Menjadi tuan rumah hajat nasional jaman sekarang itu ribet dan ribut karena selalu yang disorot yang negatif terus, apalagi jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mulai beredar. Saya tidak terlalu tertarik dan mengerti soal politik dan hukumnya, tapi saya mau cerita dari sudut pandang penduduknya.
Ketika pertama kali diumumkan Riau menjadi tuan rumah PON XVIII, perasaan saya sebagai penduduk adalah senang, deg-degan dan penuh antusias. Berlebihan ya? Mendekati hari H, antusiasme itu berbalik sinis dan nyinyir karena melihat venue yang serba tak siap dan beberapa pengurus yang ditangkap KPK dengan tuduhan penyelewangan anggaran PON. Tekanan semakin menjadi ketika akun-akun twitter mulai mempergunjingkannya, bahkan anggota DPR yaitu Utut Adianto menyarankan PON dibubarkan saja karena memboroskan anggaran daerah.
Dari situ pandangan saya sebagai warga berbalik membela pelaksanaan PON XVIII Riau. Melihat pekerja yang siang malam berusaha keras menyelesaikan fasilitas fisik, rasanya malah sebal dengan yang cuma bisa nyinyir saja, meskipun itu juga dikarenakan ketidaktepatan jadwal pembangunan itu sendiri.
Mendengar berita-berita dan merasakan sendiri atmosfirnya itu bisa jadi saling bertolak belakang. Perlu teman-teman tahu, meski Riau adalah penyumbang devisa yang sangat besar bagi negara dari sektor migas dan perkebunan, tapi fasilitas umum yang ada sangat jauh ketinggalan dari kota-kota kecil di Jawa yang tidak menghasilkan apa-apa. PON setidaknya memaksa pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk membangun fasilitas umum yang lebih layak. Ini tidak hanya soal gedung olahraga, tapi juga jalan, bahkan yang sepele seperti lampu jalan.
Suatu hari, ketika pulang dari bepergian, anak-anak saya takjub melihat cahaya terang-benderang menerangi belakang rumah kami.
“Ada UFO!” teriak mereka.
Tidak seperti kota-kota di Jawa yang terang benderang, jalan-jalan di kota kami Pekanbaru, banyak yang tanpa penerangan jalan. Itupun hampir setiap hari listrik dirumah kami padam. Stadion yang terang benderang adalah sesuatu yang sangat mewah bagi warga Pekanbaru. Dan kami memilikinya sekarang, meskipun hanya sampai PON berakhir.
Tentu tak kami lewatkan menonton pertandingan di venue-venue PON. Gedung olarhraga yang banyak dikomplain atlit dan wartawan kami rasakan sebagai sesuatu yang tadinya mustahil kami miliki. Standar kami memang lebih rendah, karena dari tak ada menjadi ada di semua sektor, bukan hanya yang berhubungan langsung dengan PON. Bisa dibayangkan betapa besar dana yang keluar dan betapa sibuknya. Tapi kami ingin merasakan semua kemajuan yang seharusnya sudah kami punyai sebelumnya tapi tidak ada greget atau tuntutan untuk membangunnya.
Dua hari menjelang upacara penutupan PON XVIII, suasana berangsur sepi. Bis-bis besar yang mengangkut atlit berkurang. Tenda-tenda kaki lima sebagian sudah dibongkar. Twitter didominasi pilkada DKI. Rasa gembira itu berangsur surut, harus menata hati lagi untuk Riau yang seperti biasa, Pekanbaru yang apa adanya, Rumbai yang kembali gelap. Harapan akan keramaian dan gairah kehidupan kota masih dipupuk dengan sabar menunggu Pesta Olahraga Paralimpic setelah PON dan Pesta Olahraga Negara-negara Islam di tahun 2013. Salam olahraga!