, tuliskan juga blurbnya, sinopsis buku yang ada di bagian belakang sampul.
  • Lalu, yang berikutnya, tulis deh review kita.
    Caranya bisa memulai resensi dengan menuliskan kembali alur cerita dengan kata-kata sendiri. Tapi, hati-hati jangan spoiler ya.
  • Setelah alur cerita, lanjut ke tokoh dan karakternya. Si A ini orangnya begini beginu. Si B ini begini beginu. Untuk film, bisa juga dibahas kostumnya
  • Setelah cerita dan tokoh, selanjutnya bisa ke unsur ekstrinsik dan intrinsik lainnya yang memang perlu dibahas. Unsur intrinsik itu misalnya setting ceritanya, baik setting waktu atau tempat. Misalnya ada yang spesial, sebaiknya ditulis. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yg membentuk cerita dari luar cerita itu. Misalnya ada cerita berlatar belakang tahun 1998, di seputaran kampus Trisakti. Bisa jadi ada unsur latar belakang kerusuhan Mei 1998 yang memengaruhi.
  1. Ulas kelebihan dan kekurangan dalam buku/film
    Nah, di sinilah catatan tentang adegan yang menarik atau ganjalan yang tadi dilakukan akan berguna. Tidak perlu terlalu teknis. Apalagi kalau untuk ditampilkan di blog.
    Sejauh pengalaman kita sebagai pembaca atau penonton saja sudah cukup kok, untuk kelebihan dan kekurangan ini. Tidak perlu juga merasa takut dan berpikir semacam, “Ah, aku mah apah atuh. Nggak ngerti cara nulis novel, masa mau nulis kekurangannya?” Karena, justru insight dari pembaca/penonton awam seperti kita ini malah bagus untuk penulis/penerbit/rumah produksi film itu. Jadi pede aja kasih ulasan bagus/tidaknya. Pokoknya just write what you think deh. Kalau bagus, tulis bagus. Kalau ada kekurangan, atau ada yg gagal paham, ya tulis saja.

Kalau mau ngritik, yang pasti, kritiklah karyanya. Hasilnya. Bukan orangnya. Bukan penulisnya. Itu pasti akan jadi kritik yang objektif, and acceptable.

  1. Publikasikan
    Resensi bisa dikirim ke media, atau dipublikasikan di blog sendiri. Untuk resensi buku, kita juga bisa  menuliskannya di Goodreads. Atau di IMDb atau Letterboxd untuk film.

 

Nah, bagaimana? Sudah nonton film/baca buku apa hari ini? Yuk, tulis resensinya! 🙂