Reportase mak Ardiba Sefrienda

Siapa yang tidak kenal Gendhis Natural Bags? Ibu-ibu pasti kenal dong ya. Merek tas asal Yogyakarta dibuat secara homemade dengan bahan dari alam (natural). Model-model yang ditawarkan sangat manis, sesuai dengan arti dari Gendhis yaitu gula yang manis. Sesuai dengan taglinenya“Natural Bag, and save our Earth with Eco Bag and Sustainable”, tas Gendhis memang pasti berbahan dasar dari alam seperti dari rotan, tikar mendong, rumput laut, bambu, dan lain sebagainya. Walaupun terbuat dari bahan alami yang (katanya) lebih mudah rusak, tetapi tas Gendhis so pasti awet dong, karena pengerjaannya sangat telaten dan berhati-hati, bayangkan untuk mengecat satu bagian warna tas, pengecatannya bisa dilakukan sampai tujuh kali! Makanya kalau dilihat dari perjuangan pembuatan tas Gendhis, sebenarnya tas Gendhis itu cukup murah loh ya.

Nah, Kumpulan Emak Blogger pada hari Sabtu tanggal 31 Januari 2015 lalu, beruntung mendapatkan kesempatan untuk gathering, sekaligus kunjungan ke kantor plus outlet terbesar Gendhis di jalan RingRoad Barat, Bedog, Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta – Indonesia. Kedatangan rombongan Emak Blogger yang dipimpin oleh Mak Ika Koentjoro di outlet Gendhis disambut hangat oleh Mbak Niken, marketing Gendhis. Rombongan lalu diajak berkeliling outlet. Suasana outletnya sangat hommydan natural. Nuansa krem dan coklat semakin mengentalkan kesan natural pada outlet ini. Display barang sangat rapi dan cantik. Display barang disusun sesuai klasifikasi tertentu, seperti display tas disusun berdasarkan jenis dan bahan tas. Selain tas, Gendhis juga menjual pernak-pernik cantik, alas kaki, baju batik, dan kerajinan khas Yogyakarta.

Emak2 KEB menyimak sharing dari pemilik Gendhis Bags.

Emak2 KEB menyimak sharing dari pemilik Gendhis Bags. Photo by mak Ika Koentjoro.

Banyak sekali kan barang dagangannya? Eits, jangan salah, nggak semua barang dagangan itu adalah produk Gendhis. Outlet Gendhis saat ini berformat Gendhis ‘n Friends, sehingga Gendhis memberikan kesempatan teman-teman sesama pengusaha untuk menitipkan dagangannya ke Gendhis. Tentu tidak sembarang barang dagangan bisa dititipkan disini. Syarat dan ketentuan berlaku pastinya.

Outlet Gendhis di jalan Ring Road Barat ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama terdiri tiga sekat ruangan. Sekat pertama yang paling besar, digunakan untuk display tas-tas Gendhis yang best seller, baru dan iconic. Sudut ruangan sekat pertama khusus mendisplay tas rajut. Gendhis memang mengeluarkan produk rajutan, tetapi varian produk ini tidak terlalu banyak karena memang Gendhis lebih fokus ke produksi tas natural. Sekat kedua di lantai pertama ini didominasi kerajinan asli Indonesia yang eksklusif namun dengan harga terjangkau. Ada mainan kayu untuk anak-anak, kain dan baju batik dengan motif dan warna yang atraktif, serta kerajinan batik seperti kuncir rambut, boneka batik, dsb. Semua produk di sekat kedua ini rata-rata barang titipan Gendhis friends.

Didalam showroom dengan display menawan.

Didalam showroom dengan display menawan. Photo by mak Ika Koentjoro.

Acara gathering plus sharing bisnis dari owner Gendhis dilakukan di sekat ketiga dari lantai pertama outlet Gendhis. Rencananya sekat ketiga ini mau dibuat menjadi kafe. Karena owner Gendhis, Ibu Ferry Yuliana dan Bapak Endro Pranowo penyuka teh dan kopi, maka mereka mengkonsep kafe mereka nanti akan khusus menyediakan teh dan kopi asli Indonesia saja. Yah, semoga segera launching ya Bu. Nanti Emak-emak Blogger jangan lupa diundang, hehe..

Acara berkeliling dilanjutkan ke lantai kedua. Di lantai kedua, terdapat pula koleksi tas Gendhis yang limited dan lebih eksklusif dibanding tas yang terdapat di lantai pertama. Harganya jangan ditanya, bisa lebih dari satu juta! Ada rupa ada harga lah Mak, ya kan? Di lantai kedua ini juga terdapat koleksi alas kaki yang lucu-lucu. Bahan pembuatnya juga didominasi bahan alami seperti kayu dan kulit. Dijamin mupeng deh sama koleksi alas kaki disini. Oh ya, di lantai kedua ini juga terdapat secondline dari Gendhis yang bernama Candhil. Di sekat ruangan paling belakang terdapat koleksi baju batik yang eksklusif. Harganya memang lumayan mahal, tapi jahitannya memang enak sekali dipakai. Bila berjalan-jalan di lantai kedua outlet ini dan menemukan ruangan khusus berwarna putih, itu adalah ruangan khusus untuk mendisplay barang-barang peserta lomba Wanita Wirausaha, sebuah lomba kewirausahaan yang diadakan Femina.

Setelah kurang lebih setengah jam berkeliling outlet, jarum jam menunjukkan pukul 13.30 WIB, sekarang tibalah saat yang ditunggu-tunggu, yaitu sharing bisnis bersama Bu Ferry Yuliana, owner Gendhis Bags. Bu Ferry siang ini terlihat segar dengan busana bernuansa hitam, dan jilbab pink! Sepertinya Bu Ferry memang sehati dengan para emak blogger yang siang itu sepakat menggunakan busana bernuansa pink.

Bu Ferry menceritakan, awal mula dirinya terjun di bisnis tas ini sebenarnya karena keadaan. Kebetulan saat itu Bu Ferry baru saja memiliki anak dan memilih resign dari pekerjaannya sebagai dokter gigi. Tak disangka, sang suami yang saat itu tergolong mapan rupanya kena tipu koleganya sendiri. Sknenario kehidupan tidak berjalan sesuai yang diharapkan, beruntung Bu Ferry memiliki hobi mengkreasikan tas yang dibelinya. Mnurutnya model tas yang beredar di pasaran kurang menarik. Beruntung kreasinya tersebut cukup diminati teman-temannya. Alhasil, beliau pun menekuni bisnis tas ini. Walaupun memiliki latar belakang kedokteran gigi, namun Bu Ferry tidak malu untuk berkeliling door to door menawarkan produk tasnya. Menurutnya menjadi dokter gigi atau pun berdagang itu sama-sama berjualan, jadi kenapa harus malu? Dalam menjalankan bisnisnya, Bu Ferry melakukannya sendiri, tentu dengan support suami, menurutnya bisnis bersama itu rentan perpecahan, jadi walaupun butuh sekitar 10 tahun untuk membesarkan nama Gendhis (Gendis berdiri tahun 2002), namun Bu Ferry nyaman dengan pencapaiannya sekarang. Saat memulai bisnisnya, anak Bu Ferry masih sangat kecil, bahkan di usianya yang masih 40 hari, anak Bu Ferry dibawa ke pameran. Karena selalu dibawa berjualan, setelah besar anaknya malah lebih nyaman di toko daripada di rumah.

Bisnis dan keluarga bisa berkesinambungan. Bu Ferry membuktikannya. Foto by Mak Lusi Tris, figuran anaknya Mak Noni Rosliyani

Bisnis dan keluarga bisa berkesinambungan. Bu Ferry membuktikannya. Foto by Mak Lusi Tris, figuran anaknya Mak Noni Rosliyani

Sharing bersama Bu Ferry berlangsung kurang lebih satu jam, waktu yang sebenarnya masih kurang buat kami. Tapi dalam jangka waktu sesingkat itu, ada banyak inspirasi, semangat, dan harapan buat kami para emak blogger ini. Berikut rangkuman beberapa tips berwirausaha ala Bu Ferry mungkin bisa dicontoh para emak semua.

  1. Pastikan memulai usaha dari hobi, terutama karena kita kaum hawa. Jadi bisnis bisa dijalani dengan senang hati. Target pertama itu adalah penyaluran hobi, kalau ternyata menguntungkan ya Alhamdulillah.
  2. Perhatikan budgeting. Bu Ferry sendiri menerapkan prinsip modal yang dibelanjakan adalah sepertiga dari modal yang dimiliki. Jadi, jangan sekali-sekali menghabiskan seluruh modal untuk berbelanja. Potensi kerugian dari setiap bisnis pasti ada, jangan sampai bangkrut gara-gara kita terlalu ‘nafsu’ memutar modal.
  3. Survey sebelum melempar produk di pasaran. Untuk memutuskan model jadi launching atau tidak maka perlu dilakukan survey. Cukup survey kecil-kecilan ke teman-teman yang hobi shopping. Bila 7 dari 10 orang bilang oke, maka model itu bisa jalan.
  4. Gaet orang-orang berpengaruh untuk memakai produk kita. Bu Ferry mencontohkan Ibu Iriana Joko Widodo yang memang sudah menjadi pelanggannya sejak dulu. Dengan memakai produk Gendhis, secara tidak sadar ibu Iriana ikut mempengaruhi ibu-ibu menteri untuk juga memakai produk Gendhis.
  5. Untuk pasar online, buatlah foto yang menarik dan riil. Buatlah detail barang selengkap-lengkapnya, terutama untuk produk baju. Bu Ferry kadang dikecewakan dengan online shop baju, karena kebanyakan model yang menggunakan baju tersebut memiliki badan yang tinggi dan langsing. Ternyata begitu digunakan tidak sesuai harapan (wah padahal Bu Ferry termasuk langsing lho).
  6. Sharing ilmu dan tukar pengalaman sesama pengusaha sangat diperlukan. Jalin hubungan baik dengan kompetitor. Walaupun sama-sama berkutat di bisnis tas, namun Bu Ferry menjalin hubungan baik dengan owner Dowa maupun Lunar. Produk unggulan yang ditawarkan berbeda, pangsa pasar mereka juga berbeda. Jadi, jangan takut berbagi ya!
  7. Usahakan berbisnis sendiri, paling banyak bersama satu orang teman. Terlalu banyak yang berkontribusi dalam suatu bisnis, maka kemungkinan untuk perpecahan lebih besar. Bu Ferry sendiri memilih berbisnis bersama suami.
  8. Pintar2 jaga euforia. Bisa dg tas limied edition. Paparkan cerita di balik pembuatan tas.
  9. Setiap barang dagangan akan menemukan jodohnya. Jadi santai saja kalau ada barang yang belum laku. Bu Ferry menuturkan bahwa di outletnya pasti ada saja barang yang menurutnya eye catching, hampir setiap pengunjung pasti tertarik melihat barang tersebut. Tapi akhirnya tidak jadi membeli. Herannya, ketika barang itu tidak didisplay, pengunjung tokonya malah berkurang. Jadi barang tersebut menarik pengunjung, tapi tidak cukup menarik untuk dibeli.
  10. Buatlah promo yang menarik konsumen. Contohnya, saat ini Gendhis lagi program foto selfie di outlet Gendhis sampai akhir Februari nanti.

Tertarik ikutan? Caranya gampang, cukup foto selfie di outlet Gendhis, kemudian upload via twitter terus mention ke @gendhisbag atau instagramnya Gendhis @gendhisbags. Jangan lupa hastagnya #selfiegendhis. Yuk buibu yang lagi di Jogja pada ikutan.

Selesai acara sharing bersama Bu Ferry, langsung deh emak-emak blogger foto narsis. Oke deh Mak, say Cheese!

KEB Goes to Gendhis Bags 4

Photo by mak Ika Koentjoro