Laporan dari Mak Alaika Abdullah, Srikandi Blogger 2013

Semangat sore emak-emak cantik dan sahabats emak semua. Semoga tetap dalam keadaan sehat dan semangat pagi walau saat membaca postingan ini sahabat sedang berada pada zona waktu lainnya yach! 🙂

Well, postingan ini adalah lanjutan dari postingan ini dan ini, yang telah dirilis oleh Mak Lusiana, tentang acara keren bertajuk Asean Blogger Festival 2013, yang baru saja dilangsungkan di Kota Solo. Tentu banyak artikel yang telah diterbitkan oleh para blogger partisipan acara ini, di blog mereka masing-masing, yang pastinya telah familiar di mata dan pikiran sahabats semua kan? Namun, ga ada salahnya toh membacanya lagi di sini, pasti akan menambah nilai pengetahuan bagi kita semua, bener kan ya? 🙂

Day 2, Edisi Lanjutan

Seperti yang telah ditulis oleh Mak Lusi, bahwa hari kedua dari festival ini tidak bisa dianggap ringan. Seminar dan workshop bo’. Kebayangkan? Presentasi dan diskusi mewarnai hari kedua ini dari pagi hingga sore harinya. Bosen? Engga juga lho, walau ga bisa dipungkiri bahwa ada satu dua pemateri yang tampil dengan ‘score’ yang kurang menawan, yang sudah pasti tak akan mewarnai postingan ini. 🙂

Hampir semua partisipan tentu sepakat, bahwa Pak Hermawan Kartajaya, the president of World Marketing Association [WMA], memang tampil aduhai dan kharismatik! Dengan bahasa Inggrisnya yang mudah dimengerti, sang Founder/CEO MarkPuls, Inc, ini cuap-cuap memaparkan tentang isu2 menarik seputar marketing changing dan peranan Blogger secara global dalam menyikapi perubahan-perubahan tersebut.

Pak Hermawan membuka sesinya dengan ucapan salam, yang dilanjutkan dengan separagraf percakapan yang langsung menyedot perhatian dan konsentrasi partisipan, bahwa menurutnya, masa depan Asean dan dunia ini adalah bergantung kepada para PEMUDA, [the youth]! Bukan hanya kepada para SENIOR!

Hermawan Kertajaya

Hermawan Kertajaya

Menurutnya, senior only will think about the past, while the young people will always think about the future! Langsung disambut oleh tepuk tangan meriah dan antusiasme dari para partisipan. J

Selanjutnya, pemaparan beliau menjadi semakin menarik dan hidup. Partisipan terlihat ‘turut’ tanpa jemu dalam setiap kalimat-kalimatnya yang memang menimbulkan semangat.

“Don’t leave the future to the man only, because man in general will always think about money, sex and power. Sometime they use money to get sex and power, and some time they use power to get sex and money. “

Kembali tepuk tangan membahana, perhatian partisipan semakin tersedot ke bapak yang kharismatik ini. Bahwa masa depan Asean memang akan bergantung kepada generasi muda, wanita dan netizen. [Young people, women and netizen]“

Youth:Karena generasi muda biasanya akan jauh lebih aktif, kreatif dan berenergi dibanding para seniornya.

Women: jika ditinjau dari sisi marketing, maka kaum hawa dinilai memiliki power yang jauh lebih baik dibanding kaum adam, sehingga wajar jika ujung tombak marketing mayoritas dikuasai oleh para wanita dan sasaran marketing juga dikuasai oleh mayoritas kaum yang satu ini.

Netizen: era digital telah menjadikan penduduk dunia virtual/maya kini mendapat tempat terpandang sebagai salah satu ujung tombak promosi/marketing. Testimoni mau pun ulasan-ulasannya tentang sesuatu [produk/jasa, dan lainnya] lebih diperhitungkan dan dipercaya dibandingkan iklan yang dipajang atau disiarkan oleh media2 lainnya.

Berdasarkan tiga hal di atas, lebih jauh lagi Pak Hermawan juga menegaskan, agar Bloggers kini dapat semakin smart dalam merilis tulisan-tulisannya. Hendaknya Bloggers tak hanya bertindak sebagai penulis, tapi juga mampu menjadi creator, publisher dan marketer.  Wow! Keren kan jadi Bloggers? 🙂

Selanjutnya Pak Hermawan juga menguraikan tentang 13 games changer Blogger as marketer. Menarik banget deh, untuk lengkapnya, mending langsung simak di video presentasi beliau pada link ini [http://aseanblogger.com/video-abfi] deh. Biar dapat feelnya, ok sahabats emak semuanya?

Seperti yang telah disebutkan di dalam postingannya Mak Lusi, maka beberapa pemaparan dari pemateri lainnya juga turut mengisi acara pada hari ini, bagi yang berminat bisa langsung menuju ke ‘rumah’ Asean Blogger Community untuk informasi lengkapnya yaaa. 🙂

Malam harinya, panitia berbaik hati memberi kebebasan kepada para partisipan untuk memilih, mau ikutan acara Mangkunegaran Art Festival yang bertempat di Keraton Mangkunegaran, atau punya acara lain seperti keliling kota Solo atau just stay at the room. 🙂

Saya sendiri, bersama rekan Blogger Bandung memilih untuk main dan menyaksikan sejenak the Art Festival, namun karena ga kebagian tempat duduk, akhirnya kami melipir cari makan malam. Seorang teman merekomendasikan untuk having dinner at the café 3 tjeret. Sebuah café yang unik, yang ornamen2nya banyak memanfaatkan barang daur ulang. Its go green! I like it!  🙂

Day 3

Acara hari ketiga juga masih diwarnai dengan diskusi, namun sifatnya sudah jauh lebih ringan. Pagi harinya, dimulai dengan tajuk ‘Exchange of View and Sharing of Experience’, yang menampilkan para Bloggers negeri tetangga [Philipine, Malaysia, Singapore, Thailand, Myanmar, Cambodia, Vietnam, Lao, Brunei Darussalam]. Mereka tampil menarik, memperkenalkan keindahan dan sumber daya negerinya. Diakhiri dengan session tanya jawab di setiap akhir presentasi dari masing-masing presenter.

Setelah coffee break, sesi berikutnya adalah break out session, dimana seluruh partisipan diberi kebebasan untuk memilih salah satu topic of group discussion yang tersedia. Ada “Asean’s Plans Against Cybercrime”, “Freedom of Expression”, Interest of Governance Forum”, “Culinary of Asean Blog”, dan “Building Bloggers Communities in Asean Member States”.

Saya sendiri sebenarnya tertarik untuk ikutan discussion group “Freedom of Expression”, tapi ternyata teman-teman telah mendaftarkan saya di group “Culinary of Asean Blog”, ya sudahlah. Ikut aja. J Dan ternyata, tidak terlalu menawan, karena ga sesuai minat. Hehe. Tak ape, kata orang seberang.

Break Out session ini berlangsung kurang lebih 1 jam, langsung dilanjut dengan Break Out session kedua, dengan tema yang berbeda. Dan Alhamdulillahnya, saya berkesempatan untuk ikutan dalam group yang membahas tentang “Asean Blogger Action Plan for Asean Community Building”.

Diskusi yang sesuai minat memang selalu akan menarik perhatian, ya kan sahabats emak? J. Dalam sesi ini, kami mendiskusikan tentang langkah-langkah ke depan, the follow up from this festival. Mau dibawa kemana Asean Blogger Community ini. Diskusi berlangsung seru, banyak masukan yang diperoleh diantaranya adalah usulan untuk menindak lanjuti pertemuan ini dengan mengadakan aktifitas-aktifitas seperti blogger exchange antar daerah di Indonesia, mengadakan event bersama antar beberapa negera seperti funbike dan memaksimalkan website Asean Blogger dengan menambahkan aggregator. Juga ada usulan agar segera dibentuk Asean Blogger Community Group [di facebook misalnya], sebagai tempat para peserta ini bisa saling keep in touch dan berinteraksi.

Selain daripada itu, juga telah disepakati sebuah action plan, sebagai the road map for the next step for Asean Blogger Community, yang kemudian dibacakan di acara penutupan [dan saya mendapat kehormatan untuk membacakannya lho, J], di hadapan ibu Gusti Kanjeng Ratu Wandan Sari Kusmurtiah, Pengageng Sasono Wilopo Keraton Surakarta, dan juga di hadapan Bapak Dirjen Kerja Sama Asean, Kementerian Luar Negeri RI [Bapak Igusti Wesaka Puja].

Nah, setelah lunch, partisipan dibagi dalam dua kelompok, sesuai dengan minat tujuan wisata yang diinginkan. Ada dua destinasi yang bisa dipilih, yaitu berwisata ke museum manusia purba di Sangiran atau main ke Candi Sukuh. Saya dan teman-teman Blogger Bandung memilih ke Sangiran. Sebenarnya saya sendiri sih udah pernah main ke ‘the home land of Java man’ ini, bahkan tulisan saya mengenai manusia purba yang terinspirasi dari kunjungan pertama ke museum itu, mendapatkan penghargaan sebagai pemenang pertama lomba menulis di blog tentang Manusi Purba atau Nabi Adam, sebagai manusia pertama di muka bumi. 🙂 #Pengumuman, emang penting yaa? Hihi. Tapi, demi kebersamaan, akhirnya saya main lagi deh ke museum Sangiran ini, sekalian re-check, adakah pemerintah daerah yang berwenang melakukan maintenance yang baik [setidaknya memadai] untuk perawatan museum megah ini?

Sepulang dari wisata, sore harinya, ternyata masih ada momen penting lainnya yang harus kami hadiri. Sebuah momen dalam upaya menghijaukan Kota Solo bertajuk “Urban Forest” atau Hutan Kota.

Disana, kami disambut oleh Pakde Blontankpoer, sesepuh Komunitas Blogger Bengawan Solo didampingi oleh Pejabat Pemerintah Kota Solo dan PT Telkom Indonesia, Solo. Prosesi penanaman pohon di kawasan yang terletak di bantaran sungai Bengawan Solo itu berlangsung khidmat. PT Telkom menyumbangkan 1000 pohon untuk ditanam, yang secara simbolis dilakukan pada hari itu, dengan meng-inklud-kan partisipan dari ASEAN Blogger Festival.

Pakde Blintankpoer menjelaskan bahwa kawasan tersebut dulunya adalah pemukiman penduduk bantaran sungai. Dan selalu dilanda banjir yang ganas setiap sang Bengawan Solo meluap. Pendekatan persuasif yang dilakukan oleh Pemko Solo akhirnya berhasil menggerakkan hati penduduk untuk pindah ke lokasi yang baru, yang tentunya lebih layak. Tempat yang ditinggalkan ini pun akhirnya dijadikan hutan kota sekaligus sebagai taman yang kelak dapat menjadi salah satu area wisata andalan Kota Solo.

Saat ini memang belum ada “hutan”-nya tetapi datanglah 5 tahun mendatang, maka kawasan ini akan rindang dan sejuk oleh pepohonan ,”kata Pakde Blontank.

Acara seru selanjutnya masih belum berakhir lho, sahabats emak. 🙂

Panitia dan Pemko Solo telah mengagendakan sebuah acara yang really-really fun dan langka. Pernah kebayang naik bis wisata bertingkat yang hanya ada di Kota Solo? Bernama Werkudara? Wow, seru banget lho!

Bus tingkat ini hanya ditawarkan kepada wisatawan yang ingin berkeliling Solo. Lokasi yang bisa dituju, antara lain Keraton Surakarta, Kampung Batik Kauman dan Laweyan, Mangkunegaran, Museum Radya Pustakan dan sejumlah tempat lainnya. Bus tingkat dapat mengantar wisatawan sesuai keinginannya.

Screen Shot 2013-05-23 at 18.31.59

sumber foto: http://pasargedhe.wordpress.com/2012/07/16/bus-tingkat-werkudara/

 Kami diajak berkeliling kota di malam hari, dan bergantian untuk duduk di lantai atasnya. Ketinggian bus itu sendiri sekitar 4.5 m dari permukaan tanah/jalan [bukan permukaan laut lho yaa!} J]. Rasanya seruuuu banget! Apalagi atap lantai duanya itu [terbuat dari terpal], dibiarkan terbuka, sehingga kita bisa menatap langit dan menikmati indahnya gemintang. Tapi kayaknya ga ada tuh yang peduli dengan gemintang yang tersenyum cemerlang. Habis, pada asyik foto-foto, nyanyi dan menjerit riang gitu sih. Apalagi saat bis melewati jalanan dengan pohon yang daunnya lebat dan menjangkau bis, kami yang sedang asyik beraksi untuk difoto, harus merunduk agar tidak tersapu oleh dahan dan dedaunan yang menyambar nakal. 🙂

serunya di atas lantai 2 bis Werkudara, sumber foto: http://www.facebook.com/DeathCr0t

serunya di atas lantai 2 bis Werkudara,
sumber foto: http://www.facebook.com/DeathCr0t

Sungguh sebuah petualangan seru yang berkesan, kebersamaan ini hendaknya jangan cepat berlalu #eh kok malah nyanyi. Sayangnya the moment was very short. Hiks.

Well, sahabats emak, reportase ini belum berakhir, masih menyisakan hari ke empat [Day 4], yang juga merupakan hari kepulangan para partisipan ke tempat tinggalnya masing-masing, tentu setelah acara pagi harinya [bertualang dengan kereta api uap, Sepur Kluthuk Jaladara. Nantikan liputannya di reportase berikutnya yaaa. 🙂

to be continued