Beberapa hari lalu di blog pribadi, saya membuat tulisan yang judulnya Tidak Mau Terlalu Melarang. Bukan berarti saya tidak pernah melarang, loh, Maks. Saya pernah melarang, bahkan anak-anak saya pun pernah ngambek karena larangan saya. Untuk lebih jelasnya silakan berkunjung saja ke blog pribadi saya itu 🙂

Kalau postingan di blog pribadi, saya menulis tentang larangan, lalu bagaimana kalau kita selalu menuruti kemauan anak? Boleh gak, ya? Hmm … menurut saya yang namanya terlalu apapun itu gak boleh, ya, Maks.

Ada keluarga yang saya kenal cukup dekat, anaknya yang berumur hampir 4 tahun sering sekali mengamuk, kita sebut aja namanya DA. Yang saya tahu, keluarganya memang selalu menuruti apa yang diinginkan anaknya. Terkadang apa yang diinginkan dan caranya itu kurang baik menurut saya. Misalnya, nih, waktu anak saya lagi makan es, tau-tau main direbut aja. Tentu aja anak saya protes dan langsung merebut kembali esnya. Udah ditebak, anak ini nangis guling-guling sambil jejeritan.

Ibunya bukannya ngebujukin dan kasih tau anaknya malah lebih memilih membujuk Nai sambil bilang “Esnya buat DA aja, ya? Nanti Nai dikasih uang buat beli es lagi.” Nai menolak penawaran itu. Saya lega dengan sikapnya Nai sekaligus membuat saya gak perlu turun tangan. Kecuali kalo Nai lebih memilih menerima uang dan memberikan esnya, pasti saya akan turun tangan hehehe. Karena menurut saya itu bukan hal yang benar. Kalau Nai menerima uang, itu sama aja membiarkan terus bersikap seperti itu setia kali keinginannya gak dituruti. Dan mengajarkan DA untuk menggunakan berbagai cara, termasuk yang gak baik, agar kemauannya dituruti. Setiap kali permintaannya gak dipenuhi, DA selalu saja ngamuk. Barang-barang yang ada di sekitar bisa dilempar sama dia. Saya udah beberapa kali kasih tau suaya jangan terlalu menuruti semua kemauannya DA, tapi selalu beralasan “Kasihan, masih anak-anak”.

Anak-anak sebetulnya gak perlu dikasihani, lho. Mereka mampu, kok. Kan dari lahir aja mereka udah belajar bertahan hidup, dengan keluar dari zona nyaman dalam kandungan. Trus belajar menyusui, bicara, jalan, dan lain-lain. Untuk menjadi bisa, pasti mereka ngalamin ‘sakit’ dulu. Kayak belajar jalan, biasanya mereka berkali-kali jatuh tapi gak kapok dan kita juga sebagai orang dewasa gak perlu mengasihani mereka. Yang perlu kita lakukan adalah membimbing dan mengawasi.

Oiya, saya jadi inget, waktu Nai lahir sampai umur setahunan, pernah cobain pake ART. Dan ART ini selalu aja menggendong Nai ke mana-mana. Setiap kali saya tegur, selalu jawabnya “Kasihan kalau sampe jatoh”. Lah, tapi kalo digendong terus kapan Nai bisa jalan? Dan saat itu Nai sempet keenakan, maunya digndong terus. Dan walopun masih kecil, Nai udah tau ke mana dia harus minta gendong. Pasti ke ART, kalo ke saya gak mungkin hehehe. Akhirnya saya belajar tegas. Dan entah karena dari situ atau bukan, tapi Nai baru bener-bener mau belajar jalan sendiri itu sekitar umur 1,5 tahun.

Jadi kalo selalu menuruti kemauan mereka hanya karena kasian, justru malah gak baik buat mereka ke depannya. Kasian beneran, kan, jadinya. 🙂

Hanya sekedar berbagi pendapat, ya, Maks. Gak bermaksud menggurui. Karena yang namanya jadi orang tua blajarnya seumur hidup 😀