Kehidupan seksual adalah hal penting dalam kehidupan suami-istri. Exactly!

Harmonisnya hubungan bisa dimulai dari hangatnya suasana di atas ranjang Emaks. Betul? Jangan sampai loh Maks masalah seksual  berkelanjutan dan justru menjadi pemicu retaknya hubungan dengan suami.

Banyak cara yang bisa dilakukan agar kehidupan ranjang itu senantiasa hangat, agar lebih bergairah. Pastinya Emaks nggak mau kan kehidupan ranjang flat gitu aja, mesti ada variasinya!

Inilah 7 fakta tentang seks yang bisa mengembalikan kehangatan ranjang Emaks

  1. Penelitian menyebutkan bahwa gangguan seksual pria dipengaruhi oleh penyakit degeneratif

Gangguan seksual mungkin terjadi pada semua pria. Jenisnya bermacam-macam, seperti menurunnya gairah seksual (gangguan libido), ejakulasi dini hingga disfungsi ereksi (gangguan fungsi ereksi di mana seorang pria tidak dapat memulai atau mempertahankan ereksi penisnya).

Faktor penyebabnya adalah faktor psikologis (stres berkepanjangan, hubungan emosional dan komunikasi yang kurang harmonis dengan Emaks, serta rasa bersalah terhadap pasangan yang mungkin timbul karena adanya pihak ketiga). Dan faktor fisik seperti rasa letih yang berlebihan, penyakit diabetes melitus, hipertensi, jantung, ginjal, kolesterol dan penggunaan obat-obat tertentu.

Penyakit degeneratif akibat proses penuaan, memang bisa jadi pemicu gangguan seksual. Jika telah berlangsung selama lebih dari 3 bulan, ada kemungkinan gangguan seksual yang Emaks alami disebabkan oleh penyakit degeneratif. Sebaiknya segera konsultasi ke dokter ya, Maks.

  1. Ternyata, gangguan tidur dapat memengaruhi gairah seksual perempuan!

Tidur penting untuk pemulihan energi, baik fisik maupun psikis, sehingga seseorang dapat beraktivitas kembali lebih bugar. Nah, apabila terjadi gangguan tidur bisa menyebabkan seseorang kurang istirahat.

Dampaknya? Bisa terjadi penurunan kemampuan melakukan segala aktivitas fisik, seperti bekerja dan olahraga.

Nggak hanya itu, konsentrasi dan kemampuan berpikir pun lambat laun bisa terganggu. Ini tergantung pada berapa lama gangguan tidur berlangsung.

Lalu kaitannya dengan gairah seksual? Bisa berdampak pada kurangnya minat Emaks atau suami dalam melakukan hubungan seksual.

  1. Meski nggak bertulang, penis bisa patah juga

Hah penis patah? Emang bisa?

Walaupun jarang terjadi, penis patah atau retak bisa terjadi. Penyebabnya adalah posisi hubungan seksual yang tidak tepat.

Salah satunya posisi woman on top, di mana wanita terlalu agresif saat melakukan gerakan. Penis yang menusuk terlalu keras dan cepat saat penetrasi sehingga terkesan menekan tulang pinggul pasangannya, juga bisa menjadi penyebab patahnya penis.

Ketika mengalami patah, penis akan terasa sakit luar biasa, diikuti perubahan warna pada kulit penis, menjadi hitam atau biru. Itu bisa berarti hanya sebagian penis yang terluka atau justru keseluruhannya. Penyambungan kembali pada penis yang patah mungkin saja dilakukan, namun sensasi yang utuh dan fungsi dari penis sulit kembali normal.

Duh ngeri ya, Maks. So, jangan terlalu agresif ya, perlakukanlah penis dengan lembut.

  1. Bercinta di pagi hari, 3x seminggu, bisa menurunkan risiko stroke, serangan jantung, serta mempercantik rambut, kulit dan kuku

Frekuensi hubungan seksual nggak berdampak langsung pada kesehatan tubuh loh, Ma!

Namun, hubungan seksual yang sehat dan berkualitas, di mana memberi kepuasan pada pasangan dan tanpa unsur paksaan, dipercaya berpengaruh positif pada kesehatan tubuh.

Karena, ketika orgasme, tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin dan oksitosin yang membuat seseorang merasa lebih tenang dan relaks. Hal ini berpengaruh pada lancarnya aliran darah dalam pembuluh darah yang membawa oksigen bagi organ-organ tubuh. Kondisi ini sangat baik bagi penderita hipertensi.

Pada perempuan, produksi hormon estrogen akan meningkat pada saat melakukan hubungan seksual. Hormon ini memiliki kemampuan untuk membantu proses pencerahan kulit, rambut dan kuku.

Sedangkan pada pria, rangsangan seksual akan meningkatkan produksi hormon tetosteron yang berperan dalam menjaga kesehatan jantung.

  1. Meskipun lebih jarang mencapai klimaks, nyatanya perempuan lebih menikmati seks

Orgasme atau klimaks merupakan salah satu dari fase seksual, saat seseorang merasakan kepuasan dalam berhubungan seks. Pencapaian klimaks pada pria dan perempuan memang terlihat berbeda-beda.

Perempuan disebut-sebut lebih jarang mencapai klimaks. Namun, masalah siapa yang lebih menikmati seks, sangat tergantung dari Emaks dan suami.

Kembali lagi, apakah pasangan bisa memberikan foreplay yang tepat dan cukup? Apakah Emaks merasa relaks dengan Papa? Tentunya, jika semuanya tercapai, bisa dipastikan Mama akan lebih menikmati seks.

  1. Migrain pada perempuan pemicu menurunnya hasrat seksual

Sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Pavia di Italia menemukan bahwa perempuan yang sering mengalami migrain, hasrat seksualnya akan turun. Hal itu memang belum pasti, tapi ada kemungkinan ini bisa terjadi.

Migrain berhubungan dengan fase konstruksi di mana terjadi pengerutan pembuluh darah di kepala sehingga aliran darah berkurang dan menimbulkan sakit. Selain itu, rasa sakit akibat migrain akan memengaruhi kondisi psikologis. Perempuan akan terpacu hasratnya jika secara psikologis ia merasa nyaman dan tidak stres.

  1. Perempuan nggak perlu ‘obat kuat’

Berbeda dengan pria, obat perangsang hasrat seksual justru tidak berpengaruh bagi wanita. Hasrat seksual perempuan lebih mudah muncul jika didukung kondisi yang menyenangkan dan membuatnya merasa tenang.

Hasrat seksual perempuan pun dapat dipicu hanya dengan sentuhan lembut di daerah-daerah sensitifnya. Nggak heran jika foreplay dianggap ‘obat perangsang’ mujarab bagi para perempuan. Perlu dicatat nih untuk para suami!

Hayo gimana Maks, baru tahu tentang fakta seks ini? Semoga membantu, ya. Walau sibuk mengurus anak, kerjaan jangan lupa untuk meluangkan waktu untuk ‘olahraga ranjang’. Agar pernikahan lebih harmonis dan saling sayang.