Bulan Maret lalu saya sekeluarga berkesempatan menghadiri pernikahan teman baik suami. Teman suami ini orang Jepang, dan pestanya diadakan di kota tempat mereka dulu berkuliah, yaitu di Kyoto. Tidak tanggung-tanggung, sang teman ini bahkan bersedia menanggung biaya akomodasi untuk 2,5 orang – kami berdua plus anak 21 bulan –, mulai dari tiket pesawat dan penginapan selama di sana.

Kami merasa terhormat dapat diundang, tapi nggak serta merta mengiyakan tawaran itu. Satu hal yang jadi pertimbangan kami adalah, berapa isi amplop (uang angpau) yang harus kami berikan?

Usut punya usut, sudah adatnya dalam pesta pernikahan di Jepang untuk nggak membebankan biaya acara penuh kepada si pengundang. Bahkan, seringnya sejak awal sudah dikasih tahu “harga” undangannya. Kalau ada yang mau bikin acara ulang tahun misalnya, si pengundang akan bertanya ke teman-temannya, “Maukah diundang ke acara ulang tahun? Kalau mau biayanya 2.000 yen ya,” (sekitar Rp 230.000).

Itu baru undangan ulang tahun. Kalau undangan pernikahan sudah pasti biayanya lebih mahal. Apabila tidak diberitahukan di awal, maka uang angpau yang pantas untuk pernikahan biasanya sekitar 30.000-70.000 yen (sekitar Rp 3.5juta-8juta), tergantung hubungan dengan si pengantin: temankah, atasan/bawahankah, keluarga dekatkah, mantan gebetankah, atau yang lainnya. Waduh, jumlah segitu untuk orang Jepang saja termasuk mahal lho, apalagi untuk kami.

Nah, dalam kasus kami, sang teman tidak memberitahukan “harga” ini, tapi tidak mungkin dong kami datang dengan tangan hampa, apalagi akomodasi kami sudah ditanggung. Awalnya kami ingin menolak undangan ini, mengingat kami sedang menabung untuk sekolah anak dan rumah, tapi membaca ulang e-mail dari sang teman kami merasa nggak enak. Lagipula, kesempatan seperti ini belum tentu datang lagi.

Setelah berhitung, kami memutuskan untuk memberi angpau sepantas mungkin, dengan posisi sebagai teman, dan mempertimbangkan kira-kira biaya akomodasi yang ia keluarkan. Kami berharap bisa menutup setengah dari biaya itu (walaupun sepertinya nggak sampai sih). Kami juga membeli suvenir khas Indonesia sebagai kado pernikahan.

Ketika sampai di Jepang, si teman memberi tahu kalau akan ada dua resepsi pernikahan: baptis kapel+makan siang dengan keluarga, dan resepsi makan malam dengan teman-teman. Kami diundang ke keduanya, tetapi untuk acara makan malam kami harus membayar 7.000 yen per orang (sekitar Rp 800ribu, dikali dua). Untung kami sudah tahu adat ini, jadi nggak kaget. Kami langsung oke dong, masa sudah ditanggung datang ke Jepang, menolak datang acara karena nggak mau bayar? Hehehe.

Si teman juga menambahkan, bahwa untuk resepsi siang, ia tidak peduli berapa uang angpau yang kami berikan, karena ia sudah appreciate kami mau datang jauh-jauh. Tentu saja, demi kepantasan, kami nggak mungkin memberikan seadanya.

Keesokan hari setelah kedua acara resepsi itu usai, kami berkunjung ke kampus suami dan bertemu teman-teman lain di sana. Dari mereka kami memperoleh info, bahwa teman-teman yang mau hadir ke acara pernikahan itu sudah diberitahukan “harga” undangannya sejak awal. Wah, kami kaget sekaligus lega mendengarnya. Kaget karena sang teman Jepang nggak ada bicara “harga” ini, kecuali untuk resepsi malam yang ternyata kami diberi “harga” lebih murah dibanding yang lain, kalau infonya benar. Rupanya ia memang niat mengundang tanpa kami harus memusingkan angpau. Kami juga lega, karena uang angpau yang kami berikan jumlahnya nggak jauh dari “harga” undangan yang disebutkan teman kami.

Sudah dipastikan ini adalah pesta pernikahan paling mahal yang pernah kami datangi. Tapi juga jadi pengalaman unik yang akan selalu dikenang. Nominal uang angpau bisa dihitung, namun pengalaman dan persahabatan yang diperoleh itu priceless buat kami.