Cemburu, kalo dilihat artinya dari kamus besar bahasa Indonesia sih, suatu  perasaan tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung, lebih, atau mempunyai sesuatu yang kita tidak memilikinya.  Kadangkala, memang cemburu diartikan dengan perasaan yang teramat sayang, sehingga kita jadi protektif jika ada pembanding atau sesuatu yang lebih dari seseorang yang kita sayang itu.

Saya tidak sedang ingin membicarakan definisi cemburu, karena tentu saja butuh waktu yang tak sedikit, dengan pro kontra yang menyertainya, melelahkan ya? Yuk sekarang, kita bahas saja soal, Seringkali para ibu cemburu pada anak orang lain!

Ayo mak, tunjuk tangan bareng, karena saya, Anda dan emak-emak lain diluar sana, pasti pernah merasakan ini kan? Boleh kok mak, tentu saja boleh kita cemburu pada anak orang, cemburu pada kebisaan, kepintaran, kelincahan dan ke..ke..ke.. yang lainnya itu, tapi ingat kadarnya! Kita boleh saja cemburu dengan kadar yang wajar saja, tidak berlebihan, tanamkanlah pada diri kita bahwa kecemburuan yang kita rasa, sebenarnya adalah sebuah cambuk semangat untuk mengarahkan anak kita agar mereka bisa “sehebat” anak tetangga (orang lain).

Siapa sih mak yang mau anaknya disbanding-bandingkan? Akan perih kuping, akan panas hati dan akan sumpek pikiran kita kalo dengar rumpian “eh, anaknya si A udah bisa lari-larian lho, padahal baru aja 11 bulan”, atau “Anaknya si B mah hebat banget, bacanya udah lancar umurnya baru 3 tahun lho” yang lain lagi bilang “Bajunya anak si C bagus-bagus ya, keren punya, belanjanya juga di Mall gede”, dll,dll,dll yang lebih hot lagi dan tentu saja membakar api cemburu dihati emak-emak sekalian.

Biarkanlah mak! Jangan diambil hati, apalagi lantas memakksakan untuk menyaingi. Tenang saja, itu yang saya sarankan, kenapa? Kecemburuan kita yang berlebihan itu, justru berakibat kurang baik bagi perkembangan anak kita lho. Karena kecemburuan membabi buta itu akan mengakibatkan efek negatif ini..

  • Anak cenderung kurang PeDe, tidak mau menonjol atau bahkan minderan. Pemaksaan orang tua pada mereka menjadikan mereka menutup diri, dan akhirnya menjadikan “tidak bangga” pada diri sendiri.
  • Bisa jadi, anak menjadi pribadi yang ambisius, egois dan ingin menang sendiri. Karena keinginan orang tua untuk selalu jadi yang ter… diantara teman-temannya, maka si anak cenderung akan berlaku arogan, jika ternyata mereka “kalah” dikhawatirkan akan menjadikan mereka putus asa bahkan depresi.
  • Antisosial. Artinya mereka malah member batas pada lingkungan mereka sendiri, tidak mau bergaul, tidak ingin kumpul dengan teman, karena mereka merasa selalu dibandingkan dan menjadi “alat” bagi orang tua untuk pamer gengsi.
  • Menyalahkan diri sendiri, mudah tersinggung dan (bahkan) pendendam. Mereka-mereka ini, berada dalam tahap pengenalan diri, usia anak-anak tidak dapat menyerap informasi sematang mereka yang dewasa. Bila mereka terus ditekan demi keinginan orang tua untuk bersaing, bisa jadi mereka tidak dapat menerima kemampuan dirinya sendiri, saat keinginan orang tua tak terpenuhi.

So, bagaimana mak? Apa masih ingin memaksakan kecemburuan emak-emak sekalian pada si buah hati kesayangan? Jangan dong ah..

Yuk kita sama-sama harus ingat,

Bagaimanapun anak kita,

merekalah anugerah terindah yang dititipkanNya special untuk kita,

yang bahkan banyak diluaran sana

para wanita belum diizinkan untuk

mendekap hangat malaikat kecil, seperti yang Anda punya

tersenyum dan bersyukurlah… 🙂