Sebelum nikah, saya sebeeeelll banget sama prinsip bahwa istri itu melayani suami. Asli, saya gak bisa ngebayangin kalau tiap hari harus tunduk sama suami, mengurus printilan ini itu sementara si suami tinggal duduk manis lalu semuanya beres. Setelah saya nikah, saya makin sebel sama prinsip itu, hehehe…
Sebenernya bukannya saya gak mau mengurus suami, tapi entah kenapa kata ‘melayani’ itu gak enak didengar kuping saya. Kesannya istri harus menurut apapun perintah suaminya & mengerjakannya dengan serba sempurna. Untungnya, suami saya bukan orang yang butuh apa-apa harus dilayani. Si suami sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri: mulai dari ngeberesin barang pribadi sampai kerjaan rumah tangga seperti cuci baju, masak, ngepel bukan hal yang aneh buat dia. Dia juga tahu banget tabiat saya yang gak suka terlihat ‘lemah’ dari laki-laki.
Ketika tinggal berdua di Jepang, kami sepakat membagi kerjaan rumah tangga. Siapa yang punya waktu, dia yang mengerjakan. Dalam urusan anak apalagi, kami biasa saling membantu. Kalau mau menyuruh, kami bilang ‘tolong’. Kalau dibantu, kami bilang ‘terima kasih’. Nada suaranya kami usahakan santai, kadang sambil ngerayu-rayu. Nyaris gak ada pembagian tugas dengan alasan karena saya yang istri & dia yang suami. Kecuali menyusui bayi yang sudah pasti cuma saya yang bisa, hehe.
Saya sempat kaget ketika main ke rumah teman, saya lihat si suami selalu menyuruh-nyuruh istrinya. Habis makan, ia suruh istrinya ambilkan minum & isikan gelas. Kalau ada cemilan, ia suruh istrinya juga yang ambil. Bahkan waktu istrinya lagi duduk di depan TV ngobrol sama saya, ia suruh istrinya nyiapin snack favoritnya, padahal si suami lagi di meja makan! Ya ampun, saya bengong.. apa susahnya si suami ambil sendiri piringnya, lalu ambil sendiri snacknya di kulkas, yang jaraknya jelas lebih deket dari kursinya daripada dari tempat istrinya nonton TV. Si istri sempat mengeluh, tapi suaminya bilang “kamu dong..” dengan agak tinggi sambil nyureng. Akhirnya si istri berdiri lalu ‘melayani’ si suami.
Di tempat teman lain, saya lihat juga perangai suami yang selalu ingin dilayani istri. Ceritanya waktu itu kami janjian pergi ke suatu tempat. Si suami nyuruh istrinya menyiapkan segala keperluan: mulai dari uang sampai perlengkapan pribadi suaminya, sementara si suami sambil nunggu sibuk main game! Astagaaa! Rasanya gatel banget pengen nyuruh suaminya bantu istrinya, tapi saya gak mau ikut campur urusan mereka.
Cuma saya jadi mikir… ini apa saya yang aneh yah, apa hubungan suami-istri memang seharusnya seperti itu –istri mengerjakan semuanya untuk suami? Istri pelayan suami?
Entahlah. Mungkin gak ada yang ‘seharusnya’ dalam hubungan sosial suami-istri. Semuanya tergantung kesepakatan & komunikasi keduanya. Ada yang suka istrinya di rumah, mengurus keperluan suami & anak-anak.. ada yang suka istrinya kerja supaya wawasannya tetap luas (dan double income hihihii). Ada istri yang senang direpotkan suami, karena merasa selalu dibutuhkan… ada juga yang ingin semuanya sama rasa sama rata. Selama keduanya ikhlas, gak ada emosi yang dipendam, atau perasaan yang ditahan-tahan, rasanya memang gak ada yang salah.
Tapiii bukannya sekarang jamannya family man? Laki-laki yang ringan tangan membantu keluarga? Grrrr (sudah… sudaaah…).
Sama2 yang menjalani ya sama2 juga bertugasnya. Beruntung kita2 yang suaminya mau turut mengerjakan urusan rumah. Kasihan para emak yang selalu harus melayani tetek bengek kecil2 keperluan suaminya. Ada lho yang makan harus yang panas. Maunya makan kalo saat pulang (siang) masakan harus baru dimasak, gelas harus diambilkan, piring gak boleh bertukar. Hhhhh