Penulis: Binta Almamba

Ramadhan 1432. Saat Fahri anak sulungku berusia hampir enam tahun. Sekolahnya masih TK kecil. Namun menurutku sudah waktunya untuk mengajaknya belajar puasa, karena pada tahun kemarin teman sekelas dan sepermainannya sudah ada yang belajar puasa setengah hari. Meskipun anjurannya adalah umur tujuh tahun tak ada salahnya melatih sedikit demi sedikit sejak sekarang, mumpung lingkungannya sudah mendukung.

Sebelum masuk hari pertama sudah aku jelaskan apa dan bagaimana puasa itu. namun tetap saja namanya anak-anak saat memulai pada hari pertama dan sudah terasa haus akan merengek minta minum. Dan saat diingatkan kalau sedang puasa masih bertanya lagi dan lagi.

“Kenapa nggak boleh makan minum? Kapan waktu bolehnya makan minum?”

“Sebentaaaar lagi.” jawabku dengan menjanjikan kata sebentar itu memakai nada kesungguhan.

Bisa dipastikan dalam hitungan menit rengekan itu kembali didengungkan. Dengan pertanyaan yang semakin menyudutkan.

“Dari tadi kok sebentaaaar teruuuuus?!?” tanya kesal Fahri sambil memonyongkan bibir.

Semakin bertambah jarum jam berjalan akan semakin alot dan menjengkelkan. Benar-benar perjuangan mensuplay stok kesabaran yang agaknya selalu cepat habis saat waktu merangkak menuju siang.

Maka hari pertama yang sedianya aku targetkan sampai bedug dhuhur pun gagal. Jam sepuluh siang sudah berbuka. Tak apa-apa lah, sudah bagus untuk permulaan. Kemudian pada hari kedua, masih dengan perjuangan yang sama si Fahri bertahan hingga pukul sebelas. Hmmm peningkatan sedikit.

Suatu siang ketika sms-an dengan seorang teman. Aku diberikan sebuah tips untuk menyemangati anak-anak agar mau berpuasa. Yaitu dengan memberikan reward berupa bintang yang terbuat dari kertas warna-warni yang ditempel pada pintu kamar. Setiap sukses puasa sehari maka akan mendapat satu bintang dan boleh memilih minta bintang warna apa untuk hari itu.

Wow… menarik dan sepertinya asyik untuk dicoba.

Aku segera membuatkan bintang-bintang untuk Fahri. Namun dengan sedikit modifikasi dari ide asalnya. Bintang buatanku hanya berasal dari kertas putih yang digambar pakai krayon dengan beberapa ekspresi manusia. Ada bintang yang sedang cemberut, bintang tersenyum dan bintang yang tertawa lebar.

“Bintang yang cemberut adalah jika Fahri puasanya tidak sampai bedug dhuhur…” aku memberikan keterangan saat mulai menggunting bintang-bintang yang kubuat bareng anak-anakku, Fahri dan Zahra (2 tahun ½).

“Kemudian bintang yang tersenyum adalah jika Fahri berhasil puasa sampai bedug dhuhur… dan yang bintang tertawa lebar ini jika Fahri bisa puasa maghrib..” lanjutku menerangkan.

Alhamdulillah dengan adanya bintang-bintang itu Fahri jadi semangat puasa. Berkali-kali dia berhasil mendapatkan bintang yang tersenyum dan gembira sekali saat melihat satu persatu bintang itu menempel di pintu.

Saking semangatnya dan karena teman sepermainannya ada yang sudah sukses puasa maghrib maka si Fahri pun termotivasi untuk mendapatkan bintang yang tertawa lebar. Iya… dia mau dan bisa puasa maghrib. Wow.. aku terharu namun juga agak kasihan anak sekecil itu sudah puasa maghrib. Neneknya juga melarang untuk puasa maghrib.

“Jangan dulu kalau puasa maghrib!.. kasihan,” ucap Ibuku, neneknya Fahri.

“Saya nggak maksa lho… dia yang mau dan semangat sendiri karena temannya juga ada yang puasa maghrib…” jawabku.

Kelanjutannya hingga akhir Ramadhan bintang-bintang Fahri pun terkumpul. Dua bintang cemberut, satu bintang tertawa lebar dan selebihnya adalah bintang tersenyum manis. Dia selalu bersuka cita menceritakan tentang bintang-bintang ramadhannya tiap ada saudara atau teman yang silaturrahmi ke rumah kami saat lebaran. Antusias menunjukkan bintang tertawa lebar -yang meskipun cuma satu- dengan penuh kebanggaan.

Alhamdulillah… senang sekali mengajak belajar ibadah anak-anak sembari memberikan kenangan indah yang semoga saja selalu terekam dengan manis sepanjang hidupnya kelak.