Reportase Mak Winny Widyawati

Sang Patriot 3

Penulis dan para pembicara pendamping (dari kiri ke kanan : Ibu Indrawati Sugandhi, Irma Devita, Bpk.Drs.Suparwan Parikesit)

Menghadiri sebuah acara yang bertajuk “SANG PATRIOT, sebuah epos kepahlawanan” entah mengapa saya merasakan nuansa dan semangat yang berbeda. Bukan saja sejak saya melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah, bahkan jauh sebelumnya saat saya mendengar akan digelar bedah buku tentang kepahlawanan seorang kesatria Jember yang ditulis oleh seorang wanita cerdas yang berprofesi sebagai pengacara dengan telah begitu banyak buku-buku yang “dilahirkannya” yaitu Irma Devita Purnamasari, gempita hati saya menyambutnya.
Sejak saya membaca novelnya, saya merasakan buku ini tak sekedar buku atau novel yang memaparkan sejarah kepahlawanan anak bangsa biasa, lebih dari itu ia penuh dengan filosofi dan cita-cita penulisnya untuk membuat para pembacanya terilhami, termotivasi bahkan tergerak untuk memiliki sifat-sifat mulia para pahlawan dalam berhidup di bumi pertiwi.
Meski secara pribadi sang penulis telah mengungkapkan bahwa penulisan novel ini adalah dalam rangka menunaikan janji masa kecilnya kepada sang nenek, dan memang tokoh sentral dalam kisahnya tertuju kepada sang kakek Letnan Mochamad Sroedji, namun pada akhirnya kita akan menangkap pesannya, bahwa secara keseluruhan novel ini mengangkat sifat-sifat patriotisme sejati yang dimiliki oleh bangsa Indonesia kala itu dalam mempertahankan kemerdekaannya dari penjajahan bangsa lain. Dan bahwa sifat patriotisme itu, sesungguhnya telah mereka wariskan agar juga dapat dimiliki oleh para penerusnya kemudian.

I.Rundown Acara Diskusi Buku
Kurang 10 menit dari waktu yang telah ditentukan, saya telah menjejakkan kaki di halaman Gedung Juang ’45, dan dengan meloncati sekian anak tangga, saya berhasil mencapai Lt.3 tempat dilaksanakannya acara.
Tak lama waktu dibutuhkan untuk melakukan registrasi di meja penerima tamu, saya segera memasuki sebuah ruangan yang tiba-tiba seolah menghisap saya jauh ke masa yang telah lalu. Sebuah lagu perjuangan yang syahdu menuntun pandangan mata saya langsung tertuju pada banner yang terpampang tepat di hadapan, terlihat sejak dari gerbang pintu dengan gambar sosok yang saya kenal; tugu Letkol Mochamad Sroedji di sebelah kanan layar dan sosok seorang pahlawan yang memunggungi pandangan kita di layar kiri, persis dengan cover buku/novel ‘Sang Patriot’.
Pandangan mata saya menyisir seluruh ruangan yang dipenuhi gambar-gambar pahlawan nasional yang kini telah tiada lagi, namun segera saya tak bisa menahan rasa haru saat menatap sosok-sosok sepuh yang cukup banyak mengisi kursi bagian depan, sebagian mengenakan baju para veteran dan sebagian lain memakai pakaian biasa.
Sungguh, rasa malu menahan saya dari gebu ingin maju dan memberi mereka salam hormat satu persatu. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri para saksi dan pelaku sejarah yang pernah melalui masa-masa dahsyat penuh darah dan air mata adalah hal hebat yang saya banggakan dan tak akan pernah saya lupakan.

Sang Patriot 1

Mbak Irma Devita, saat sedang menerima tamu para veteran

Saat-saat menunggu yang penuh khidmat, saya sama sekali tak merasakan bosan. Pemandangan di hadapan telah mengusap-usap hati saya bahkan sebelum acara dimulai. Dan yang semakin membesarkan hati adalah penerimaan yang ramah serta penuh kehangatan dari sang tuan rumah sekaligus penulis novel mb Irma Devita Purnamasari.
Pada sekitar pukul 14.30 wib, acara peluncuran dan diskusi buku “Sang Patriot” dibuka penuh gelora dan menjejakkan suasana heroik saat seluruh peserta diskusi dipersilakan berdiri untukmenyanyikan lagu kebangsaan Índonesia Raya’ dan kesyahduan mengheningkan cipta.
Dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua panitia yakni ketua LSM PADMA serta pembacaan doá pembuka oleh Pembantu Rektor III Universitas Moch.Sroedji-Jember; Bapak Drs.H.Supardi, dan kemudian dilanjutkan oleh pembacaan puisi berjudul ‘Pahlawan Tak Dikenal’yang dibacakan oleh Ibu Titik Isdiyarti.

Penyambutan dan pembacaan doá yang menyentuh hati, menggiring seluruh peserta diskusi pada suasana khidmat saat panitia mulai memutar film semi documenter seputar sejarah singkat perjuangan Letkol Moch. Sroedji dengan pengantar yang dipaparkan lugas oleh sang penulis Irma Devita.

Ada yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata untuk menyampaikan kesan saat menyaksikan pemutaran film kepahlawanan ini. Saya hanyut dengan foto-foto tokoh serta keluarga Letkol Moch. Sroedji yang disajikan secara slide dan banyak adegan pertempuran tentara PETA saat menghadapi agresi Belanda.
Ingatan melayang pada pelajaran yang pernah saya terima di masa-masa sekolah tentang sejarah perjuangan bangsa. Puzzle-puzzle peristiwa yang dulu pernah saya baca dengan setengah hati perlahan disusun kembali dalam bentuk gambar dan narasi.
Dalam film ini pula saya mengetahui bagaimana proses pengerjaan buku ‘Sang Patriot’ (belakangan saya mengetahui rupanya mbak Irma Devita telah pula merintis upaya mengintegrasikan novel Sang Patriot ini kedalam bentuk komik untuk diarahkan pada pembaca dari kalangan anak-anak dan pelajar) diperjuangkan sungguh-sungguh oleh sang penulis beserta seluruh struktur pendukungnya. Disana ada penelusuran sejarah yang langsung didapatkan dari para pelakunya yang masih hidup, juga momentum-momentum yang harus dikejar ketepatannya hingga ke musium-musium sejarah di beberapa kota.

II.Peluncuran Novel Sang Patriot
Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, peluncuran novel Sang Patriot dilaksanakan dalam dua sessi; pertama adalah pemutaran book trailler dan kedua penyerahan novel kepada putri-putri alm. Letkol Moch. Sroedji oleh sang penulis Irma Devita Purnamasari.
Diantara para penerima novel tersebut yang notabene adalah putri-putri serta menantu Letkol Moch. Sroedji adalah salah satunya putri keempat beliau, yang tidak lain adalah ibunda dari penulis ‘Sang Patriot’sendiri, yakni Ibu Pudji Redjeki Irawati Sroedji.

Usai peluncuran dan penyerahan novel, acara dilanjutkan dengan mengulas sekilas biografi penulis dan para pembicara yang akan membahas novel ‘Sang Patriot’ yang diantaranya adalah aktivis perempuan Ibu Indrawati Sugandhi dan budayawan Bapak Drs.Suparwan Parikesit.

III.Diskusi Novel Sang Patriot
Acara diskusi novel ini dibuka oleh sang penulis mb Irma Devita dengan mengungkapkan alasan dibalik penggunaan cover dengan gambar sosok pahlawan yang nampak membelakangi kita dengan background kancah peperangan yang sedang berkecamuk.
Kemudian beliau menjelaskan filosofi pahlawan yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan. Bahwa pemimpin itu biasanya selalu ada di depan pada saat-saat genting, ia menunjukkan keberanian dengan berada di garda terdepan untuk menghadapi marabahaya sedahsyat apapun, hatinya tak pernah ragu, terus maju pantang mundur, disebabkan rasa cintanya kepada bangsa dan tanah air.
Sebuah awalan yang membakar semangat saya khususnya, dan umumnya peserta diskusi lainnya. Sebelum akhirnya beliau mengisahkan cerita masa kecilnya. Saat mana nenek beliau yang bernama Rukmini yang merupakan istri dari Letkol Moch.Srodji kerap mengucurinya deras dengan dongeng-dongeng kepahlawanan kakeknya.
Demikian bernas masa kanak-kanak Irma Devita dengan limpahan cerita, hingga menuntunnya pda sebuah janji yang diucapkannya dihadapan neneknya tercinta, bahwa suatu hari ia akan menuliskan seluruh cerita yang telah dikisahkan nenek kepadanya.
Dan inilah, sebuah epos kepahlawanan yang berlatar perjuangan masyarakat Jember khususnya dan kejuangan serta kepahlawanan sang kakek Letkol Mochamad Sroedji dalam melawan penjajahan negara asing, dipersembahkannya sebagai penunaian janji masa kecilnya.
Diuraikannya pula bahwa niat dari penulisan novel inipun dilatari oleh keinginan kuat untuk menyadarkan banyak orang bahwa Patriotisme adalah tujuan diluncurkannya buku ini. Sifat-sifat kepahlawanan yang semakin lama nampak memudar dari pribadi-pribadi anak bangsa kita. Dimana anak-anak kita kini lebih mengenal superhero-superhero dari negara lain dibandingkan pahlawan-pahlawan bangsanya sendiri. Yang karenanya, generasi muda kita telah kehilangan jati diri sejatinya yang baik dan luhur.
Pada sessi berikutnya, aktivis perempuan Ibu Indrawati memaparkan pandangan beliau tentang novel Sang Patriot ini dengan penuh keharuan. Ibu Indrawati mendapati alasan yang kuat setelah membaca novel ini tentang mengapa seseorang rela berjuang dan berkorban. Bahwa apa yang menjadi nilai tertinggi seseorang mempengaruhi daya juangnya.

Para veteran perang kawan seperjuangan Letkol Moch. Sroedji saat akan menerima plakat ucapan terima kasih sebagai narasumber untuk penulisan novel Sang Patriot.

Para veteran perang kawan seperjuangan Letkol Moch. Sroedji saat akan menerima plakat ucapan terima kasih sebagai narasumber untuk penulisan novel Sang Patriot.

Ibu Indrawati menambahkan pertanyaan yang menohok hati: “Äpakah kesadaran ini tidak membuat kita malu kehilangan apresiasi terhadap nilai-nilai kemuliaan kemerdekaan?”
Begitu banyak generasi masa kini yang telah melupakan pengorbanan para pendahulunya dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dan tanpa malu menyia-nyiakan nikmat kedaulatan bangsa dengan berleha-leha memperturutkan hawa nafsunya. Maka tak heran jika kita mendapati begitu banyak bencana kebangsaan karena tak mampu menjaga kemerdekaan dengan sikap yang semestinya.
Ibu Indrawatipun mengulas salah satu bagian novel yang menceritakan saat-saat Letkol Mochamad Sroedji akhirnya tertangkap oleh musuh disebabkan adanya sosok penggunting dalam lipatan, sosok pengkhianat dalam barisan pejuang.
Bahwa dalam sejarah perjuangan manapun,dalam skala kecil maupun besar, selalu faktor kekalahan terbesar adalah karena adanya pengkhianatan. Demikianpun dengan apa yang terjadi pada Letkol Mochamad Sreodji, beliau terpaksa harus kalah disebabkan pengkhianatan orang yang selama ini dianggap kawan seperjuangan.
Ada sedikit intermezzo manis diantara pergantian pembicara, ialah saat mana budayawan Bpk Drs Suparwan Parikesit meminta seorang ibu untuk menyanyikan lagu kesayangan alm Letkol Mochamad Sroedji dahulu untuk istrinya Rukmini berjudul Anggrek Bulan. Seketika ruangan diselusupi suasana manis nan romantis.
Berbeda dengan Ibu Indrawati Sugandhi, Budayawan Bpk. Drs Suparwan Parikesit mencermati novel Sang Patriot dari sisi istilah dan kesastraan.
Menurut Bapak Suparwan, kata patriot berasal dari kata Patria yang berarti cinta tanah air. Dan kecintaan-kecintaan ini melahirkan jiwa-jiwa kepahlawanan.
Sifat-sifat kepahlawanan ini telah dianugrahkan Tuhan dari sejak zaman Nabi Adam hingga kurun Romawi Kuno, sampai abad ke-5 dimasa mulai munculnya sejarah Islam hingga ke era kita sekarang.
Dalam filosofi kepahlawanan, kematian menjadi tidak penting lagi, melainkan sebab kematian itu.
Menurut beliau, pahlawan adalah orang-orang yang bekerja diluar batas keharusannya, melebihi kewajiban dan tanggung jawabnya dengan penuh ketulusan.
Inilah yang telah hilang dari kebanyakan jiwa generasi penerus bangsa sekarang di segala bidang dan perlu diperjuangkan kembali kehadirannya demi menyelamatkan kehormatan bangsa yang kemerdekaannya telah diperjuangkan dahulu kala oleh para pahlawan-pahlawan kita.
IV.Penutupan
Acara peluncuran novel dan diskusi Sang Patriot ditutup dengan sessi tanya jawab peserta dan pembagian doorprize. Meski demikian, tak mengurangi kekhidmatan keseluruhan acara.
Hingga saat langkah kaki menjauh dari gedung penuh kenangan itu, hati masih tertambat pada kisah perjuangan Letkol Mochamad Sroedji, dan lagu Anggrek Bulan masih terngiang-ngiang di pendengaran. Terkenang-kenang pada rona merah di pipi dan kepala tertunduk malu Rukmini, terbayang-bayang pada tatap teduh Sroedji memanah kalbu Rukmini