Anak terlahir dalam jiwa dan hati yang masih suci. Kitalah yang menjadi faktor pembentuk mereka menjadi sosok manusia seutuhnya. Kasih sayang dan cinta yang terbangun antara ibu, ayah dan anak adalah sumber dari segala usaha kita menjadikan mereka sebagai seseorang yang lebih baik, bahkan dari orangtua mereka sendiri.

Sebagai bunda, kita tak sendiri melakukannya. Ada banyak faktor yang ikut mendukung langkah pembentukan itu. Dan salah satunya yang paling penting tentu saja adalah ayah. Orang kedua yang memiliki tanggung jawab dalam membesarkan dan mendidik anak.

Hubungan Ayah dan Anak yang Kurang Dekat

Banyak di antara ayah yang justru mengalami kesulitan saat harus mendekati putra-putrinya. Yang paling banyak dikeluhkan tentu saja ketersediaan waktu.

Sebagai kepala keluarga, Ayah memiliki tanggung jawab utama untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan sudah menjadi tugasnya pula untuk bekerja. Akibatnya di kota-kota besar, ada kecenderungan hubungan ayah dan anak menjadi kurang ‘dekat’, karena hanya bisa menghabiskan waktu bersama di akhir pekan. Sulit memang menyiasati waktu yang tidak mungkin bisa ditambah menjadi lebih dari 24 jam. Belum lagi kalau ini ditambah lagi dengan letak kantor yang jauh dan macet yang sering menjadi hambatan seorang ayah untuk pulang ke rumah dengan cepat.

Ketika waktu pun sudah tersedia, masih ada masalah lain seputar hubungan ayah dan anak yang mengganggu. Hal ini banyak dikeluhkan oleh pasangan yang baru memiliki satu anak. Biasanya kecenderungan ini dilakukan oleh ibu yang beranak perempuan. Ibu dan anak yang seharusnya saling kompak malah saling berebut perhatian ayah. Akibatnya terjadi persaingan yang terkadang justru memperlebar jarak antara ayah dan ibu, ibu dan anak.

Mari kita mengingat kenangan saat masih kecil dulu. Sosok seperti apakah ayah yang dulu membesarkan kita?

Beberapa teman mengenang sosok ayah sebagai orang yang tak banyak bicara, namun lebih banyak menghargai apa pun yang ditunjukkan anak dalam sisi positif. Ada yang lain mengenang kebiasaan-kebiasaan yang sederhana seperti kebiasaan mendongeng dengan mimik wajah yang lucu. Ada juga ayah yang suka bercerita tentang kebandelannya sendiri ketika masih kecil. Hingga kenangan pertunjukan kekonyolan ayah mereka yang tak terlupakan bahkan sampai sang ayah telah tiada.

Kisah yang terkadang lucu itu malah diceritakan dengan berurai air mata, menandakan betapa dekatnya sang ayah dan anak hingga kenangan-kenangan sesederhana itu bisa begitu melekat.

Dalam garis besar, bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang ayah tak perlu banyak mulut atau mempersoalkan sering tidaknya bersama anak, karena kehadiran mereka pasti memiliki sisi yang unik dalam setiap hati anak. Yang terpenting adalah bagaimana agar kehadiran yang tak terlalu dominan itu menjadi lebih berarti hingga tak mengurangi kedekatan antara ayah dan anak.

Sebagai ibu dan istri, tugas kitalah membantu agar hubungan orang-orang yang paling dicintainya itu terjalin baik.

Anak yang dekat dengan ayahnya, biasanya adalah anak yang kuat, berani, dan bertanggung jawab. Ada saatnya kita harus membiarkan mereka saling berbincang berdua saja. Mungkin awalnya canggung, tapi jika dibiasakan, pasti akan mencair selama ada kasih sayang yang hangat.

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang bisa menambah kedekatan ayah dan anak

 

Mengajarkan Balita Hapal Al-Quran

1. Sentuhan kasih sayang

Untuk ayah yang sedikit kurang romantis, pada awalnya mungkin ini akan sulit.

Tapi ada satu cara jitu. Sebagai ibu dari anak-anak, biasakanlah mencium dan memeluk anak sesering mungkin. Dan romantisme adalah “penyakit menular” yang amat mudah diajarkan pada anak.

Jadi, ajarilah mereka melakukannya pada sang ayah juga. Ayah yang kaku seperti apa pun, pasti akan luluh juga kalau dihujani kasih sayang seperti itu.

2. Sambutan penuh perhatian

Ayah mungkin jarang berada di rumah, dan waktunya amat terbatas. Jadi, biasakanlah setiap kali sang ayah pulang dari kantor, anak-anak menyambutnya dengan senyum dan keceriaan.

Ajarilah anak-anak untuk menyambut kepulangan ayah dengan sapaan spesial dan ritual yang manis . Jika ayah benar-benar membutuhkan istirahat, buatlah anak-anak membantu ayah mereka mengatasi lelahnya dengan mengajak mengobrol ringan. Atau, bisa juga sekadar memijat bahu dan kakinya yang pegal.

Tanamkanlah penghargaan yang luar biasa untuk ayah pada anak-anak, agar anak memahami bahwa ayah mereka juga sangat berandil dalam membesarkan dan mendidik mereka, meskipun tidak selalu berada di rumah.

3. Kebiasaan khusus bersama

Penting sekali membangun sebuah kebiasaan antara ayah dan anak, tapi yang tidak melibatkan ibu mereka.

Biarkanlah sesekali anak ‘berkencan’ dengan ayahnya saja, misalkan dengan membiarkan ayah mengajak anak-anak main ke lapangan bola, naik sepeda keliling perumahan, menonton bola berdua, ke toko buku atau bahkan bermain games.

Dengan membiarkan ayah dan anak memiliki waktu mereka sendiri, sebagai ibu kita pun bisa memiliki waktu untuk diri sendiri.

4. Komunikasi efektif

Biasakanlah melakukan percakapan ringan yang membangun di antara keluarga. Hindarilah melakukan pengaduan atas tingkah laku buruk anak di depan ayah mereka, karena suatu hari anak pun akan melakukan hal yang sama pada kita.

Respon positif ibu terhadap kedekatan ayah dan anak juga harus ada, agar tidak terjadi semacam persaingan kasih sayang.

Jika ayah tidak ada di antara ibu dan anak, maka biasakanlah melibatkan ayah dalam komunikasi agar anak tetap merasakan kehadirannya. Sesekali biarkan pula anak menceritakan tentang ayah mereka pada kita dan bereaksilah secara positif.

Semakin sering anak menceritakan ayah mereka, berarti semakin dekatlah dia dengan sang ayah.

5. Kerja sama ayah

Seberapa keras pun cara seorang ibu agar mendekatkan anak pada ayah mereka, takkan berhasil tanpa usaha dari sang ayah sendiri.

Bicaralah dengan sang ayah, dan sampaikanlah keinginan kita. Sampaikanlah dampak positif yang timbul jika hubungan ayah dan anak bisa dekat. Misalnya, seperti lebih mudah dinasihati, agar anak lebih bertanggung jawab, lebih berani dan lain-lain. Hindarilah mengatakan secara langsung, kalau hubungan keduanya saat ini jauh atau sekadar menghakimi dan menyalahkan sang ayah.

Pilihlah waktu yang tepat saat berdua saja dan bicarakan rencana-rencana ibu dengan ayah agar bisa menjalankan kedekatan tersebut tanpa terkesan dibuat-buat. Mintalah ayah agar mengusahakan kedekatannya secara konsisten dan kontinyu.

Dan, yang harus diingat. Sebesar apa pun seorang anak mencintai ayahnya, tetap akan selalu ada tempat khusus untuk ibu mereka. Jangan merasa iri kalau melihat anak menjadi lebih dekat dengan ayah mereka. Kalaupun hal itu terjadi, maka ibu bisa melakukan hal yang sebaliknya. Meminta bantuan sang ayah agar ibu bisa lebih dekat anak mereka.

Saling mendukung satu sama lain dan menjaga agar perhatian antara keluarga saling merata adalah hal terpenting yang harus dilakukan setiap ayah dan ibu, karena keseimbangan dalam hubungan rumah tangga yang bahagia akan menjadi bekal positif untuk anak hingga ia dewasa nanti.

Semoga berhasil!

Penulis: Bunda Iin