Di era informasi digital seperti sekarang, hampir semua orang memanfaatkan internet untuk berbagi informasi. Baik itu informasi yang penting dan dibutuhkan banyak orang, sampai ke info tidak penting, yang tidak ada urgensinya sama sekali. Bahkan hebatnya lagi internet memungkinkan info tidak penting dan hoax bisa jadi viral.

Nah, yuk, kita bedah sedikit mengenai konten viral ini. Seperti apa sih biasanya konten yang viral itu? Atau, apa yg mesti kita lakukan supaya konten/info yang kita tulis atau posting di internet bisa berpeluang viral juga?

Ada banyak faktor yang bisa menentukan sebuah artikel itu akan viral atau tidak. Beberapa di antaranya bisa kita usahakan (dengan sengaja), tapi sebagian lagi yang lain ada faktor keberuntungan.

Sebelumnya, sudah tahu belum, pengertian dari konten viral?

Konten viral adalah konten yang menyebar dan di-share oleh banyak orang dalam waktu cepat. Biasanya sih sebarannya melalui berbagai platform media sosial seperti Facebook, Twitter, IG, WhatsApp dst.

Seberapa banyak dan seberapa cepat konten harus menyebar dan kemudian bisa disebut konten viral? Lantas yang seperti bagaimana sih konten yang bisa going viral itu?

 

Kiat Menulis Konten Viral

 

Apa saja sih kriteria untuk konten viral?

1. Positif/Negatif

Konten-konten yang viral biasanya seperti dua sisi mata uang. Kalau tidak berefek sangat positif,  ya, sangat negatif. Tidak ada konten viral yang memiliki efek biasa-biasa saja bagi audience-nya. Jadi buat para Emak Blogger, kalau mau menulis konten viral, maka buatlah yang positif banget atau yang negatif banget sekalian. Jangan setengah-setengah ya, Mak! Hehehe.

Namun, tentu saja, perlu dipikirkan juga efek ke belakangnya. Tentunya, yang negatif itu lebih banyak tidak enaknya. Logikanya seperti itu. Enaknya, ya, jadi terkenal. Tapi masa iya mau terkenal karena hal yang negatif? 🙂

2.  Sense of urgency

Konten viral biasanya berhubungan dengan hal-hal yg urgent, yang sudah menimbulkan “kegelisahan”. Contoh ter-Emak Blogger, nih. Ada job yang meminta Emak untuk mempunyai DA blog tinggi. Sementara DA blog Emak tidak sesuai target. Situasi ini dimanfaatkan oleh Makmin untuk menulis artikel tentang tips menaikkan DA. Nah, bisa berpeluang viral tuh! Apalagi kalau artikel tersebut aplikatif dan mudah dipahami, serta memenuhi berbagai kriteria konten berkualitas lain, sehingga mencapai standar user experience yang bagus.

Atau, misalnya lagi, ada sebuah peristiwa yang merenggut nyawa banyak orang. Kemudian ada yang menyebarkan berita hoax terkait peristiwa tersebut. Misalnya mengeluarkan daftar nama korban. Pasti tersebar dengan cepat. Cara mengecek berita hoax, baca artikelnya di link berikut ya:

6 Cara Ngecek Berita Hoax dan Mencegah Diri Sendiri Ikut Menyebarkannya

Dalam hal urgency ini, kita berarti harus tanggap terhadap apa yang sedang terjadi dan apa yang dibutuhkan oleh orang-orang. Lalu kalau punya solusi jitu, tuangkan dalam bentuk konten.

3. Related to people

Yang dimaksud dengan related to people di sini adalah ketika banyak sekali orang mengalami hal yang sama dengan kita, tapi somehow belum ada yang membahas secara jitu atau in a unique way. Buatlah konten tentang hal itu, pasti tersebar dengan cepat.

Sebenarnya banyak lho Emak Blogger yang jago bikin konten viral karena keunikannya dan sangat related dengan yang dialami oleh orang-orang. Misalnya, kesulitan yang dialami ibu hamil. Banyak orang pasti tau kesulitan apa saja yang biasanya dihadapi ibu hamil. Tapi coba deh ekspresikan dari sisi yang berbeda. Misalnya, ekspresikan dengan lucu, yang belum terpikirkan oleh orang, tapi sebenarnya dialami oleh ibu hamil. Atau berikan solusi yang unik, yang tidak terpikirkan oleh orang lain.

4. Surprising

Konten viral biasanya adalah konten-konten debunking alias mematahkan fakta yang sebelumnya (mitos). Misalnya, mitos bahwa cokelat itu bikin gemuk. Tapi, kemudian kita tahu bahwa cokelat itu justru bikin kurus. Makan 1 kg cokelat, bisa bikin kita kurus dalam waktu 3 hari. Wah, bisa jadi viral tuh, Mak!

Konten viral bisa “meruntuhkan” pemahaman orang pada umumnya.

5. Full of Emotion

Berdasarkan pengamatan, konten yang bisa viral itu adalah konten yang memunculkan rasa simpati yang tinggi. Cuplikan foto dengan caption, “Gaes, kasihan deh ibu ini. Jalan dari sono sampe sini, 17 km, sambil bawa sekarung barang bekas bla bla bla …” , pasti mengundang simpati  dan akan dishare banyak orang.

Artikel tentang perjuangan melewati masa depresi atau melalui masa-masa pahit dalam hidup, biasanya  going viral. Sebabnya karena artikel-artikel seperti itu menimbulkan simpati pada pembacanya.

Apalagi kalau cara menulisnya sangat luar biasa banget–full of emotion–tapi tidak emosional, konten itu mampu mengundang simpati yang tinggi, bahkan bisa jadi pembacanya ikutan menangis saking tersentuhnya.

Konten yang memiliki satu saja dari lima kriteria di atas, memiliki peluang untuk viral. Punya kelimanya? Dijamin viral!

 

Apakah sebuah konten bisa jadi viral begitu saja?

Ada beberapa hal yang juga jadi faktor pendukung keviralan sebuah konten.

1.  Punya judul yang catchy/persuasif.

Judul adalah hal yang sangat krusial. Pembaca biasanya membaca judul terlebih dahulu sebelum isinya. Judul yang catchy/persuasif berpeluang besar menarik orang untuk melihat keseluruhan konten.

Tapi ingat, ya, jangan gunakan judul clickbait. Judul clickbait dan judul persuasif itu berbeda jauh.

Judul adalah penentu pertama orang mau baca konten kita.

2. Gambar yang menarik.

Kalau kontennya konten blog, pastikan featured imagenya menarik. Gambar blur, gelap dan tidak jelas, sudah pasti tidak menarik untuk dishare. Ya kan?

3. Target audience yang pas.

Bagikan konten tersebut ke audience yang tepat. Misalnya kontennya tentang parenting, ya bagikan di komunitas atau sekelompok orang yang memang memerlukan informasi seputar parenting. Memilih target audience yang tepat membuat konten akan dishare dan direkomendasikan kepada teman-teman mereka lainnya yang memiliki masalah yang sama.

4.  Mudah dishare.

Konten mudah dishare. Kalau diposting di media sosial, pastikan akun kita settingnya publik. Kalau diposting di blog, pastikan di blognya ada tombol untuk share artikel.

 

Konten apapun yang kita share di internet pasti ada pembacanya. Tidak viral? Tetap saja ada 1 atau 2 orang terdekat kita yang membaca/melihat. Apalagi konten viral. So, pastikan jadi pengguna internet yang bertanggung jawab, baik sebagai pembuat konten maupun sebagai pembaca.

The people who are crazy enough to think they can change the world are the ones who do. – Steve Jobs