Aku bukan mau menjelek-jelekkan profesi pembantu rumah tangga (PRT) melainkan sekadar mengingatkan agar kita selalu waspada.

Sejak tahun 2000 aku memutuskan untuk tidak mempekerjakan pembantu rumah tangga setelah mengalami berbagai kejadian kurang menyenangkan dengan manta-mantan asistenku itu (semuanya ada 20 orang, terdiri dari pembantu dan babby sitter). Saat itu anak-anak masih berumur 5 dan 6 tahun. Aku masih bekerja di sebuah organisasi asing, sementara suamiku sedang lebih banyak di rumah karena perusahaannya sedang gonjang-ganjing. Semua ‘terpaksa’ bahu-membahu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Alhamdulillah sampai sekarang kami berhasil mengurus rumah tangga dengan lebih mandiri dan tidak lagi menghadapi berbagai masalah dengan PRT.

Dari 20 pembantu dan babby sitter itu banyak yang baik hati, profesional, dan masih berhubungan baik dengan keluarga kami hingga sekarang. Tapi aku pernah punya pembantu yang ternyata sering kelayapan malam-malam dengan cara diam-diam menyelinap keluar saat kami sudah tidur. Ada babby sitter yang memperdaya pembantuku yang lugu sehingga mau saja disuruh-suruh untuk kepentingan pribadinya. Ada yang sudah menikah tetapi mengaku masih gadis lalu hamil… untung dijemput suaminya, kalau enggak kan timbul pertanyaan aneh-aneh. Ada juga pembantu yang mengakunya pulang kampung ternyata malah ikut pacarnya entah ke mana dan orang tuanya menanyakan keberadaan si anak kepada kami. Kontan jantung kami ikutan mau copot. Setelah membereskan kamarnya, kami menemukan kumpulan surat cinta antara sepasang kekasih itu dan mengetahui kejadian yang sebenarnya. Syukurlah bapak pembantuku menerima keadaan dan enggak bikin ribut.

Baru-baru ini temanku mengalami kejadian percaloan PRT yang tidak etis:

“Hati2 menerima pembantu harian. Pengalamanku, si bibi baru masuk sehari, besoknya dateng bilang ga bisa nerusin krn mantu melahirkan dan dia hrs ngurus cucu (lah, bknnya udah 9 bln tahu bkl pny cucu?). Dia bawa pengganti. Stlh pengganti mulai bekerja, si bibi minta persen mll mbak yg baru krn udah masukin orang. 50 sampai 100rb. Ternyata si bibi itu masih kerja di tempat lain, katanya ga bisa ke-mana2 hrs ngurus cucu? Ini modus baru di tempatku, bayangkan kalau dia bolak balik melakukan itu, sehari kerja bisa dapet s/d 100 ribu? Mereka skrg bukan benar2 cari kerja, tapi jadi calo PRT dgn cara tdk langsung. Dgn memperdaya ibu2 yg sangat butuh PRT. Well, kebutuhanku tdk trl mendesak, karena aku kerja di rumah. Tapi yg punya anak kecil smtr kerja kantoran? Semoga tidak ada yg jadi korban lagi.
Saya berhentikan maid baru itu. Saya tdk mau bayar persen itu krn dari awal dia tidak bilang dia itu calo. Waspada ya … :)”

Teman lain juga turut berbagi:

Pembantu tetanggaku lebih kurang ajar lagi. Dia adu domba pembantu dan majikan tetangga shg si pembantu keluar/pulang kampung. Terus dia nawari pembantu baru ke majikan tsb. Dua2nya dia palakin (majikan dan pembantu barunya). Begitu seterusnya dgn rumah2 yg lain. Nomor majikan laki pun sempat dijadikan nomor kontak kalo ada yg nyari pembantu, sayangnya si majikan perempuan belain banget si pembantu kurang ajar ini krn merasa repot punya anak kecil (padahal gak ngantor lho). Si bibiku juga suka diomongin macem2. Untungnya si bibiku orangnya berani, dilawan aja itu org mau ngomong apa. Just sharing..

Emang ga semua PRT nakal. Tapi, kita tidak selalu beruntung mendapatkan PRT yang baik. Daripada stress sakit jiwa mendingan semua dikerjakan sekeluarga. Cape sih, repot sih, tapi manfaatnya lebih besar daripada kemudaratan memupuk praktik pemalakan PRT yang enggak bertanggungjawab kayak gitu.

Tentang Dina Begum
Seorang penerjemah lepas, anggota Himpunan Penerjemah Indonesia – HPI (The Association of Indonesian Translators). Bagi Dina, menerjemahkan adalah impian, kebanggaan dan hobi, sementara membaca sudah merupakan bagian dari kehidupannya.
Lihat semua tulisan oleh Dina Begumย ยป