LDL? Apa itu LDL? Hihihi… Long Distance Love. Mungkin beberapa temans menyebutnya Long Distance Relationship. Tapi saya lebih suka menyebutnya LDL. Sama seperti judul bukunya Mbak Imazahra.

Hari Jumat lalu, saya dan teman-teman kantor menjenguk Branch Manager yang baru saja melahirkan. Waktu di Hermina Bogor, saya sempat bertanya.

“Pak Iqbal masih di Paris, Bu?”

“Iya kasian ya aku. Dua kali lahiran gak ditunggui.” jawab beliau sambil tertawa.

Saya kadang miris sekali kalau melihat teman-teman yang berjauhan dengan suami. Bagaimana rasanya ya. Kadang ditinggal seminggu saja sudah hampa jiwa raga *hahaha lebay. Saya bersyukur sejak pertama sudah hidup seatap dengan si doi (baca: suami). Salut banget buat mereka yang bisa menjalani LDL.

“Bersyukur suami istri kerja di satu kota.” kata salah satu teman terbaik saya.

Saya Insya Allah tidak ingin menjalani LDL dengan si doi. Terus misal dia pindah kerja?

Ikuuuttttttttttt *sambil beres-beres baju dan masukin ke koper. Pokoknya kemana pun dia pergi, mau ikut *hehehe ngintil.

“Kerjaanmu gimana?”

Tinggal saja. Saya lebih rela makan sama ayam goreng tiap hari dari pada tinggal terpisah. Lho? Hihihi. Jika saya dihadapkan pada pilihan itu, ikut si doi atau pekerjaan, saya pilih ikut si doi. Sebagai istri, janji saya di hadapan Allah adalah melayani semua kebutuhan suami. Pekerjaan bisa saya cari di tempat baru. Lagi pula saya bekerja bukan mengejar karir. Tapi untuk mengembangkan diri dan wawasan. Juga bersosialisasi. Supaya saya tidak stress dengan pekerjaan rumah tangga yang tidak pernah ada habisnya. Saya rasa pekerjaan seperti ini dapat dilakoni di mana saja.

Kecuali si doi kerjanya di pertambangan yang jauh di pelosok hutan. Tidak boleh bawa keluarga karena medannya berat dan berbahaya. Baru deh saya mau LDL. Namun saya akan memilih kota yang paling dekat dengan lokasi pertambangan. Biar bisa diusahakan bolak-balik Sabtu-Ahad.

Nah kalau kuliah?

Sebenarnya saya ingin kuliah lagi. Cuma tidak mau di Indonesia. Gaya beud *hehehehe. Bukan saya tidak percaya dengan kualitas pendidikan di Indonesia. Saya cuma ingin keluar dari zona nyaman. Rasanya pasti beda ketika kita bisa survive dan sukses di negara yang membuat kita merasa home sick terus. Sayangnya sejak menikah saya berpikir, bagaimana dengan si doi dan anak-anak. Bisa sih ya bawa keluarga. Masalahnya si doi kan kepala keluarga. Pasti tidak mudah melepas begitu saja pekerjaannya. Saya pergi dua tahun kok rasanya berat. Gak kuat *hehehe.

Makanya saya punya trik untuk mengatasi problem kuliah ini. Sekarang saya sedang mendorong si doi sekuat tenaga. Bila perlu dorongnya pakai bulldozer *hihihi. Memberinya semangat untuk mencari beasiswa keluar negeri. Nah kalau lolos, kan boleh bawa keluarga. Saya dengan senang hati langsung resign. Katanya jika sudah di sana, cari beasiswa lebih mudah dibanding dari Indonesia. Kuliah biaya sendiri pun lebih murah cenah. Gak papa nanti disambi jadi tukang cuci piring, waitress, baby sitter, jual koran, atau apalah 😀

Saya pernah baca cerita. Seorang kandidat dokter di Belanda, bekerja sebagai pencuci piring. Cucinya bukan seperti di Indonesia. Tapi pakai mesin. Jadi hanya memasukkan perkakas kotor ke mesin. Putar tombol. Tungguin deh sambil baca koran. Seminggu cuma dua kali. Gajinya sebulan 6 juta. Tahun 2006. Sekarang 2011, berarti lebih gede ya *matanya ijo ngebayangin duit 😀

So, saya akan berusaha sekuat tenaga. Bagaimana pun caranya jangan sampai LDL, Ya Allah. Jangan sampai. Seperti nasihat Mama Dedeh.

“Suami istri yang tidak tinggal satu atap, lebih rawan diguncang masalah. Rumah tangganya tidak sehat. Siapa yang akan memenuhi kebutuhan suami, kalau istrinya tidak ada.”