Penulis: Dewi Yuwono

Lazimnya calon pengantin, biasanya selain mempersiapkan pesta, pasti mempersiapkan juga bulan madunya. Ya..bulan madu memang momen yang sangat spesial, karena itu hari-hari awal sepasang pengantin menjadi suami istri. Singapura, Thailand, sampai Turki biasanya menjadi tujuan favorit pengantin baru buat memadu kasih…hehehe

.

Source : Wikipedia

Tapi hal itu tidak terjadi pada saya dan suami, penugasan kami di Medan yang jauh dari kampung halaman kami di Bandung (oh iya kami satu kantor.. 😉 ), dan padatnya tugas kami sebagai auditor, jadi kami lebih konsen di persiapan pernikahan, dan LUPA merencanakan bulan madu… hehehe.

Kami baru menyadari hal itu di hari kedua pernikahan kami, akhirnya kami merencanakan bulan madu yang singkat,dua hari saja !!. Tentu saja dengan bulan madu ekspres kayak gitu, kami memilih tempat yang tidak terlampau jauh.

Perjalanan dimulai dengan naik kereta Harina dari Stasiun Purwakarta hari Senin sekitar pukul 22.00 WIB karena sebelumnya berangkat dari rumah mertua saya di Purwakarta. Kami naik kereta eksekutif dengan harga tiket Rp160.000,00, kondisi kereta bersih dan nyaman, sehingga tidur saya dan suami nyenyak sepanjang perjalanan malam tersebut dan hanya bangun untuk makan indomie rebus seharga Rp18.000 plus teh manis hangat.

Kereta berhenti di Stasiun Tawang pukul 05.00 WIB, pas sekali dengan waktu sholat subuh. Selesai kami sholat subuh di mushola stasiun, kami kembali ke stasiun untuk membeli tiket pulang hari Rabu pukul 20.30 malam. Selama kami menunggu loket tiket buka, kami diikuti bapak tukang becak yang merayu kami untuk naik becaknya. Bahkan waktu kami sarapan soto ayam di dekat stasiun, bapak itu tetap setia menunggu kami. Oh iya sarapan soto di dekat stasiun itu bikin kami keselek ketika membayar, bayangkan saja 2 nasi soto ayam plus 5 tempe dan 2 teh manis hangat hanya Rp15.000, sama dengan harga seporsi soto Medan.

Akhirnya kami terbujuk rayuan bapak tukang becak, dan naik becak dari stasiun ke hotel Santika di Jalan Pandanaran,yang merupakan pusat oleh-oleh Semarang, seharga Rp20.000,00 sama dengan ongkos taksi..hehehe. Tapi memang ada sensasi tersendiri, karena naik becak kami bisa menikmati Kota Tua Semarang di pagi hari dengan santai, karena memang untuk ke hotel kami harus melewati daerah tersebut, menyenangkan sekali

.

Saya dan suami di atas becak (sempat ya foto-foto..hihi)

Berhubung hari kerja, kamar hotel pun kami dapatkan dengan harga murah, untuk rate Rp750.000 kami dapatkan harga Rp550.000.  Sampai di kamar hotel, kami terserang kantuk yang luar biasa. Akhirnya kami mandi dan istirahat dulu sampai waktu sholat Dhuhur tiba. Kebetulan hotel Santika ini strategis sekali, selain dekat dengan pusat oleh-oleh, hotel ini juga dekat dengan Simpang Lima, pusat jajanan Semarang, Masjid Besar Kauman Semarang juga dekat dengan Mal Ciputra Semarang.

Hari Pertama

Setelah sholat Dhuhur di Masjid Kauman, kami jajan tahu gimbal di lesehan di luar masjid. Tahu gimbal ini mirip dengan gado2, tapi ada tambahan tahu,bakwan,udang dan kerupuk. Makan tahu gimbal dan es kopyor sambil lesehan rasanya nikmat sekali, apalagi kami ngobrol dengan sesama penikmat lesehan untuk menanyakan arah angkot dan jalan ke Gedung Lawang Sewu.

Lawang Sewu ternyata dekat, cukup naik angkot (saya lupa nomornya) satu kali, kami berhenti di Tugu Muda, di sana kami berkeliling berjalan kaki mulai dari Museum Mandhala Bakti, Gereja Katedral Semarang dan memutuskan untuk masuk Lawang Sewu.

Tiket masuk Lawang Sewu seharga Rp10.000 dan pemandu Rp30.000 jadi total Rp40.000, walaupun hari kerja tapi Lawang Sewu cukup ramai pengunjung.

Di Lawang Sewu kami berkeliling gedung, dan berfoto-foto tentu saja (sayang HP suami hilang, padahal hampir semua foto ada di sana). Gedung Lawang Sewu terlihat mulai serius dikelola oleh PT KAI, di sana sini terlihat upaya konservasi gedung tua tersebut agar bisa jadi cagar budaya.

Kami berfoto di salah satu bagian Gedung Lawang Sewu (Lihat banyaknya pintu)

Pulang dari Lawang Sewu kami Jalan – Jalan Sore menyusuri Jalan Pemuda,tentu saja tidak sekedar berjalan. Kami mampir di Istana Wedang, saya memesan sekoteng yang nikmat dimakan sore-sore, sedangkan suami memesan es leci longan yang segar banget. Kemudian kami mampir ke toko Oen, rencananya mau makan malam, tapi berhubung suami nanya dulu halal atau tidak dan ternyata sebagian masakan di sana tidak halal, kami tidak jadi makan, padahal saya sudah membayangkan mesan berbagai masakan Belanda yang lekker….. ;(.  Akhirnya kami makan lumpia semarang di tepat di samping Toko Oen, lumpia hangat plus es teh manis, pas banget untuk sore-sore.

Karena sudah malam dan capek jalan, kami naik becak ke Simpang Lima untuk mencari makan malam. Konsep Simpang Lima ini kreatif sekali, berbagai macam jajanan dikumpulkan di satu tempat, dengan tempat yang cukup nyaman. Di sana kami memesan Bakmie Jawa yang nyemek plus teh melati..hmmmm.

Simpang Lima,nikmat!

Hari Kedua

Hari kedua kami sudah harus checkout, padahal kami berencana ke Masjid Agung Semarang. Akhirnya kami menitipkan barang-barang kami di lobi hotel dan melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Semarang dengan naik taksi karena letaknya yang cukup jauh.

Masjid Agung Semarang sendiri merupakan masjid yang megah, selain Masjid di sini terdapat Islamic Centre. Arsitekturnya sendiri mengingatkan saya dengan Masjid Nabawi, terdapat payung raksasa di halaman majid, bentuknya persis seperti Masjid Nabawi di Madinah. Ada juga menara pandang di sini, namun karena waktu itu hujan besar kami tidak sempat ke naik ke atasnya.

Untuk pulang dari Masjid ini jarang sekali taksi dan angkot yang lewat, karena hujan kami terpaksa naik angkot apapun yang lewat dan berganti-ganti angkot untuk ke tujuan kami berikutnya.

Tujuan kami berikutnya adalah Mall Paragon..hahaha…ujung-ujungnya tetep ya ke Mall juga. Mall ini tidak terlalu besar tetapi cukup megah dan lengkap, untuk makan siang kami mencicipi Restoran yang tidak ada di Medan dan Bandung. Saya lupa nama persisnya tapi sounds like Bee Restaurant, pokoknya restoran masakan jepang murah meriah yang interiornya serba kuning. Saya dan suami memesan menu yang sama, bento unik dan teriyaki yang enak, saya juga memesan puding strawberry yang enak sekali. Layak untuk dicoba banget semua menunya.

Kalau belum bawa Bandeng belum ke Semarang kayaknya, sepulang dari Paragon kami naik becak ke Pusat Oleh-Oleh Bandeng Juwana. Banyak sekali oleh-oleh khas disana, namun karena namanya juga Bandeng Juwana, kami lebih tertarik membeli Bandeng Presto rasa original dan teriyaki. Pelayanannya cepat, efisien dan bandeng dikemas dengan rapih sehingga bau amis tidak tercium dari kardus.

Karena kereta kami jadwalnya malam, sebelum ke stasiun kami mampir lagi ke Simpang Lima sekaligus mengambil koper di hotel..hehe..kami benar-benar ketagihan jajan di sana.

Last night di Semarang

Puas jajan di Simpang Lima, kami mengejar kereta, kali ini naik taksi, dan ternyata keramahan kota Semarang ternyata tidak hanya sampai Simpang Lima. Kami baru mengetahui kalau di Stasiun Tawang ada hiburan dari pemusik lokal setempat, dengan berbagai macam jenis lagu yang enak didengar..lovely!!

Merdu mendayu di Stasiun Tawang

Bulan madu singkat kami ternyata sangat memuaskan, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri (dan irit tentu saja),banyak sekali tempat – tempat lokal yang menyenangkan untuk dikunjungi. Saya dan suami tertidur nyenyak sepanjang perjalanan pulang, selain karena banyak berjalan kaki dan lelah tentu saja, kami juga sangat senang bisa merefresh pikiran kami di Kota Semarang.

It’s really two fine days, dan kami mulai berencana akan ke kota-kota lain di Indonesia.

Ayo kita hidupkan local tourism di Indonesia!!! (kayak slogan Departemen Pariwisata yak?) 😉