946974_10152135726110489_736588370_n

Mengawali Tahun 2014, para makmin sepakat memilih mak Susi Sukaesih atau lebih dikenal sebagai Suzie Icus menjadi Emak of January 2014. Potensi dan kiprah emak yang muda dan single benar-benar tak bisa dipungkiri di dunia pendidikan. Yuk, simak wawancara online berikut.

Nama      : Susi Sukaesih/Icus

Blog        : http://suzieitaco.wordpress.com

Bio          :

Almuni FE UGM. Aktif di dunia pendidikan dengan menjadi pengajar dan Kepala Sekolah di SMK ITACO Bekasi. Menyukai dunia komunitas dan menjadi inisiator komunitas Siswa Wirausaha. Mimpinya ingin terus belajar terutama tentang Manajemen Pendidikan/Socioprenuer. Tertarik dengan Public Speaking, Volunteering, English, Menulis, Bisnis dan ingin menjadi seorang Sociopenuer di bidang pendidikan. Prinsipnya “The more you give, the more you get”.

Twitter : @suzieicus

Facebook : Suzie Icus

email : [email protected]

Sebagai seorang single dan masih muda, pencapaian emak di bidang pendidikan sangat membanggakan. Apa yang membuat emak tertarik di bidang pendidikan?

Mak Suzie:

“The influence of a good teacher can never be erased.” – Unknown

Pengaruh guru yang baik tidak akan pernah terhapus. Pengaruh seorang guru yang baik akan terus melekat sepanjang hayat anak didiknya, bahkan terkadang ketika anak beranjak dewasa, pengaruh guru sama atau bahkan lebih besar dari orang tua. Sejak SD, entah mengapa saya suka sekali ketika guru saya memberikan nilai atas hasil pekerjaan rumah atau ulangan-ulangan, saya suka melihat angka yang tertera di kertas itu. Ada khayalan seandainya suatu saat nanti saya menuliskannya di kertas murid-murid saya. Hal lain adalah, saya senang sekali ketika SMP diajak oleh guru seni rupa untuk mengoreksi hasil ujian catur wulan teman-teman meskipun hanya pilihan gandanya saja. Luar biasa perasaan ketika itu.

Just do the Best for Your Passion!

Selain itu, ketika kuliah saya pernah mengajar Statistika Komputer di D3 FE UGM. Pengalaman mengajar tersebut sangat luar biasa, saya sangat menikmati ketika mempersiapkan materi mengajar, menikmati ketika menerangkan di depan kelas dan mereka memahami, menikmati ketika ada yang bertanya dan bisa menjawab dengan baik, menikmati ketika mengoreksi hasil ujian mereka. Lanjut mengajar di tahun 2009 sampai sekarang, saya mendapatkan kepuasan tersendiri ketika mengajar. Semua priceless, alias tak ternilai dengan rupiah!

Dengan mengajar maka saya akan terus belajar dan mengupgrade ilmu. Untuk menghasilkan generasi yang unggul, maka peserta didik harus mendapatkan partner belajar yang baik. Terakhir, guru kita mempunyai peran strategis terhadap pembentukan karakter peserta didik untuk bangsa yang lebih maju. Seperti kita ketahui, guru mempunyai peran strategis dalam kemajuan suatu bangsa, bahkan ada yang menyebutkan profesi di dunia itu hanya ada 2, guru dan bukan guru … just kidding …. :p, karena gurulah yang mencetak profesi-profesi hebat lainnya. Bahkan di Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik, menempatkan profesi guru sebagai profesi yang prestisius. Pemerintah di negara tersebut hanya mengambil lulusan top 10 university yang masuknya juga konon lebih sulit dari Fakultas Kedokteran.

1504064_10151979726873743_1858322072_n

Makmin: Menjadi guru itu susah, apalagi mendirikan sekolah. Paling banter orang baru berani buka les-lesan. Apa yang membuat emak bertekad mendirikan sekolah?

Mak Suzie:

Awalnya tidak terpikir untuk mendirikan sekolah. Ketika awal karir mengajar di sebuah SMK yang kebetulan mayoritas siswa ekonomi bawah, saya menginisiasi beberapa teman untuk menjadi kakak asuhnya bahkan ada yang tadinya hampir putus sekolah. Kemudian setelah tidak mengajar lagi disana, ada kejadian yang menjadi titik balik hidup  saya. Saya mendapat kabar yang mengejutkan dari sekolah lama. Seorang siswa putus sekolah dan bekerja sebagai Waitress sedangkan dia akan naik ke kelas 3. Dari temannya saya mendengar, bahwa dia berhenti karena tunggakan biaya sekolah yang cukup besar dan sekolah tidak peduli. Saya berusaha mengajaknya untuk kembali ke sekolah dan memberikan pengertian kepada orang tuanya bahwa biaya akan di bantu orang tua asuh. Ibu nya juga bersikukuh untuk tidak melanjutkan pendidikan putrinya karena alasan ekonomi, selain itu dia mengatakan bahwa dengan bekerja putrinya tersebut bisa membantu perkonomian keluarganya. Saya pulang dengan perasaan campur aduk dan merasa bahwa saya telah gagal.

Akhirnya siswa saya pun putus sekolah dan kemudian bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Kemudian dia bercerita juga 2 adiknya yang masih SMP terancam tidak melanjutkan ke SLTA. Saya terpikir untuk membantu anak yang tidak mampu melanjutkan ke SLTA tersebut dengan mendirikan sebuah lembaga kursus pelatihan IT, karena jika membangun sekolah saya merasa belum mempunyai kemampuan dan juga tidak mempunyai modal. Namun saya berfikir jika membuka lembaga kursus untuk mereka, maka akan kurang bekal kemampuan yang di berikan kepada mereka selain itu usia mereka pun masih sangat muda untuk bekerja sehingga kemungkinan di terima pun kecil.

Mei 2012 dengan bismillah, akhirnya saya bilang kepada atasan saya untuk bisa membangun institusi sendiri, yang kemudian diberi nama SMK ITACO http://smkitaco.com atau Imperial Technology, Automotive and Accounting College. Saya bingung memulainya darimana, karena pada awalnya saya hanya ingin membantu siswa kurang mampu yang tidak terakomodir masuk ke sekolah manapun karena biaya. Saya meyakini bahwa pendidikan masih menjadi senjata utama untuk melawan kemiskinan. Kemudian saya berusaha mencari anak-anak putus sekolah ataupun yang tidak mampu melanjutkan ke SLTA. Saya mencarinya dari rumah ke rumah terutama di daerah perkampungan, kontrakan dan padat penduduk. Saya bersama Pak Ari kemudian medapatkan 20 anak tidak mampu melanjutkan sekolah bahkan ada anak yang sudah dua tahun tidak bersekolah.

Setelah mendapatkan siswa, saya bingung karena saya tidak mempunyai modal apa-apa selain keinginan untuk membantu mereka. Yang saya fikirkan, sekolah itu mempunyai bangunan yang representatif, guru-guru, staf, peralatan dll. Sedangkan saya sama sekali tidak mempunyai apa-apa. Atasan saya kemudian menawarkan saya meminjam uangnya untuk membeli peralatan yang diperlukan di tahap awal. Kemudian uang yang saya pinjam tersebut, saya gunakan untuk membeli meja, kursi dan komputer sebanyak 3 unit. Dengan mempunyai institusi sendiri, saya juga bisa lebih leluasa membuat program untuk siswa tanpa banyak aturan birokratis. Saya ingin mereka mendapatkan pengalaman lebih selama sekolah, saya ingin berkontribusi lebih besar dan menjadi Socioprenuer di dunia pendidikan.

Makmin: Dalam penyelenggaran pendidikan, selalu dana dijadikan masalah besar karena biaya operasional besar, sementara tidak boleh memungut biaya terlalu banyak dari siswa? Bagaimana mengatasinya?

Mak Suzie:

Banyak yang bertanya pada saya bagaimana saya bisa membiayai sekolah ini sampai sekarang. Karena siswa saya mayoritas tidak mampu, maka saya harus memutar otak agar mereka bisa tetap mendapatkan pendidikan dan bisa membiayai operasional sekolah termasuk membayar gaji guru, tempat dll. Awalnya saya sempat khawatir apakah saya mampu, namun kebulatan tekad mengabdikan diri menepis keraguan saya. Alhamdullilah beberapa teman yang dulu menjadi orang tua asuh di sekolah lama bersedia menjadi orang tua asuh kembali, selain juga ada beberapa teman lain yang bersedia membantu.

Terus terang, saya pun mengeluarkan uang pribadi untuk hal ini. Selain itu saya juga mencari pekerjaan freelance dan salah satu yang cukup berkesan adalah ketika mendapatkan kesempatan menjadi Fasilitator Program Perpus Seru dari Coca Cola Foundation. Saya berkesempatan mengunjungi perpustakaan-perpustakaan seperti di Batang, Jepara, Sukoharjo, Bandung dan Balikpapan. Saya memberikan pelatihan kepada para pegawai perpustakaan tersebut. Senang sekali rasanya mengunjungi daerah-daerah tersebut dan bertemu dengan banyak orang baru, dibayar lagi hehe. Uang yang di dapat saya subsidi silangkan untuk membantu pembiayaan sekolah. Alhamdulillah saya tidak pernah menunggak pembayaran gaji guru meskipun yang bisa di berikan belum seberapa.

Apakah saya pernah khawatir ketika mendekati waktu pembayaran gaji guru tiba? Sering .. hehe, tapi alhamdulillah selalu diberikan jalan keluar dan rezeki nya. Saya sempat curhat tentang hal ini kepada teman saya di Akademi Berbagi Bekasi, Fiduy dan kemudian dia mengirim email ini >

tadi iseng2 nulis begini it related to your life 😀

“Aku baru tau tentang dua tangki dalam kehidupan…

Yaitu ada tangki finansial dan tangki spritual. Tangki finansial  didapat dari jerih payah bekerja. Mendapatkan gaji setiap bulan maka tangki finansial itu akan terisi.

Tangki finansial itu bisa saja habis, dan disaat tangki finansial itu habis, maka tangki spiritual yang akan bekerja.

Sedangkan tangki spiritual sendiri adalah jika kita mengerjakan suatu hal dengan ikhlas dan tidak mendapat imbalan dan menjadi kebaikan yang kita lakukan. Kebaikan tersebut akan membantu kita dalam kesulitan, terutama saat tangki finansial habis.

Pernah nggak kamu ngerasain nggak punya duit, tapi ada aja orang yang nolong? Itu berarti tangki spiritual kamu bekerja.

Maka, perbanyaklah mengisi hidup dengan tangki spiritual juga maka itu akan membantumu”.

Mbak Susi tangki spiritualnya keren, Insyaallah nggak akan habis tangki finansialnya.

Ah.. fiduy, jadi terharu :’)

Masalah baru kemudian muncul ketika beberapa siswa saya kesulitan berangkat ke sekolah karena masalah transport. Meskipun biaya sekolah hampir tidak ada. Sebagian siswa tinggal cukup jauh dari SMK Itaco. Bahkan ada salah satu siswa yang sudah tidak mempunyai ibu bapak dan tinggal hanya dengan adiknya. Karena kondisinya tersebut, sejak kelas 1 saya membiayai transport nya karena rumahnya lumayan jauh. Saya memberi transport setiap hari. Saya melihat anak tersebut semangat bersekolah. Saya membulatkan tekad untuk terus membantu biaya transport nya asalkan dia tetap masuk sekolah. Namun kini, alhamdulillah dia mempunyai sepeda sendiri sehingga ke sekolahpun dia bersepeda meskipun jaraknya lumayan jauh.

Kemudian kami belajar mandiri yaitu dengan mencari sumber pendanaan sendiri sekaligus mengajarkan siswa berwirausaha yaitu dengan mendirikan usaha dimana awalnya saya hanya membeli satu alat pencetak mug printing. Alhamdulillah saat ini usaha kami sudah bertambah seperti jasa desain, pin, servis komputer, data entry, membantu event, dan saat ini sedang mengembangkan usaha Kaos Sablon Komunitas, dimana targetnya adalah siswa sekolah, anak kuliah, komunitas atau institusi yang ingin mempunyai kaos/jaket untuk identitas komunitas/kelompoknya. Sekarang sedang menyiapkan websitenya dulu selain juga berusaha mengumpulkan modal untuk membeli peralatan sablon tersebut.Selain itu dengan target mayoritas siswa/mahasiswa, kami bisa mengajak mereka untuk gabung dengan Komunitas Siswa Wirausaha. Dengan demikian mereka juga mendapatkan value di komunitas ini seperti free sharing dengan wirausahawan senior atau free belajar desain, komputer dll. Yuk kunjungi http://siswawirausaha.net

1261_10151557665793743_315942278_n

Makmin: Apakah emak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak seperti yang emak harapkan?

Mak Suzie:

Alhamdulillah saat ini sudah mulai banyak dukungan baik personal maupun komunitas. Seperti misalnya dari Komunitas Ilmu Berbagi http://ilmuberbagi.comyang memberikan beasiswa pendidikan, memberikan pelatihan TIK gratis dua minggu sekali, mengajak tapak tilas museum, mengirim siswa terpilih untuk belajar Bahasa Inggris intensif di Kampung Inggris Pare, Kediri dll. Ada juga Komunitas TDA Bekasi seperti pembinaan wirausaha serta mengajak untuk terlibat dalam event seperti Pesta Wirausaha tahun 2013 juga komunitas lainnya seperti Akber Bekasi, Startup Lokal, Bekasi Berkebun, Emak-Emak Blogger dan lain-lain. Serta dukungan individu seperti menjadi penganjar volunteer berbagai ilmu, kakak asuh yang memberikan beasiswa dll.

Makmin: Dengan kesibukan emak seperti itu, apakah emak masih sempat ngeblog?

Mak Suzie:

Alhamdulillah masih… terutama jika ada lomba hehe, kan hadiahnya lumayan bisa untuk membantu sekolah :p, walaupun sering enggak menangnya haha…. Masih bisa juga berkegiatan lainnya seperti volunteering di beberapa komunitas, mengikuti event-event terutama yang berhubungan dengan pendidikan dan bisnis dan pastinya mengerjakan hobi hehe. Semua aktivitas tersebut saya cari yang memang menunjang saya mengembangkan social entreprenuership dan pendidikan.

Makmin: Apakah ngeblog ada manfaatnya untuk dunia pendidikan?

Mak Suzie:

Pastinya ada. Saya bisa mengungkapkan gagasan-gagasan saya terutama tentang pentingnya Kewirausahaan di sekolah. Saya mulai menulis tentang aktivitas wirausaha kami, selain juga menulis tentang pendidikan, volunteering beserta ilmu dari event-event yang saya hadiri. Ataupun ngeblog hanya untuk sekedar curcol, #baca narsis:D . Saya juga sering mendapat masukan dari pengunjung sehingga bisa lebih baik lagi. Manfaat lainnya, saya bisa berkomunikasi dan sharing dengan banyak guru hebat melalui Blog. Terakhir saya bisa mencontohkan siswa untuk ngeblog, bahkan sekarang blog mereka lebih bagus hehe …. Ini beberapa contoh blog dari siswa saya http://rezapratama1001disegn.wordpress.com/, http://alfiyatunnimah.blogspot.com/ . Saya juga mendorong mereka untuk membuat Komunitas Blogger khusus pelajar, mungkin namanya bisa Komunitas Blogger Pelajar or KBP :p

Makmin: Konten seperti apa yang bisa mendukung kemajuan pendidikan?

Mak Suzie:

Konten seperti e-learning yang membantu memudahkan belajar siswa dan guru, materi pembelajaran dan aplikasinya, pengalaman metode pembelajaran sehingga sehingga bisa saling belajar. Selain itu menulis tentang prestasi dan perkembangan peserta didik, sehingga bisa memotivasi siswa lainnya. Tulis juga tentang kondisi pendidikan di sekitar kita, sehingga kita senantiasa bisa melakukan refleksi. Buatlah terobosan-terobosan dalam pendidikan dengan terus berinovasi dan tidak melulu terpaku pada sistem dan kurikulum yang ada. Carilah bahan-bahan pembelajaran dari negara yang maju sistem pendidikannya, aplikasikah, kemudian sharing melalui blog. 🙂

Makmin: Apa saran emak untuk emak-emak lain yang ingin berperan dalam dunia pendidikan?

Mak Suzie:

Tanyalah ingin menjadi guru seperti apa, temukan juga passion nya mengajar di jenjang pendidikan apa. Misalnya suka anak kecil, maka Playgroup, TK atau SD bisa menjadi pilihan. Jika suka dunia remaja, bisa mengajar di SLTP atau SLTA. Siapkan bekal ilmu yang cukup, misalnya sesuaikan bidang studi mengajar dengan latar belakang pendidikan. Jika bukan berlatar belakang pendidikan keguruan, bisa mengambil Pendidikan Profesi yang dulu dikenal dengan Akta IV. Terakhir, teruslah mengupdate ilmu yang dimiliki, karena anak sekarang adalah anak digital naive. Mereka bisa belajar dari banyak sumber, sehingga kita harus dapat memanfaatkan teknologi untuk menunjang pembelajaran di kelas. Putarkan video-video menarik yang menunjang pembelajaran, biarkan siswa mencari materi kemudian mempresentasikannya di depan kelas. Pembelajaran tidak lagi menjadi Teacher Centered Learning tapi menjadi Student Centered Learning.

Makmin: Menurut emak, apa yang masih bisa dikembangkan dari KEB? Apakah emak bersedia turut berperan dalam usulan emak tersebut?

Hmm.. apa yaaa.. menurut saya KEB udah keren bangett…. maap banget belum bisa banyak aktif berpartisipasii .. tapi saya pasti selalu mendukung KEB dan bangga bisa menjadi bagian di dalamnya. Senang bisa mengenal Emak hebat disini dan sebagai calon Emak beneran.. #aamiin… saya bisa mendapatkan banyak ilmu yang bermanfaat yang di share melalui blog nya. Insya Allah jika saya punya usulan, akan disampaikan dan Insya Allah bisa turut berperan dalam usulan tersebut… Go Go KEB 🙂

Mak Suzie:

Terima kasih sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas. Semoga emak-emak yang membaca wawancara ini terinspirasi untuk ikut berkiprah memajukan pendidikan dari semua lini. Sekali kali selamat, dan salam dari makmin semua untuk siswa-siswa emak.