Penulis: Mak Gian Pradipta

Halo emaks, pernah nggak tiba-tiba ditolong orang yang tidak dikenal, tanpa pamrih? Sebagai perempuan, tentu pernah berada dalam kondisi kesulitan yang menarik simpati orang. Saya mau share beberapa pengalaman ditolongin orang nih:

–          Untuk pulang sekolah waktu SMA, saya kadang dua kali naik kopaja. Ketika turun dari Kopaja pertama, saya sadar bahwa sudah tidak ada uang sama sekali! Sebenarnya jarak ke rumah sudah lumayan deket, tapi kalau jalan capek juga. Saya menunggu di depan toko sambil sesekali ngobrol dengan satpam yang sedang berjaga. Dia bingung kenapa saya gak naik bis tujuan, saya jawab karena cari yang penuh supaya bisa ngumpet. Di dekat situ juga ada anak penjual koran yang ikut bercanda dengan si satpam. Tiba-tiba, si satpam memberi saya uang seribuan sambil nyuruh naik bis. Saya berterima kasih lalu naik ke bis yang datang kemudian. Gak disangka, ketika saya sudah di atas bis, si anak penjual koran ngasih duit ke kondektur sambil bilang, “ini untuk mba yang itu..” menunjuk ke saya. Saya kaget, lalu memberi gestur terima kasih tapi sudah membayar. Kalau ingat cerita ini, saya suka gak enak sendiri dengan kebaikan si satpam dan anak penjual koran. Jadi merasa berutang sampai sekarang.

–          Ketika di Semarang, saya banyak menghabiskan waktu jalan kaki berdua anak yang duduk di stroller. Satu kali di Simpang Lima saya kesulitan mengangkat stroller untuk naik ke trotoar yang tinggi. Pada saat bersamaan, lewatlah gerombolan anak muda di trotoar. Gak disangka, salah satu pemuda itu menawarkan bantuan untuk mengangkat stroller. Penawaran yang sederhana tapi benar meringankan beban saya. Sebenernya bukan sekali itu saja saya dibantu di Semarang. Para pedagang kakilima seringkali buru-buru meminggirkan kursinya ketika saya mau lewat. Warga juga dengan senang hati memberi petunjuk jalan pada saya.

–          Kalau yang ini terjadi ketika saya mau menyusul ibu di Lippo Mall Kemang. Saya mendorong stroller dan tersadar kalau di areal restoran, hanya ada tangga tanpa elevator. Tiba-tiba, di belakang saya muncul bapak-bapak muda yang seketika bertanya, “Ibu mau naik? Sini biar saya bantu,” Saya berusaha menolak karena merasa bisa mengangkat stroller Maclaren yang ringan, tetapi si bapak memaksa dan tetap mengangkat si stroller. Ternyata berat juga sih kalau diangkat, untung ditolong hehehe…

Masih ada beberapa pengalaman ditolong orang yang berkesan, tapi 3 yang di atas yang suka diingat-ingat sampai sekarang. Saya doakan orang-orang yang penolong selalu dilindungi Tuhan.

Bagaimana dengan pengalaman emak?