Senang rasanya melihat seorang anak kecil akhirnya bisa mandiri. Dari yang masih belajar berjalan akhirnya bisa berjalan sendiri. Bertahap setelah itu mulai banyak kemampuan yang dimiliki seorang anak untuk mandiri semisal bisa makan sendiri tanpa disuapi, bisa buang air kecil sendiri, bisa mandi sendiri dan bisa memakai baju sendiri. Tapi tentu semua itu ada awalnya, ada tahap-tahap yang memang harus dilewatinya.

Setiap orang tua akan menerapkan system yang berbeda, melatih kemandirian anak tentu dengan cara yang berbeda pula. Aku sendiri secara bertahap mulai menerapkan kemandirian pada anakku setelah berumur lebih dari tiga tahun. Tentu dimulai dari hal yang kecil semisal buang air kecil di tempatnya dan mulai makan sendiri tanpa disuapi. Setelah berumur lebih dari empat tahun mereka belajar untuk mandi sendiri dan mulai bisa cebok sendiri. Mengajarkan anak mandiri memang perlu waktu, dan awalnya memang aku terus mendampingi mereka saat belajar sesuatu dan perlahan – lahan mulai melepasnya jika mereka sudah bisa melakukannya sendiri.

Berbicara tentang kemandirian ini, aku mengenal sebuah keluarga, yang menurutku pribadi sih bukan melatih melainkan “menyuruh”. Anaknya, sebut saja Nina, masih berumur 3 tahun ketika memiliki seorang adik. Sedikit banyak perhatian mamanya beralih pada si adik. Nina yang biasanya ceria ini menjadi lebih pendiam. Setelah adiknya mulai berumur 1 tahun, Nina mulai “dilatih” menjaga si adik. Menyuapi adiknya, memakaikan baju dan celananya dan mengajak bermain adiknya.  Dan Nina juga sudah bisa mengurus dirinya sendiri, mulai bangun, mandi, memakai baju sendiri dan menyiapkan buku pelajaran sendiri.Aku sangat kagum dengan Nina, karena dia sangat sayang dengan adiknya ini dan sudah mandiri di usia yang belia.

Tetapi yang membuatku geleng-geleng kepala adalah si Nina ini diumurnya yang sekarang baru 5 tahun, sudah “disuruh” untuk mengurus baju-baju kotor, menyapu dan juga membersihkan pispot bekas adiknya bab. Keadaan seperti itu mungkin bisa saja terjadi untuk keluarga yang mamanya sedang sibuk atau repot dengan pekerjaannya, sehingga sang anak dimintai tolong untuk membantu, karena memang dia tidak mempunyai PRT. Tapi dalam kasus yang kulihat sendiri, si mama tidak sedang dalam keadaan sibuk, malah asyik bersantai nonton tv, terkadang asyik baca novel. Gemes banget deh lihat tingkah si mama ini. Dan keadaan ini tidak cuma dua tiga kali, tapi setiap hari. Jadi si Nina kecil ini bisa dikatakan adalah asisten rumah tangganya.

Saat aku berkata,”Kasihan, masih terlalu kecil.” Si mama dengan santai menjawab, ”Tidak apa-apa, biar mandiri.” Yah, itulah, tiap keluarga beda pemikiran, beda pula dalam menerapkan kedisiplinan dan kemandirian buat anaknya. Memang sih, si Nina terlihat sangat mandiri dan dewasa jika dilihat umurnya yang masih belia. Jadi memang hal postifnya juga ada. Tapi entahlah, buatku masih terlalu dini saja dia “dilatih” untuk hal-hal yang semestinya belum semestinya dikerjakannya. Untuk anak usia balita seperti itu, masih perlu waktu untuk bermain. Bermain sambil belajar, karena dunia anak-anak tidak bisa diulang lagi. Waktu tidak bisa dibuat mundur lagi. Karena itulah orang tua harus bijaksana memilah setiap hal yang diajarkan buat anaknya, menimbang postif dan negatifnya, karena kepribadiannya di masa depan sedikit banyak akan dipengaruhi dari apa yang dialaminya saat kecil dulu.

Aku sendiri masih harus terus dan terus belajar, menjadi orang tua yang bijaksana bagi anaknya, karena terkadang “praktek itu lebih sulit dari sekedar mengatakannya saja”. Smoga kita semua bisa memberikan yang terbaik bagi masa depan anak-anak kita. Salam…