Hari-hari membakar habis diriku.Setiap kali aku ingin mengumpulkantumpukan abuku sendiri, jari-jarikuberubah jadi badai angin.Dan aku mengerti mengapa cinta diciptakan
Emak-emak Fans garis keras AADC dan genk Cinta mana suaranyaaaa? hihihihi.
Bagi banyak orang, film Ada Apa dengan Cinta? 2 merupakan sebuah nostalgia yang telah lama ditunggu-tunggu, bahkan ada yang sampai nonton 2-3 kali ya kabarnya? Ada yang nonton dengan orang yang sama saat nonton 14 tahun lalu kah? 😀
Saya? Saya tidak termasuk di dalamnya #lho?
Saat film AADC pertama dirilis, saya sudah kuliah, dan bukannya tidak ingin menonton, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Zaman itu di Jatinangor belum ada bioskop (jadi harus ke Bandung!), dan kalau pun ada, sepertinya saya akan memilih membeli seporsi makan siang daripada membeli tiket bioskop. Maka saya hanya menonton di TV bertahun-tahun kemudian, dan tentu saja, menyukainya. Meskipun tidak sampai menjadi pemuja DiSas atau pengagum NicSap he he.
Maka bisa dimengerti jika kemudian, alasan saya menonton film AADC2 adalah karena Aan Mansyur. Karya Aan pertama yang saya baca adalah kumpulan cerita berjudul Kukila tahun 2012 lalu, sejak itu saya resmi menyukai karya-karyanya.
Bagi saya, menikmati puisi adalah sebuah keistimewaan tersendiri, karena puisi (sekali lagi, bagi saya) termasuk fiksi yang sulit dimengerti. Jika dibandingkan novel atau cerpen, jumlah puisi yang saya baca tidak bisa disebut banyak. Mungkin karena bahasa puisi terkadang bersayap dan samar, multi-interpretasi dan kadang berbunga bercabang bertunas *halah*.
Tapi tidak demikian dengan puisinya Aan. Buku puisinya ‘Melihat Api Bekerja’ sudah menjadi bukti. Diksinya sederhana, tetap membumi, walaupun maknanya (sebagaimana puisi pada umumnya) dalam dan ‘melangit’.
Begitu juga Tidak Ada New York Hari Ini, puisi-puisi ‘Rangga’ di dalamnya berisi kerinduan-kegalauan-kesendirian tokoh Rangga di film AADC2. Pasti sudah hapal penggalan kalimat “Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang” itu kan? 🙂
*Note: Iya, itu bukan typo kok, memang ada spasi antara “di” dan “kenang” dalam buku. Sepertinya “kenang” di sana adalah preposisi, bukan prefiks.
Tidak Ada New York Hari Ini bukanlah Tidak Ada New York Hari Ini tanpa foto-foto black and white karya Mo Riza . Street fotografi yang kesemuanya diambil di New York itu menjadi pasangan sepurna bagi puisi-puisi Aan. Keduanya berbeda, tapi seolah berada di jiwa yang sama. Sama-sama memabukkan hehehehe. Ah sudahlah, sila baca sendiri saja ya, Mak, dan bersiaplah meleleh bersamanya :).
AKU INGIN ISTIRAHAT
Aku ingin istirahat mengingatmu, tapi kepalaku sudah jadi kamar
tidurmu jauh sebelum aku mengenal namamu. Aku ingin terpejam
memimpikan wajah lain beberapa jam, tapi kau cahaya telanjang
telentang di sepasang mataku. Aku ingin memintamu bangun, tapi kau
diam dan gerak di lenganku. Kau bunyi dan sunyi di suaraku.
Bagaimana cara menyembunyikan dirimu dari diriku?
Malam ini tidak ada yang sanggup kulakukan selain membuka jendela
dan menatap kekosongan hingga langit menutup matanya yang
tenang dan lapang. Kubayangkan diriku tidur di pelupuknya. Aku
tertelan mimpi. Besok barangkali seseorang entah siapa mengetuk
pintu. Aku bangun dan tidak bisa menemukan diriku lagi.
Aku juga suka banget sama apapun yang berbau puitis filsafat, seakan dunia damai banget kalo baca tulisan tulisan yang dikemas mengundang banyak makna