Sudah lama juga ya KEB nggak mengulas buku bacaan. Keasyikan nonton film, jadi banyak ulas/review film. Yuk deh kita mulai lagi mengulas atau mereview buku bacaan. Kali ini mau review buku Komik Persatuan Ibu-Ibu karya Puty Puar. Buku terbitan lama sih, pertengahan tahun 2018. Tapi masih layak baca banget, karena masalah yang dikupas tuntas di komik itu, masalah ibu-ibu sepanjang masa. Bahkan bertambah masalahnya di era digital ini.  Ada yang sudah membaca buku Komik Persatuan Ibu-ibu ini?

Tingkah Pola Mahmud di Komik Persatuan Ibu-Ibu

Karya: Puty Puar

Penyunting: Maulida Ulil

Cetakan Pertama: Mei 2018

Diterbitkan oleh Penerbit Bentang Komik (PT Bentang Pustaka)

ISBN: 978-602-430-281-8

Sinopsis: 

“Welcome to the jungle!”

Waktu saya melahirkan, beberapa teman memberi ucapan bernada demikian. Terdengar seperti lucu-lucuan, sih, tapi setelah dijalani ternyata seram juga.

Menjadi ibu adalah sesuatu yang besar, tapi sebetulnya berupa perjuangan dan pencapaian-pencapaian kecil yang dialami sehari-hari. Hal-hal sehari-hari itulah yang kemudian saya tuangkan ke dalam Komik Persatuan Ibu-Ibu. Harapannya, komik ini bisa menjadi langkah kecil agar para ibu tidak merasa sendirian dalam berjuang. Bahwa seorang ibu itu boleh merasa kurang piknik, boleh merasa lelah, boleh gagal diet, boleh sesekali terlihat konyol, pokoknya boleh terlihat tidak sempurna.

Because there’s no way to be a perfect mother. But there are so many ways to be a fun(ny) one! 

 

Ulasan:

Saya sering membaca buku dengan tema parenting, namun baru pertama kalinya membaca komik bertema parenting. Dan langsung terkesan dengan Komik Persatuan Ibu-Ibu yang ditulis oleh Puty Puar ini. Komik yang ilustrasi dan narasinya dirangkai sendiri oleh kreator @byputy dan ibu dari Antariksa ini.

Kemasan buku lumayan menarik. Tiap tema, tak dibahas panjang lebar, hanya enam halaman, dengan gambar-gambar yang lucu dan menarik sesuai dengan narasi.

Baca juga: Belajar dari Sosok Athirah

 

Saya mengenal Puty dari dunia blogging, sudah sering melihat ilustrasinya dan ketika ada Instagram, karya-karyanya makin banyak dan Puty pun menjadi terkenal, terutama di kalangan ibu-ibu muda beranak satu (mahmud – mamah muda beranak satu) bahkan juga di kalangan ibu-ibu lawas semacam saya, yang anaknya sudah menjelang remaja.

Sesungguhnya, tema yang diusung Komik Persatuan Ibu-Ibu ini bukan tema yang baru, yang dialami ibu zaman digital sekarang ini. Tetapi juga dialami oleh para mantan ibu muda yang sudah berjibaku dalam soal per-anak-an, yang sudah kering kerontang membahas masalah ibu-ibu yang mungkin dari zaman kuda gigit besi, itu-itu saja problemnya. Masalahnya, ibu-ibu zaman sekarang, lebih digital, segalanya serba dibentangkan di media sosial, semacam Twitter, Instagram atau pun Facebook.

 

Komik Persatuan Ibu-Ibu

 

 

Curhat Puty di Komik Persatuan Ibu-Ibu ini mewakili curhat emak-emak di seantero bumi khususnya di Indonesia ya. Buku yang “gue banget” bagi para mama, ibu, ummi atau pun emak.

Saat membaca komik ini, saya senyam senyum sendiri (untung lagi sendirian di kamar/rumah), kadang ketawa ngikik, ngukuk dan ngakak pas di bagian Teori vs Praktik dan Me Time. Saya, yang mengagung-agungkan betapa pentingnya Me Time buat ibu biar tetap waras, membaca komik dan melihat ilustrasinya yang menggambarkan anak sudah tidur, saatnya maskeran sambil leyeh-leyeh baca buku. Kenyataannya: anak terbangun, dan kaget melihat penampakan ibunya, nangis kejer. Alhasil, biar anak diam, masker pun dibersihin, pukpuk anak biar tidur lagi. Misi gagal total!

Sekarang sih saya sudah bisa Me Time dengan leluasa. Bisa maskeran tanpa gangguan. Dulu, saat anak-anak masih kecil, ya seperti yang digambarkan di komik Puty. Dari 20 kali usaha, hanya satu yang berhasil, benar-benar bisa Me Time, ketika suami, bapaknya anak-anak ada di rumah, gantian ngurus si kecil.

Di dalam jurnalnya tentang buku keduanya ini (buku pertama Puty: Happiness is Homemade), dituliskan walau komiknya ini untuk lucu-lucuan, tapi diharapkan bisa menguatkan. Puty berharap ibu-ibu pembacanya bisa embrace the imperfection. 

Kita para ibu, harus bersyukur atas kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang tidak instagramable. Ibu-ibu tidak harus sempurna, sebagaimana yang sering ditampilkan di media sosial.

Dan saya setuju. Teori itu berbanding lurus dengan kenyataan. Teori tinggal teori, praktek dan kenyataanlah yang selalu hadir setiap hari.

Untuk para ibu terutama mamah-mamah muda yang sering merasa galau dan sendirian dengan urusan anak atau rumah tangga, saya sarankan baca deh Komik Persatuan Ibu-Ibu karya Puty Puar, seorang blogger, ibu, ilustrator dan kreator, moga bisa tersenyum kembali, yakin kalau hidup baik–baik saja karena punya teman seperjuangan. Jangan galau lagi dalam menghadapi kenyataan yang tidak sesuai ekspektasi.