Pada bulan Oktober lalu, merupakan bulan kunjungan ke museum di Kota Yogyakarta. Bukan gerakan pemerintah sih, tapi gerakan dari beberapa NGO yang peduli dengan sejarah dan budaya bangsa Indonesia.

Sebagai kota wisata, Yogyakarta menyediakan paket lengkap untuk para wisatawan baik dari daerah atau provinsi di luar Yogya, maupun wisatawan mancanegara. Mau wisata kuliner, banyak dan murah. Wisata pantai, terbentang di antara Bantul, Wonosari dan Gunung Kidul. Mau wisata budaya, ada. Wisata museum? tinggal pilih museumnya. Ada yang tiket masuknya murah meriah, ada juga yang harga tiketnya lumayan. Tapi tidak menguras kantonglah.

Dan sehubungan dengan bulan Museum, kali ini kita berwisata ke museum. Banyak museum di Yogyakarta, yang masing-masing punya sejarah dan keunikan tersendiri. Salah satu museum yang sering dikunjungi wisatawan bahkan menjadi tempat favorit sekolah-sekolah di Yogyakarta untuk Field Trip adalah Museum Dirgantara Mandala.

Mungkin karena lokasinya yang terletak di tengah kota, dan tentu saja harga tiketnya murah. Sangat murah!

Mengapa ke Museum Dirgantara Mandala? 

Di museum ini, kita bisa belajar banyak tentang perjuangan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Sejak dari pintu masuk, pemandangan museum yang hijau asri, ditingkahi dengan pemandangan pesawat-pesawat terbang yang mempunyai nilai sejarah. Selain itu, pengunjung disambut oleh Monumen Patung dari 4 orang Pahlawan TNI AU yang nama-namanya menjadi nama bandara di kota-kota Indonesia yaitu Marsekal Muda Anumerta Halim Perdanakusuma, Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda Anumerta Prof.Dr. Abdulrachman Saleh, dan Marsekal Muda Anumerta Iswahjudi.

Museum ini dibangun untuk mengenang dan memperingati peristiwa jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA akibat serangan dua pesawat pemburu Kitty Hawk Belanda pada tanggal 29 Juli 1947. Dalam peristiwa ini tiga tokoh perintis TNI AU gugur, yaitu Marsda TNI (Anumerta) Agustinus Adisutjipto, Marsda TNI (Anumerta) Prof.Dr.Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara I (Anumerta) Adisumarmo Wiryokusumo.

Sejarah Museum

Awalnya, Museum Dirgantara Mandala ini berada di Jakarta, tepatnya di Makowilu V Tanah Abang Bukit. Kala itu tahun 1969, yang diresmikan oleh oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Rusmin Nuryadin.

Dengan pertimbangan, bahwa Yogyakarta merupakan tempat lahir dan pusat perjuangan TNI AU periode 1945-1949 serta tempat penggodokan Karbol AAU, di bulan November 1977 Museum AURI di Jakarta dipindahkan dan diintegrasikan dengan Museum di Ksatrian AAU di Pangkalan Adisutjipto, Yogyakarta, dan tanggal 29 Juli 1978 diresmikan sebagai Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Tahun 1984, museum dipindahkan ke Wonocatur, yang pada masa penjajahan Belanda merupakan pabrik gula dan saat pendudukan Jepang digunakan sebagai Depo Logistik.

Berdasarkan sumber di Museum Dirgantara Mandala, saat ini museum memiliki lebih dari 10.000 koleksi komponen alutsista dan 40 pesawat terbang dari negara barat sampai timur, serta terdapat koleksi berupa diorama-diorama, foto-foto, lukisan-lukisan, tanda-tanda kehormatan, dan lain-lain yang disusun dan ditata berdasar kronologi peristiwa.

Adapun koleksi pesawat yaitu:

  • Pesawat WEL RI X merupakan produksi pertama bangsa Indonesia yang dibuat pada tahun 1948 oleh Biro Rencana dan Konstruksi, Seksi Percobaan Pembuatan Pesawat Terbang, Magetan, Madiun, dibawah pimpinan Opsir Udara III (Kapten) Wiweko Supomo. Pesawat ini memakai mesin Harley Davidson 2 Silinder model tahun 1928.
  • Pesawat Pembom Guntai direbut dari Jepang saat Belanda melancarkan aksi blokade terhadap dirgantara Indonesia, pesawat buatan tahun 1930 ini dengan penerbangnya Kadet Mulyono melaksanakan pemboman terhadap kedudukan lawan di Semarang pada tanggal 29 Juli 1947.
  • Pesawat Jet Star merupakan pesawat kepresidenan hadiah dari pemerintah Amerika Serikat kepada Presiden RI Soekarno, pernah digunakan dalam kunjungan ke beberapa negara antara lain Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, dan Thailand.
  • Berbagai jenis pesawat pemburu, latih, dan angkut periode 1950-1965.

Dengan adanya museum ini, selain kepada para prajurit-prajurit TNI AU agar dapat mengambil teladan tentang semangat juang, semangat berbakti, pengorbanan dan kepahlawanan para pendahulunya, untuk kalangan umum dimaksudkan agar bisa belajar dan tidak melupakan perjuangan para pahlawan dalam sejarah negara kita tercinta, Indonesia.

Cara ke Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta

Lokasi museum Dirgantara Mandala Yogyakarta ini berada di sebelah timur jembatan layang Janti,  dan berada di lingkungan komplek AURI Yogyakarta.

Untuk mengunjungi museum, bisa menggunakan pribadi atau pun kendaraan umum, seperti :

– Bus Transjogja dengan nomer rute 1B atau 1A : turun di halte Bus Tranjogja di bawah jembatan layang janti. Dari Halte Bus, jarak ke museum sekitar 400 meter, jika ingin berjalan kaki. Bisa juga menggunakan ojek atau becak, dengan biaya sekitar Rp 5.000,-

Info tentang Museum Dirgantara Mandala

Jam Buka:

– Setiap hari pukul 08.00 – 15.00 WIB

Tiket Masuk

– Pengunjung Perorangan: Rp 4.000,-

Fasilitas

– Perpustakaan

– Auditorium

– Mushola

– Toilet

– Tempat parkir

Kontak:

– Alamat Museum: Komplek Pangkalan Udara Adisucipto Yogyakarta (Blok O)

– Telepon (0274) 484453

– Email: [email protected]