“Saya memang pelacur. Tapi nggak pernah ngerayu suaminya situ buat datang ke tempat saya….” umpat Melati di atas batas normal. Karena geram dan berapi-api tiba-tiba saja mendapatkan tamparan tanpa basa-basi apalagi permisi.

“Ngaca dong.. mana betah laki-laki serumah sama orang judes seperti situ..” lanjut Melati. Menumpahkan semua sisa geramnya.

“Kamu itu wanita murahan, masih banyak omong juga ya. Perusak moral bangsa, penyebar virus menjijikkan. Ingat ya…!!! jangan berani berani lagi menghubungi suamiku, atau kau akan rasakan akibatnya nanti…ingat ya..!!”

“Keluar..!! keluar dari rumahku….” teriak Melati. Ia sudah tidak kuat lagi menahan diri. Biarpun semua yang didengarnya adalah kenyataan tapi tetap saja pahit untuk ditelan. Getir untuk diresapi dengan hati. Toh ia masih punya hati. Sesempit apapun ruang itu. Ia masih punya hati.

Wanita setengah baya berbaju silver itu pergi meninggalkan rumah Melati. Ia tersenyum puas sembari menggenggam harap. Akan ada perubahan dalam rumah tangganya setelah ia melakukan sesuatu yang ‘keras’.

Melati. Nama bunga putih nan wangi. Sengaja disematkan sebagai pilihan nama untuk publikasi di wisma lokalisasi. Nama aslinya adalah Murtini. Mami yang mengasuhnya dulu menyuruh untuk ganti nama biar terdengar lebih keren dan bernilai ‘jual’. Selayak artis yang akan memasuki dunia hiburan tanah air. Perkara nama pun harus punya nilai jual. Begitu juga calon penghuni yang diprediksikan menjadi artis lokalisasi pun juga harus mempunyai nama yang memikat. Maka dia memilih nama Melati, bunga yang selalu disukainya.

Tinggal di kontrakan sempit sebuah kawasan lokalisasi. Tempat tujuan para hidung belang yang suka jajan kenikmatan sesaat. Tenggelam disana, acapkali ingin keluar dan berubah. Namun arus menariknya kembali lebih kuat dari pada harapannya untuk keluar dari kubangan hitam itu.

Fashion dan kosmetik-kosmetik harga selangit dijajakan secara kredit di sekitar wisma. Dengan perhitungan singkat, untuk modal mempercantik barang dagangan, agar lebih laris. Produk-produk itu pun laris manis meninggalkan jejak hutang.

Pedih…

Ketika rasa itu tiba. Rasa diri begitu kotor dan berjibaku dengan dosa. Untuk apa, untuk siapa..?

“Melati itu harusnya berwarna putih kan bunda ?” ucap gadis kecil yang selalu di namakan  sebagai anak haram dan nggak jelas siapa bapaknya. Tapi Melati selalu ngotot meneriakkan. ‘Bocah itu bukan anak haram. Dia lahir saat aku masih punya suami dan rumah tangga yang utuh. Sebelum laki-laki itu berubah menjadi pemabuk dan penjudi, dan sebelum dia ditangkap polisi karena membunuh…..” selalu sesak dada itu mengulang kembali beberapa kata terakhir. Masa lalu keruh yang membuatnya putus asa. Yang membuatnya malu untuk pulang pada keluarga. Yang membuatnya memilih sebuah pilihan yang…..

“Zakiyyah bobok dulu ya sayang. Bermimpilah yang indah tentang peri baik hati…” Melati memotong alur kata hatinya yang mulai menjelajah ke masa lalu. Dia mulai menidurkan putri semata wayangnya. Dengan dongeng-dongeng peri yang selalu membuat mata kecil itu dipenuhi gemintang cahaya. Meski Melati juga sadar, seiring bertambahnya usia. Zakiyyah mulai dapat menyentuh dengan indra perasanya yang polos. Pasti gadis kecil itu tidak akan bisa tidur nyenyak setelah rumahnya didatangi wanita yang marah-marah dan menampar Ibunya.

***  ***  ***


Kerja malam, sebuah rutinitas….

Mata lelah dan tubuh yang payah. Kali ini bertambah dengan mata yang basah.

Entah untuk keberapa kalinya, Melati harus bertemu nafsu liar di luar normal. Konsumen adalah raja. Yang bebas menginjak harga dirinya asalkan dia mampu bayar dengan nominal. Tak hanya itu, terkadang ada juga konsumen yang terlalu kreatif fantasinya. Diluar batas wajar. Melati harus tahan usai mengerjakan tugas, wajah dan tubuhnya lebam-lebam. Perih dan ngilu asalkan semua dibayar.

03.00 dini hari.

Membuka layar laptop kecil. Membuka sebuah jejaring maya Facebook. Dengan nama akun Bunda sayang Zakiyyah.

Berpacu dengan waktu. Untuk malaikat kecilku.

Tulis melati mengupdate statusnya.

Lembur banyak pesanan lagi ya say..?

Sebuah komen masuk dengan emot senyum manis. Cukup membuat malam itu menjadi manis di hati Melati. Sekejap saja berada dalam maya yang ia rias begitu rupa. Tempatnya bersembunyi dan merubah diri menjadi sosok yang bisa ia hayal sesuka hati.

Hmm iya mbak…

Jawab Melati. Teman facebook yang dia ketahui lewat profil adalah Ibu rumah tangga sekaligus wanita karier di bidang manajemen perkantoran itu baru saja mengomentari statusnya. Melati tersenyum sendiri. Mulai menikmati dunia yang ia ciptakan.

Kue bolu pisang lagi..?

Bunda zakiyyah pasti disayang suami dan anak ya, pintar masak dan pintar nulis pula. Iri deh hehe..

Melati terkekeh. Ada seseorang yang iri pada kebahagiannya. Kebahagiaan dalam dunia rekaannya. Hiks, pekat lirih perih mengakhiri tawa riangnya. -Bunda sayang zakiyyah- adalah tokoh rekaan yang ia ciptakan. Yang selalu ia jadikan topeng dalam berselancar di dunia maya. Ya… karena mana mungkin dia mempublish data aslinya. Mana mungkin dia menulis info diri bahwa dia Melati, tinggal di wisma pelacuran, dan ia berprofesi sebagai penjaja tubuh. Mana mungkin ada yang mau berteman dengannya. Mana mungkin…

Coba kirim puisi atau cerpen ke majalah saja Bunda, keren tuh tulisan-tulisan yang di note. Suer..

Satu komen lagi masuk. Dari –Jay andi full- sosok yang mengaku menjadi mahasiswa IKJ. Membuat melati malah menertawakan diri sendiri. Usulan yang terlalu mustahil bagi profil nyatanya.

Dunia maya. Dunia antara ada dan tak ada. Bagi Melati hanya dunia yang benar-benar maya yang tanpa bisa dijamah jemari alam nyata. Tempat ia bersembunyi dan mewujudkan mimpinya menjadi apa saja.

Bunda sayang zakiyyah adalah seorang ibu rumah tangga dengan suami dan seorang anak. Selain sibuk urusan rumah tangga, dia juga sering dapat orderan membuat kue dan cake. Jika ditanya tentang resep kue ? dengan gampang melati akan gogling di internet. Disamping itu meskipun tidak pernah ada orang yang memesan kue padanya. Dalam senggang siang dia sering mencoba-coba resep dengan Zakiyyah. Apapun hasilnya itu menjadi kue terlezat yang mereka nikmati berdua.

Untuk pic ? sudah lumrah kan, kalau di dunia maya memasang wajah artis atau berbagai gambar cantik, bahkan gambar nyeleneh yang bertebaran di internet. Namun Melati hanya mau memasang gambar bunga berwarna putih, awan berwarna putih, dan semua sketsa gambar berwarna dasar putih. Jika ada yang penasaran dengan dirinya tentang alamat, wajah asli dan ingin mengenal lebih dekat. Dan pada akhirnya semua kebohongan tersingkap. Dengan mudah Melati akan menutup akun. Dan dengan mudah juga membuat akun baru, dengan wajah baru seperti yang dimau. Maya bagi Melati adalah tempat sembunyi dan tempat menikmati mimpi yang tak pernah diraih di alam nyata.

“Hay…”

Jendela chat dibuka, oleh sosok yang baru saja komen di statusnya. Bernama facebook -Ratih suka senyum-

“Hay bunda…”

“Hay juga mbak Ratih, how are you this night…” Melati balas menyapa dengan ramah.

“Belum tidur..?” lanjutMelati, sembari melirik jam dinding. Jarum menunjuk arah angka 03.00 dini hari.

Tak ada respon.

“Eh pasti baru bangun ya… sholat malam ? rajinnya si embak hehe..” tebak Melati. ia beprasangka  yang berhadapan chat dengannya adalah perempuan baik-baik. Yang dalam mimpipun tak pernah membayangkan dunia kelam seperti yang sedang dipijaknya.

“Nggak kok, asli belum tidur, lagi sedih… poll” emot derai tangis mengiringi balasan di chatroom itu.

‘Fyuh…  kayaknya bakalan jadi tempat curhat lagi nih’ desah Melati. rasanya dia juga ingin teriak… ‘emangnya situ doang yang sedih. Lihat aku nih..! tiap hari bergelimang perih…!’

Melati menahan diri untuk tidak menulis tanya lebih jauh. Dia sudah terlalu lelah memikirkan perasaannya sendiri. Malam ini hatinya remuk, jika saja boleh jujur mengadu.

“Kenapa lelaki selalu tak puas dengan istri yang melayaninya dirumah..? selalu saja berpetualang mencari kupu-kupu yang bertebaran diluar pagar.. hiks..”

“Padahal kupu-kupu itu satu persatu aku tangkap dan kuinjak dengan sepatu. Sampai tak berdaya. Agar tak berani lagi menggoda dan mengambil cintaku. Aku muak dengan semua ini… hiks “ curhat beruntun itu disodorkan juga meski tanpa diminta. Membuat Melati semakin lelah. Jika biasanya dia menanggapi dengan ramah sembari memberi petuah serta contoh-contoh bijak keluarga sakinah impiannya. Kali ini Melati benar-benar lelah dan merasa sedikit marah karena curhatan itu seolah menyindirnya tajam. Sakit… merasa dirinya seperti kupu-kupu yang diinjak dengan sepatu, seperti peristiwa tamparan panas dua hari yang lalu.

“Kenapa pemerintah tak pernah bisa membersihkan wisma lokalisasi..? kenapa didunia ini harus ada pelacur….?? perusak moral bangsa.. penyebar virus menjijikkan…, …., …..”

Berkaca-kaca dan tak mampu lagi melanjutkan membaca deretan huruf itu. Tak salah lagi,.Teman maya yang cukup dekat, cukup intens berbincang dalam chat, komen status maupun nimbrung membaca note-note yang dia posting. Adalah orang itu…

Meski tak mendapat respon, curhat itu terus berlanjut di  ruang kecil layar facebook. Seperti air bah yang tak bisa dibendung.

Melati tak membacanya. Hatinya sudah terlampau sesak. Ia beralih ke halaman note untuk menulis sesuatu.


Mendapati baris tanya,…

Melati itu harusnya putih kan ?

Harusnya indah jika berteman semilir ?

Harusnya menebar wangi pada semesta…

Memangnya kenapa jika melati tak wangi ?

Malah menjadi kupu-kupu yang menari di luar pagar

Menggoda nafsu liar,

Demi seteguk kehidupan.

Memangnya kenapa jika tak putih..?

Memangnya kenapa….?

Sekarang bolehkah aku yang bertanya,

Mengapa tak pernah peduli…

Pada tangisan melati.

Tahukah ?

Melati juga punya mimpi memeluk bintang

Menyentuh ujung langit

Meski endingnya hanya mengigit bibir di pojok ruangan.

Berdamai dengan angan-angan.

Melati jalanan tak pernah diterima.

Di taman dalam batas pagar.

…………………

Meski lupa menyematkan judul, postingan itu terbit. Dengan air mata.

Jemari itu kian lincah untuk meluncur di kolom –sunting pengaturan- dengan pasti dia memencet tombol -tutup akun-.

***  ***  ***


Binta Almamba

05 Des 2010