Penulis: Lusiana Trisnasari

Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib umat Islam yang jika benar-benar kita terapkan sesuai ajaran agama, bisa menjadi mekanisme istirahat bagi jasmani dan rohani manusia. Jasmani dan rohani yang terus-menerus digunakan untuk bekerja serta menjalani kehidupan keluarga dan sosial setiap hari, perlu diperlambat untuk memberi waktu beristirahat, berkontemplasi dan memunculkan energi baru, sehingga seperti dilahirkan kembali di hari Idul Fitri.

Selama 11 bulan, tubuh kita menerima banyak asupan makanan yang sering tidak tertatakar, sesempatnya dan seadanya. Kadang saking sibuknya, kita makan dari warung ke warung yang tak tentu gizi dan kebersihannya. Kadang karena sibuknya, kita makan tak tentu waktu, jam 3 sore atau jam 10 malam.

Selama 11 bulan itu kita disibukkan dengan urusan pekerjaan, rumah tangga dan sosial. Kadang kita pusing dengan ulah karyawan yang tidak bisa diatur. Kadang kita berantem dengan tetangga karena urusan sampah. Kadang kita memarahi anak setiap hari karena malas belajar. Saking emosinya, kadang kita tidak berpikir hal-hal yang membahayakan diri kita, langsung melabrak sopir angkot yang menyalip mobil kita dengan ugal-ugalan.

Di bulan Ramadhan, tubuh mendapatkan kembali ritme asupan yang teratur, dimulai dari buka dan ditutup dengan sahur. Setelah itu, sistem pencernaan tubuh dibiarkan beristirahat selama setengah hari. Demikian pula dengan rohani kita. Selama setengah hari pikiran kita diforsir pekerjaan dari pagi hingga sore, lalu dibiarkan beristirahat dan berserah pada Allah SWT sejak maghrib hingga subuh.

Namun kenyataannya jauh dari mekanisme ideal tersebut. Sejak seminggu sebelum puasa, ibu-ibu sudah pusing membuat stok bahan makanan dan kue-kue. Setiap hari ibu-ibu pusing memikirkan menu yang akan dihidangkan. Begitu buka puasa, kita merasa harus memberi hadiah pada tubuh kita dengan makan makanan yang berlebihan. Akibatnya tubuh ibu-ibu tidak istirahat, demikian juga dengan pikiran. Malah pikiran mendapat beban tambahan, dan tubuh kaget karena dari kosong langsung makan serba banyak serta berkarbohidrat dan berlemak banyak.

Hubungan sosial juga tidak bertambah baik karena kita tetap kejar setoran untuk Lebaran. Buka bersama, terawih dan tadarus tidak pernah dilakukan bersama-sama dengan para tetangga yang jarang bertemu. Di socmed yang banyak di-upload justru foto-foto bukber di restoran-restoran mewah bersama teman-teman kantor atau kolega, yang sebenarnya sudah setiap hari berurusan dengan kita. Di televisi, acara masak malah meningkat dibandingkan hari biasa.

Jadi emak-emak, mari kita kembalikan lagi hakekat puasa Ramadhan, yang seharusnya menjadi bulan yang penuh amalan ibadah dan sedekah, bukan bulan yang penuh makanan di meja makan rumah kita. Kita makan yang sewajarnya saja seperti hari lain.